alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

Indonesia Dorong Penerapan Teknologi, Hadirkan Pendidikan Berkualitas

JAKARTA – Pemerintah Indonesia mendorong pembahasan 4 isu prioritas selama pertemuan Education Working Group G20. Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20 Iwan Syahril mengatakan dalam pertemuan ketiga, isu yang dibahas adalah Solidarity and Partnership dan the Future Work Post Covid-19.

“Pertama itu tentang universal quality education atau pendidikan berkualita suntuk semua,” kata Iwan, Kamis, (23/6).

Indonesia, jelas Iwan, menekankan pentingnya menguatkan komitmen mencapai pendidikan berkualitas bagi semua dalam mencapai SDGs. Tak kalah penting komitmen melindungi kelompok rentan terhadap learning loss.

Kelompok rentan didefinisikan sebagai kondisi sosial ekonomi, geografis dan parameter lainnya seperti gender. Indonesia mendorong negara-negara anggota untuk memproteksi kelompok ini.

Indonesia juga mendorong pembahasan penerapan digital teknologi dan education. Tema ini dipilih melihat disrupsi akibat pandemi yang terjadi, dimana banyak pemangku kepentingan, utamanya bidang pendidikan mulai mengadopsi teknologi.

Sebagaimana arahan Presiden Jokowi yang menugaskan Kementerian Pendidikan Tinggi agar mendorong penggunaan teknologi untuk memecahkan masalah akses, kualitas dan pemerataan pendidikan.

Ketiga adalah solidarity dan partnership. Menurutnya, tema ini menjadikan keunikan presidensi Indonesia, utamanya di Education Working Group. Sebab Indonesia mengusung kearifan lokal yakni gotong royong. Ke dunia internasional, secara khusus kepada negara-negara anggota dan undangan.

Baca Juga :  Tarif Listrik 75 Juta Pelanggan PLN Rumah Tangga Tidak Naik

“Alhamdulillah, kita didukung dengan luar biasa. Bahkan gotong royong menjadi salah satu frame work yang digunakan untuk pemulihan pendidikan,” sebutnya.

Keempat, Iwan menyampaikan, isu seputar masa depan dunia kerja pasca pandemi atau The Future Work Post Covid-19. Tema ini diangkat setelah melihat disrupsi yang terjadi semakin cepat dan masif selama pandemi.

Tim Juru Bicara (Jubir) G20, Maudy Ayunda mengatakan masalah pendidikan merupakan isu yang sangat kompleks. Ini dikatakan Maudy ketika ditanya penyebab adanya kesenjangan dan rendahnya tingkat pendidikan di beberapa wilayah di Indonesia.

Menurutnya, performa seorang anak dalam pendidikan tergantung pada banyak faktor. Seperti orang tua, guru, motivasi diri. Selain itu, tergantung pada sumber daya penunjang lainnya seperti sekolah, akses terhadap teknologi dan informasi.

”Wheather or not seorang anak itu perform, itu dependent on tadi stakeholder guru, orang tua, motivasi diri sendiri, tapi juga resources, sekolah, teknologi, akses terhadap informasi dan sebagainya,” ungkap Maudy.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Dunia Usaha Optimis Sikapi Penyempurnaan UU Cipta Kerja

Maudy menegaskan, rendahnya mutu pendidikan seseorang tidak bisa dilihat dari satu faktor saja. Namun belajar dari kondisi selama pandemi covid-19, hal yang diperlukan adalah komitmen.

Sehingga, harap Maudy, menjadi pekerjaan rumah bersama saat ini adalah bagaimana membangun budaya mau belajar. Kemauan bukan hanya pada anaknya saja, namun juga pada stakeholder di sekitarnya yang ingin melayani anak tersebut.

“Yang harus dibangun adalah budaya kemauan itu tadi. Dan kemauan itu bukan hanya di anaknya, tapi juga di stakeholder. Gimana caranya memberi support dan customize juga karena setiap anak itu tidak ada yang sama,”ungkapnya.

Maudy juga mengajak anak-anak muda Indonesia untuk update mengikuti pembahasan G20, utamanya di sesi Education Working Group. Sebab pada sesi ini, katanya, banyak isu-isu penting yang dibahas. “Presidensi G20 itu mengangkat topik-topik yang sangat relevan. Walaupun areas of expertise-nya itu seperti education dan lain-lain kadang-kadang terkesan sangat macro,” tutupnya. (dit)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/