Sabtu, 4 Februari 2023
Sabtu, 4 Februari 2023

Dikhawatirkan Masih Ada yang Korban Tertimbun Gempa Cianjur

JAKARTA-Peristiwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 SR terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11) sekitar pukul 13.21 WIB. Pusat gempa bumi tersebut tepatnya berada di 10 Km barat daya Kabupaten Cianjur dengan kedalaman 11 km. Gempa bumi yang terjadi tersebut juga dirasakan hingga ke beberapa daerah. Di antaranya yakni Bandung dan Jakarta.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, gempa bumi yang terjadi tersebut merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar Cimandiri. Sehingga tentunya tidak berpotensi terjadinya tsunami. Namun, dengan kekuatan tersebut, memang sangat berpotensi merusk bangunan-bangunan. Khususnya bangunan yang dibangun tidak tahan gempa.

“Karena itu diharapkan bagi masyarakat yang rumahnya sudah mulai rusak atau retak sebaiknya untuk sementara tinggal di luar dulu,” ungkapnya.

Biasanya gempa tersebut juga diikuti gempa-gempa kecil setelahnya. Berdasar hasil monitoring BMKG, hingga pukul 14.53 setidaknya terjadi 27 kali gempa susulan. Yakni dengan magnitudo terbesar 4 SR dan terkecil 1, 8 SR.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menambahkan, bahwa wilayah Sukabumi Cianjur, Lembang, Dukabumi, Purwakarta, dan Bandung secara tektonik merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks. Disebut seismik aktif karena berdasar monitoring BMKG kawasan itu menunjukkan memang sering sekali terjadi gempa dengan berbagai variasi magnitudo dan kedalaman. Terkait kompleksitas daerah itu memang daerah jalur gempa yang cukup aktif seperti keberadaan cesar padalarang, lintang, dan masih banyak cesar-cesar minor lainnya yang berada di wilayah tersebut.

Kompleksitas tektonik tersebut, lanjut dia, berpotensi memicu terjadinya gempa kerak dangkal. Faktor semacam itu juga menjadikan kawasan tersebut menjadi kawasan rawan gempa secara permanen. Dengan karakteristik gempa kerak dangkal, gempanya tersebut juga tidak harus berkekuatan besar untuk menyebabkan kerusakan.

“Gempanya rata-rata dangkal sekali ya kurang dari 10-15 Km, tapi kekuatan  magnitudo 4, 5, 6 SR itu pun bisa menimbulkan kerusakan yang signifikan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan, berdasar data terakhir yang dia terima, jumlah korban meninggal dunia sudah mencapai lebih 200 orang. Para korban meninggal itu berada di RSUD Kabupaten Cianjur. Kemudian, untuk korban luka-luka jumlahnya kurang lebih ada 700 an. Korban-korban tersebut rata-rata keruntuhan bangunan.

“Mereka ini rata-rata keruntuhan bangunan. Karena inikan siang hari kejadiannya. Kemudian, untuk data korban ini juga masih akan terus berkembang,” jelasnya.

Baca Juga :  Aksi Korporasi BRI 2022, Terbitkan Green Bond Hingga Sebar Dividen Interim

Selain korban jiwa, dikatakan Suharyanto, benca tersebut juga turut merusak ratusan bangunan. Baik berat maupun ringan. Tercatat, hingga saat ini sudah ada 343 rumah yang rusak berat. Kemudian ,1 unit pondok pesantren, 1unit rumah sakit umum daerah Cianjur, 4 unit gedung pemerintah, 3 unit fasilitas pendidikan, dan 1 unit sarana ibadah. Termasuk 1 unit toko dan 1 unit kafe serta ada jalan yang terputus akibat longsor.

“Lokasi yang terdampak parah itu semuanya di Kabupaten Cianjur. Yakni masing-masing di Kecamatan Caluku, Kecamatan Cianjur, dan Kecamatan Cugenang,” terangnya.

Dikatakan Suharyanto, pihaknya memastikan untuk dapur umum juga langsung berdiri di loaksi kejadian bencana. Baik yang dioperasikan oleh tim BPBD maupun TNI dan Polri. Selain itu, pihaknya juga akan mengirim logistik. Khususnya logistik siap pakai yang bisa langsung dikonsumsi oleh masyarakat. Untuk tahap pertama, logistik yang disiapkan senilai Rp 500 juta. Kemudian dana siap pakai yang bisa dioperasionalkan oleh Bupati Cianjur sebesar 1 miliar rupiah untuk mengaktivasikan posko.

“Jika memungkinkan kami akan menggunakan satu helikopter yang akan kami standby kan di Cianjur. Ini juga gunanya untuk mendistribusikan logistik khususnya kepada tempat-tempat yang terisolir karena tadi ada jalan yang putus,” ujarnya. Dalam masa tanggap darurat ini pihaknya akan memastikan masyarakat Kabupaten Cianjur dan daerah lainnya yang terdampak becana semua kebutuhan dasarnya tertangani dengan baik.

Suharyanto pun berharap masa tanggap darurat dalam kejadian bencana gempa bumi ini tidak berlangsung terlalu lama, cukup satu atau dua minggu selesai. Hal tersebut agar dapat masuk tahap rehabilitasi dan konstruksi. Sebab, semakin lambat tahap tanggap darurat maka semakin lama masyarakat terdampak yang tinggal di pengusngsian. Sehingga akhirnya tambah semakin menderita.

“Tinggal di pengungsian itu sebagus apapun pasti tidak enak, lebih enak tinggal di rumah. Makanya rumah-rumahnya segera akan kita bangun dan pembangunan itu dapat dilakukan saat masuk tahap rehabilitasi dan konstruksi,” bebernya.

Selain itu, pihaknya juga meyakinkan pada masyarakat bahwa rumah-rumahnya yang terdampak baik rusak berat, rusak ringan, dan rusak sedang akan dibangun kembali oleh pemerintah. Kemudian, rumah yang akan dibangun oleh pemerintah adalah rumah tahan gempa. Sehingga jika ada gemapa kembali di kemudian hari rumah-rumah tersebut nantinya memiliki dampak yang kecil terhadap gempa.

“Justru yang menjadi PR semua lembaga yang terkait penanggulangan bencana ini terkait gempa justru rumah-rumah yang sudah berdiri sekarang yang dibangun tidak berdasarkan tahan gempa sehingga kalau ada gempa mudah rusak,” pungkasnya.

Baca Juga :  Cepat Tanggap, BRI Salurkan Bantuan Untuk Warga Terdampak Gempa Cianjur

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini yang tengah bertugas di Gunung Kidul telah menginstruksikan sentra-sentra Kemensos yang ada di Bandung, Sukabumi, Bogor, Bekasi, dan Jakarta untuk mengerahkan bantuan. Ia juga mengaktivasi Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang ada di wilayah  Jogjakarta, Solo, dan wilayah terdekat, untuk ikut membantu.

“Semua kita kerahkan ke sana. Karena kita khawatir, mungkin ada yang masih tertimpa reruntuhan. Saya akan sebar ke 7 kecamatan yang informasinya kondisinya parah,” tuturnya.

Atas arahan tersebut, Unit Pelayanan Teknis (UPT) Sentra Terpadu Inten Soeweno telah bergerak mengirimkan 5 mobil berisi bantuan logistik untuk membantu warga terdampak. Bantuan tersebut di antaranya, makanan siap saji 920 paket, makanan anak 696 paket, sandang dewasa 579 paket, selimut 559 paket, kasur merah 492 paket, food ware 3 paket, peralatan dapur keluarga 13 paket, kids ware 190 paket, dan family kit 190 paket.

Selain itu, bantuan dari gudang-gudang induk bantuan dan ke sentra-sentra juga sudah diproses untuk disalurkan. Misalnya, Gudang Induk Bekasi berupa tenda keluarga 100 unit, velbed 50 unit, makanan siap saji  2000 paket, dan kasur 50 lembar.

Lalu, dari Gudang Sentra Wyata Guna telah disalurkan bantuan berupa tenda serbaguna 1 unit, tenda keluarga 5 unit, matras 50 unit, kasur 20 lembar, dan air mineral 20 dus. Gudang BBPPKS Lembang, berupa tenda keluarga 34 unit, tenda serbaguna 4 unit, pampesr 402 paket, makanan siap saji 1000 paket, makanan anak 500 paket, dan kasur 400 lembar.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat Jusuf Kalla (JK) menyampaikan relawan PMI sudah turun ke lapangan membangu penanganan korban gempa Cianjur. Dia mengatakan relawan PMI bersama tim dari BNPB serta relawan lainnya menjalankan proses tanggap darurat dan rehabilitasi pasca gempa.

’’Menyampiakan duka cita atas korban gempa di Cianjur. Juga telah meminta PMI Jawa Barat dan Cianjur untuk segera turun ke lapangan membantu korban dan rehabilitas rumah masyarakat,’’ tuturnya. Menurut JK sejumlah rumah warga rusak akibat guncangan gempa yang tejrai sekitar pukul 13.21 WIB itu.

Mantan Wakil Presiden itu juga menyampaikan himbauan supaya warga setempat tetap waspada. Kemudian juga terus memantau perkembangan dan mengikuti himbauan resmi dari BMKG atau BNPB. Selain itu wraga juga diminta untuk sedapatnya saling membantu menghadapi dampak dari bencana itu. (gih/syn/lyn/wan/mia/JPG/r6)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks