alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

Work From Home Diperpanjang Sampai 21 Mei

MATARAM-Masa kerja dari rumah untuk ASN Pemkot Mataram diperpanjang. ”Sampai 21 Mei. Tapi untuk yang pelayanan bisa tetap masuk seperti biasa,” kata Kepala Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Mataram Baiq Nelly Kusumawati, kemarin.

Dengan perpanjangan sampai 21 Mei, artinya ASN Pemkot Mataram bisa bekerja dari rumah pada bulan Ramadan. Meski ada kebijakan work from home (WFH), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tetap mengeluarkan Surat Edaran (SE) terkait jam kerja selama Ramadan.

Nelly mengatakan, SE tersebut akan dibreakdown Bagian Organisasi. Untuk dibentuk regulasi terkait pelaksanaannya di Kota Mataram. Sementara BKPSDM, nantinya akan memantau pelaksanaannya.

”Itu untuk yang jam kerjanya,” ujarnya.

Dalam SE MenpanRB Nomor 51 Tahun 2020, pemerintah yang memberlakukan lima hari kerja, ASN mulai bekerja dari pukul 08.00 Wita. Dari Senin hingga Jumat. Kemudian istirahat pukul 11.30 Wita, khusus di Hari Jumat.

”Pulangnya jam 15.00 untuk Senin sampai Kamis. Dan jam 15.30 di hari Jumat. Aturannya sama seperti tahun kemarin,” tutur Nelly.

Meski sama seperti tahun lalu, pola kerja ASN pada tahun ini dinilai bisa lebih fleksibel. Bukan saja karena kebijakan WFH. Tapi juga keberadaan pandemi virus Korona. Nelly mengatakan, aturan jam kerja saat Ramadan, bisa diberlakukan untuk ASN di bidang pelayanan publik.

Untuk BKPSDM Kota Mataram, misalnya, mereka akan bekerja hanya sampai pukul 14.00 Wita saja. Tanpa istirahat, selama Ramadan. Juga tidak bekerja dari rumah. ”Tetap masuk kerja. Tentu dengan physical distancing ya,” katanya.

Nelly melanjutkan, ada opsi sebelumnya untuk memberlakukan kerja shift. Bergantian masuknya. Tapi berdasarkan kesepakatan, ASN di BKPSDM Kota Mataram memilih untuk tetap masuk setiap hari.

”Untuk pelayanan juga kan dilakukan online. Tidak face to face,” jelas Nelly.

Menurut dia, kebijakan kerja ketika Ramadan diserahkan sepenuhnya kepada pimpinan OPD. Meski ada SE dari MenpanRB. Apakah pimpinan OPD memberi keleluasaan untuk WFH. Atau dengan sistem shift. Satu hari masuk, satu hari kerja dari rumah.

”Disesuaikan. Tergantung kesepakatan di internal saja. Yang pasti sudah ada petunjuk dari pemerintah pusat terkait bekerja saat Ramadan,” tandas Nelly.

Sementara itu, Direktur RSUD Kota Mataram dr. HL Herman Mahaputra mengatakan, aturan WFH tidak berlaku untuk tenaga kesehatan. Mereka tetap masuk seperti biasa, setiap hari. Tentunya dengan sistem shift.

”Disesuaikan dengan jadwal jaganya,” kata dia. (dit/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Novi dan Dinasti Politik Zulkieflimansyah di Sumbawa

Dewi Noviany membantah keluarganya tengah membangun dinasti politik di NTB. Adik kandung  Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu mengklaim proses pencalonannya telah melalui mekanisme penjaringan parpol yang adil.

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks