alexametrics
Senin, 28 September 2020
Senin, 28 September 2020

Berlebaran Bareng Pasien Covid-19 : Video Call, Nonton Drama Korea sampai Makan Cokelat

Lebaran tahun ini sangat berbeda. Bagi para tenaga kesehatan (nakes), mereka tidak bisa meninggalkan rumah sakit. Tahun sebelumnya mereka masih berkesempatan kumpul dengan keluarga. Para nakes harus menghabiskan Lebaran dengan merawat pasien Covid-19.

HARI Raya Idul Fitri tinggal sehari. Namun, hal itu tidak mengubah keadaan pandemi Covid-19. Kasus pasien korona baru terus meningkat. Rumah sakit rujukan hampir selalu penuh. Bagi tenaga kesehatan (nakes), pada Lebaran kali ini mereka tidak bisa menikmati ketupat dan opor ayam bersama keluarga. Mereka harus menghabiskan hari raya di rumah sakit dan merawat pasien-pasien Covid-19 yang angkanya belum juga turun.

Mengingat hal itu, Ainur Rosyida, salah seorang perawat di Rumah Sakit Husada Utama (RSHU), tidak bisa menahan tangis saat ditemui di ruang perawatan pasien Covid-19 di lantai 8 pada Selasa (19/5). Perempuan 25 tahun itu berusaha tetap tegar dan kuat dengan situasi pandemi Covid-19 saat ini. ’’Saya terakhir bertemu orang tua Januari lalu. Setelah itu, saya belum bisa bertemu lagi,’’ kata perempuan asal Tuban tersebut.

Tangisnya pun pecah ketika berbincang tentang keluarga. Kerinduan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga saat Lebaran tidak terbendung lagi. Ida, sapaan karib Ainur Rosyida, itu terus mengusap air matanya dengan menggunakan tisu yang digenggam sejak awal berbincang dengan Jawa Pos. ’’Tadi saya video call, bilang tidak bisa mudik,’’ tambahnya.

Ida memilih tidak mudik. Selain memang tengah bertugas menjadi perawat pasien Covid-19, dia tidak ingin mengambil risiko saat di kampung dan berkumpul dengan keluarga. Sebab, setiap orang memiliki potensi membawa virus meski tidak ada gejala atau yang kerap disebut carrier. ’’Seandainya saya memang diberi libur saat Lebaran nanti, saya memilih di kos saja, tidak mudik,’’ paparnya.

Saat ini Ida bertugas merawat pasien-pasien yang berstatus orang tanpa gejala (OTG). Pada Selasa (19/5), di ruang perawatan Covid-19 lantai 8 terdapat lebih dari 50 pasien. Selain Ida, ada lima perawat lain yang bertugas merawat pasien-pasien tersebut. ’’Sebelumnya saya merawat pasien di ruang inap biasa,’’ katanya.

Sejak awal Mei lalu, RSHU membentuk poli khusus Covid-19. Saat itulah Ida bersama beberapa perawat lain ditugaskan untuk fokus merawat pasien-pasien yang terpapar virus korona baru. ’’Kalau berpikir takut. Iya, saya takut. Apalagi, sudah banyak kejadian tenaga kesehatan yang meninggal,’’ ungkapnya.

Hampir setiap hari dia tiba di rumah sakit pukul 06.00. Kemudian, dia pulang pukul 15.00. Sistem kerja memang dibagi beberapa sif. Ida juga harus menggunakan alat pelindung diri (APD) berlapis-lapis. Mulai hazmat, apron, dan dobel jas hujan, masker, kaca mata googgle, face shield, sampai bot dengan dilapisi kantong plastik. ’’Kalau capek, biasanya saya alihkan dengan nonton drama Korea (drakor), makan cokelat, dan telepon rumah,’’ tuturnya.

Bukan hanya Ida, Wiji Trisnowati, salah seorang transporter medik RSHU, juga terpaksa tidak mudik saat Lebaran. Perempuan 32 tahun tersebut sejak awal tahun tidak bisa bertemu dengan anak sulungnya yang tinggal bersama sang nenek di Blitar. Sebab, sejak Indonesia dinyatakan pandemi, dia diperbantukan untuk menjadi transporter medik di ruang isolasi khusus (RIK) Covid-19. ’’Saya juga membantu perawat untuk mengantar makanan, pakaian, minuman langsung ke pasien karena tenaga kesehatannya juga terbatas,’’ ucapnya.

Wiji mengatakan, Lebaran tahun ini mengajarkan untuk sabar dan ikhlas. Sebab, dia tidak bisa bertemu anaknya sementara waktu. ’’Biasanya sebulan sekali saya pulang kampung. Paling lama tiga bulan sekali,’’ katanya. Meski begitu, seluruh keluarga pun memahami kondisi yang dialami Wiji. Termasuk anak sulungnya. Hal itu menguatkan Wiji dalam menjalani tugas-tugasnya ketika menangani Covid-19. ’’Biasanya tugas saya hanya mengambil obat, alkes di gudang, hasil radiologi, hasil laboratorium, dan menurunkan berkas-berkas asuransi,’’ ucapnya.

Sapa Keluarga, Andalkan Video Call

Pengemudi ambulans menjadi salah satu garda terdepan selama pandemi ini. Mereka pun harus mempersiapkan diri untuk tidak bersama keluarga selama Lebaran. ’’Di momen Lebaran nanti, mereka juga tidak bisa bertemu dengan keluarga. Ada tugas yang menanti. Ini memang berat. Tapi, mau tak mau, nakes ambulans harus stand by,’’ kata Kepala Unit Kendaraan RSUD dr Soetomo Terza Novandra.

Mereka juga memilih untuk sebisanya membatasi kontak dengan keluarga. Jika pulang ke rumah, mereka melakukan isolasi mandiri dan tidak mau dekat-dekat dengan sang buah hati. Bahkan, Ilham Dwi Cahyono, salah satu sopir ambulans RSUD dr Soetomo, menyatakan sudah tidak serumah lagi dengan anak dan istrinya. Padahal, mereka masih tinggal di Surabaya. ’’Kami sendiri yang sadar. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan,’’ katanya. Selama pandemi dia banyak berkomunikasi dengan keluarga lewat video call atau telepon. Menurut dia, selama bertugas saat pandemi ini, dia melakukan isolasi mandiri dan tidak mau dekat-dekat dengan buah hatinya. ’’Musuh yang kami lawan ini tidak terlihat secara kasatmata. Jadi, mencegah adalah cara yang paling mungkin dilakukan agar terhindar dari persebaran Covid-19 ini,’’ tuturnya.

Sigit Bantomo Putro, pengemudi ambulans lain, menyatakan mengantar ratusan pasien sejak virus korona merebak. Dia merasa awalnya takut dan khawatir saat mengetahui pasien yang diantar ke rumah sakit adalah pasien Covid-19. ’’Tapi, karena tanggung jawab profesi, saya wajib menjalankannya,’’ tutur warga Simomanunggal itu.

Untuk mencegah terpapar Covid-19, Sigit menjalankan protokol pencegahan yang ditetapkan. Memakai alat pelindung diri (APD) lengkap saat pergi menjemput hingga pulang kembali ke rumah sakit. ’’Begitu sampai di rumah sakit, kami langsung menyemprotkan disinfektan ke kendaraan ambulans, baik bagian luar maupun dalam,’’ tambahnya.

Setelah itu, sopir ambulans menanggalkan APD yang telah dikenakan. ’’Dalam sehari, kami bisa mengganti empat APD. Itu minimal,’’ katanya saat ditemui di area Ruang Isolasi Khusus RSUD dr Soetomo pada Rabu (20/5).

Sigit menuturkan, selain mengantar pasien, tim ambulans melarang keluarga untuk ikut serta. Baik saat hidup maupun meninggal. Padahal, keluarga ingin menjenguk ketika sakit serta melihat untuk kali terakhir saat meninggal. ’’Tapi, sesuai dengan peraturan, pasien dalam kondisi apa pun tidak boleh dibesuk,’’ tambah Ainur Rozy Arofiq, sopir ambulans yang lain.

Terus Kirim Permakanan ke Warga Isolasi Mandiri

Kepala satuan tugas (Kasatgas) linmas menjadi salah satu orang yang berada dalam barikade penanganan Covid-19. Tugasnya mulai edukasi, pendampingan, hingga mengantar makanan untuk warga yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP).

Itulah yang dilakukan Kasatgas Kelurahan Dukuh Setro Hariyadi Santoso. Rabu pagi menjadi waktu itirahat. Sebelumnya, dia berjaga di pos perbatasan Middle East Ring Road (MERR) Gunung Anyar. Dia berjaga pukul 18.00‒06.00.

Tugas malam itu tidak berarti menggugurkan kewajiban lain. Salah satunya mengirim permakanan untuk warga yang tengah menjalani isolasi mandiri di rumah. ’’Masih ada satu keluarga dengan dua jiwa di wilayah Dukuh Setro,’’ paparnya.

Jadwal pengiriman sehari dua kali. Makan pagi diantar sekalian makan siang. Makan malam diantar sore menjelang berbuka puasa. Tugas itu membuatnya harus bertugas pada Lebaran besok.

Menurut dia, tanggung jawab tersebut sudah melekat. Apa pun risikonya tetap harus dilaksanakan. Apalagi, libur Idul Fitri berlangsung singkat. Tidak ada tambahan cuti atau libur. ’’Bagi saya, menjadi Kasatgas ini harus siap 24 jam. Kapan pun ada yang butuh, saya pun harus siap,’’ katanya.

Saat mengantar makanan itu, masyarakat tidak jarang lapor dan curhat. ’’Yang pernah saya alami, ada warga yang minta salah satu keluarga tidak dikirimi permakanan. Sebab, penghuninya ndablek, keluar rumah terus,’’ ucap bapak tiga anak itu.

Selama ikut terlibat dalam penanganan Covid-19, banyak cerita yang harus dialami Hariyadi. Misalnya, saat harus menyemprot rumah salah seorang warga berstatus PDP.(JPG)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Belum Terima Bantuan Kuota, Siswa Diminta Lapor ke Sekolah

Bantuan subsidi kuota internet 2020 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) resmi dikucurkan sejak Selasa (22/9). Kuota diberikan bertahap. Bila hingga batas waktu belum menerima, peserta didik dan pendidik dipersilahkan lapor.

Penataan Kawasan Wisata Senggigi Dimulai

Penataan kawasan wisata Senggigi direalisasikan Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat (Lobar). Sayang, dari tujuh proyek dalam perencanaan, hanya lima yang bisa dieksekusi.

LPPOM MUI NTB Target Sertifikasi Halal 125 Usaha Rampung Tahun Ini

”Rinciannya, dari Dinas Perindustrian NTB dan pusat sebanyak 75 usaha, serta Dinas Koperasi Lombok Barat sebanyak 50 usaha,” katanya, kepada Lombok Post, Rabu (23/9/2020).

Solusi BDR Daring, Sekolah Diminta Maksimalkan Peran Guru BK

Jika terkendala akses dan jaringan internet, layanan dilaksanakan dengan pola guru kunjung atau home visit. ”Di sanalah mereka akan bertemu dengan siswa, orang tua, keluarga. Apa permasalahan yang dihadapi, kemudiann dibantu memecahkan masalah,” pungkas Sugeng.

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

Trailer Film MOHAN Bikin Baper

Kreativitas sineas Kota Mataram terasa bergairah. Ditandai dengan garapan film bergenre drama romantic berjudul ‘Mohan’ yang disutradai Trish Pradana. Film yang direncanakan berdurasi sekitar 35 menit ini mengisahkan perjalanan asmara Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskan dengan istrinya Hj Kinastri Roliskana. Film Mohan dijadwalkan mulai tayang Bulan Oktober mendatang.
Enable Notifications    Ok No thanks