alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Razia Waria di Pasar Cakranegara, Tak Mau Ditangkap Buka Baju Buktikan Diri Lelaki

Transpuan atau waria kerap mangkal di Pasar Cakranegara. Mereka diduga menjajakan jasa seksual. Tim gabungan dari polisi, Satpol Pamong Praja (PP), dan Dinas Sosial menangkap mereka.

——————————

Gang Pasar Cakranegara nampak gelap. Beberapa waria sedang duduk di atas meja yang ketika siang dipakai pedagang berjualan. Tampil feminim. Berpakaian seksi dan make up menor. Layaknya perempuan tulen.

Mereka merayu seorang pria yang sedang memarkir motornya di deretan ruko. Entah apa yang mereka perbincangkan di antara keremangan malam.

Namun seketika remang-remang lorong pasar mendadak riuh. Sekelompok aparat datang dari berbagai penjuru Polisi, Satpol PP, dan petugas Dinas Sosial bergegas datang.

Malam di lapak pedagang yang tenang buyar. Derap sepatu petugas berdengung di lorong pasar bersama teriakan petugas. Terkejut. Para waria lari kocar-kacir.  Berhamburan ke berbagai haluan. Sebagian masuk ke dalam los Pasar Cakranegara.

Sepatu hak tinggi  serentak dilepas agar lebih cepat lari dari kejaran petugas.

Sayang jumlah aparat yang lebih banyak telah mengepung pasar. Para waria tak bisa kabur terlalu jauh. Sebagian besar tertangkap dan digiring ke mobil patroli.

”Apa salah saya, pak,” tanya waria bernama Desi itu dengan suara khas lelakinya.

”Ayo, naik,” bentak petugas sambil menarik Desi.

”Tidak mau, pak. Saya tidak punya. Jangan, pak,” timpal Desi melawan petugas.

Untuk menaikkan Desi ke dalam mobil patroli, butuh dua petugas. Karena, perlawanan Desi cukup sengit.

”Kamu kok keras sekali. Seperti cowok,” tanya petugas.

”Ya emang saya cowok,” jawab Desi ketus.  ”Mau bukti, ini saya buka baju langsung di sini,” kata Desi.

Desi pun membuka baju perempuannya menyisakan celana dalam saja.  “Ini lihat pak, saya cowok,” katanya sambil menunjukkan busung dadanya.

”Iya, sudah. Diam kamu di dalam mobil. Awas kalau kamu ke mana-mana,” ancam petugas.

Tim gabungan menelusuri bagian dalam pasar. Para waria diduga bersembunyi di balik lapak pedagang yang sudah tutup.

Terdengar suara kaki dari arah utara di dalam pasar. Tim sigap bergerak menuju arah suara itu.

“Stop, stop, stop, jangan kabur woiii,” teriak seorang petugas.

Waria itu terus berusaha kabur. Setelah dicari, ternyata dia berlindung di Pos Polisi Cakranegara. ”Saya tidak ke mana-mana, pak. Saya diam di sini,” jawab waria yang menyebut dirinya bernama Intan.

Intan mengaku dirinya hanya mencari makan. Dia mengelak kalau dirinya disebut sering menawarkan jasa seksual kepada lelaki hidung belang. ”Tidak pernah saya seperti itu,” kelitnya.

Profesi sehari-hari sebagai pegawai salon. Dia jarang mangkal di Pasar Cakranegara. ”Saya tidak setiap hari ke sini. Karena diajak teman keluar tadi, makanya saya ke sini,” akunya.

Kasi Ops dan Ketertiban Umum  Satpol PP Kota Mataram Made Agus Jewe mengatakan, Pasar Cakranegara dijadikan sebagai tempat mangkal. Mereka disebut  menjajakan diri. ”Aktivitas mereka sudah cukup lama dan meresahkan masyarakat,” kata Jewe usai operasi.

Tak hanya waria, tim juga menangkap empat pekerja seks komersial (PSK) yang kerap mangkal. Sebelumnya, mereka sering mangkal di Pasar Beras. ”Sekarang mereka berpindah ke sini (Pasar Cakranegara),” ujarnya.

Mereka semua diserahkan ke Dinas Sosial untuk didata dan dibina. “Kita belum melakukan tindakan tegas,” ujarnya.

Mereka harus menandatangani surat pernyataan. Jika mereka mengulangi perbuatannya lagi, mereka akan ditindak tegas. ”Kita akan masukkan ke panti sosial,” ujarnya.

Kapolsek Cakranegara AKP Zaky Maghfur mengatakan, operasi tersebut dilakukan Satpol PP Kota Mataram. Pihak kepolisian hanya membantu pelaksanaannya. ”Leading sektor operasi ini adalah Satpol PP. Mereka nantinya yang membina mereka,” kata Zaky.

Keberadaan mereka sangat meresahkan masyarakat. Sehingga, tim gabungan melaksanakan operasi. ”Kita hanya ingin menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat,” ujarnya. (suharli/r2)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Akurasi Alat Rapid Test Buatan NTB Mampu Saingi Produk Impor

Indonesia akhirnya resmi melaunching alat rapid test inovasi dalam negeri. Diberi nama RI-GHA Covid-19, alat ini diklaim memiliki akurasi nyaris sempurna.

Menyoal Pengetahuan dalam Penanganan Covid-19 Menghadapi New Normal

KASUS covid-19 sudah lebih dari empat bulan berjalan sejak kasus pertama, tanda-tanda penurunan belum juga terlihat. Prediksi para ahli terancam gagal, usaha-usaha pemerintah melalui program stimulus ekonomi dan bantuan sosial lainnya belum mampu mengatasi dampak ekonomi dan sosial covid-19.

Cegah Korona, Pasar Burung Cakranegara Kekurangan Tempat Cuci Tangan

   Kalau protokol kesehatan sudah diberlakukan di hotel, restoran, pusat pertokoan dan perkantoran, tidak demikian dengan di pasar. Penerapan protokol kesehatan di pasar diakui Lurah Cakranegara Barat I Wayan Swira masih kedodoran

Anak Tak Lulus Zonasi, Orang Tua di Mataram Serbu Dikbud NTB

Protes keras dilayangkan ratusan orang tua calon siswa SMA di Mataram. Mereka mendatangi Dinas Dikbud NTB, meminta kepastian nasib anak mereka. ”Setiap tahun, jalur zonasi ini selalu bermasalah,” kata Suharman, salah satu orang tua, pada Lombok Post, Kamis (9/7/2020).

Pak Wali..!! Kelurahan Cakra Barat Butuh APD Segera

Kelurahan Cakranegara Barat, salah satu wilayah yang berstatus zona merah di Mataram. Tidak main-main. Sebanyak 27 warga kelurahan ini dipastikan positif terinfeksi Covid-19. Warga kelurahan ingin status wilayah tempat tinggalnya keluar dari zona merah. Mereka butuh bantuan pemerintah.

Penanganan Kasus Pernikahan Sejenis Dialihkan ke Polres Lobar

Kasus pernikahan sesama pria  SU alias Mita dengan MU menyeret pejabat yang mengeluarkan rekomendasi dan menerbitkan surat nikah. Yakni  Kepala Lingkungan (Kaling) Pejarakan, Lurah Pejarakan Karya, dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Ampenan

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks