alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Menolak Lupa! ASN sebagai Pelayan Publik

Oleh: Muhammad Yusuf, S. Tr. Stat ASN BPS Kabupaten Bima

Makna Kata “Pelayan”

MENURUT Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “pelayan” merupakan sebuah kata benda yang memiliki dua makna. Makna pertama adalah orang yang melayani, kemudian makna kedua adalah pembantu atau pesuruh.

Kedua makna ini sudah jelas bahwa kedudukan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah sebagai orang yang “melayani” atau “pesuruh” yang dipekerjakan oleh masyarakat dan digaji oleh masyarakat melalui pajak yang dibayar oleh masyarakat. Oleh sebab itu, sebuah keanehan apabila seorang “pembantu” bertindak semena-mena atau tidak sopan pada seorang “majikan”nya.

Apabila setiap ASN sudah memahami makna tersebut tentunya tidak akan ada oknum-oknum ASN yang berlaku kurang memberikan perhatian dan sambutan yang hangat, tidak senyum,  tidak welcome dengan masyarakat saat masyarakat datang ke Instansi/OPD tersebut.

Misalnya: “Nyari apa mas? (sambil ditekuk wajahnya, cemberut”, contoh yang lain, ketika “jajan” di waktu istirahat ASN berlagak “sok”, acuh tak acuh kepada orang karena ASN pakai seragam, badge dan name tag lengkap.

Fungsi dan Peran ASN

Sikap tersebut merupakan contoh dari contoh-contoh kecil yang penting tetapi mulai hilang bahkan dilupakan oleh para Apuratur Sipil Negara (ASN). Sikap-sikap yang kurang baik tersebut haruslah dihilangkan dan diganti dengan sikap yang ramah dan senyum dalam menerima tamu dan bersosialisasi di masyarakat.

Hal tersebut dikarenakan fungsi dari ASN bukanlah hanya sebagai pelaksana kebijakan publik saja, akan tetapi juga (1) sebagai pelayan publik dan (2) perekat dan pemersatu bangsa (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Aparatur Sipil Negara Pasal 10 Tentang Fungsi Tugas dan Peran ASN). Oleh sebab itu, bagaimana bangsa kita akan rekat kalau antara masyarakat dan penyambung lidah, yakni ASN,nya tidaklah tercipta suatu hubungan yang baik.

Faktor yang penting dalam menciptakan hubungan yang baik tersebut adalah ketika kita memberikan first impression ke masyarakat, bagaimana kita senyum ke orang, bagaimana rasa kepedulian kita dalam menanyakan “apa yang bisa dibantu?”, “Oh iya, silakan pak/mas” ke masyarakat.

Sehingga, apabila first impression ini berhasil kita berikan kepada masyarakat maka kedepan masyarakat akan kembali lagi datang ke kantor atau instansi untuk meminta bantuan kembali karena masyarakat ingat bahwa ternyata ASN itu ramah dan baik serta masyarakat akan merasa pemerintah ini ada di pihaknya dan bukan suatu opisisi atau musuh yang harus mereka lawan atau gulingkan.

Baca Juga :  Guru Penggerak, Lokomotif Merdeka Belajar

 

ASN Sebagai Pelayan Publik

Prinsip pelayanan publik sebenarnya sangatlah simpel, yakni kita sebagai ASN harus melayani publik dalam hal ini adalah masyarakat umum dan sesama ASN lain. Pelayanan publik ini memiliki beberapa nilai, salah satunya adalah Responsif. Maknanya adalah dalam penyelenggaraan pelayanan publik Instansi/OPD wajib mendengar dan menenuhi tuntutan kebutuhan warga negaranya.

Tidak hanya terkait dengan bentuk dan jenis pelayanan publik yang mereka butuhkan akan tetapi juga terkait dengan mekanisme penyelenggaraan layanan, jam pelayanan, prosedur dan biaya penyelenggaraan pelayanan. Oleh sebab itu, sebagai ASN harusah mendengar aspirasi dan keinginan masyarakat yang menduduki posisi sebagai agen/majikan dari sebuah pemerintahan.

Nilai kedua adalah Aksesibel, artinya pelayanan publik yang diselenggarakan harus dapat dijangkau oleh masyarakat dalam arti fisik dan non-fisik. Arti fisik yang dimaksud adalah dari segi kedekatan, keterjangkauan dengan kendaraan publik, mudah dilihat dan gampang diketemukan. Kemudian, arti non fisik adalah yang terkait dengan biaya dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut.

Nilai ketiga adalah Mudah dan Murah, artinya penyelenggaraan pelayanan publik harus tidak boleh dipersulit dalam masalah birokrasi. Kemudian, pelayanan tersebut haruslah terjangkau dan seminimal mungkin ditekan biayanya agar masyarakat dapat mengonsumsi pelayanan tersebut. Poin pentingnya adalah pemerintah tidak mencari keuntungan melainkan untuk memenuhi mandat konstitusi (Undang Undang Dasar  1945).

Selain itu, tentunya masih banyak nilai dari pelayanan publik tersebut yang bisa diaktualisasikan oleh ASN dalam menjalankan roda pemerintahan. Akan tetapi, lebih jelas tentang bagimanaa ASN bersikap tersebut sebenarnya sudah terangkum dalam materi Manajemen ASN, yang mencakup Whole Of Government (WoG) dan Pelayanan Publik. Materi tersebut merupakan salah satu materi pembekalan ASN yang pastinya sudah diberikan kepada ASN saat menjalani pendidikan latihan dasar CPNS baik golongan II atau III di masing-masing Instansi/OPD. Oleh sebab itu, sebagai ASN haruslah mengingat kembali materi-materi yang sudah diberikan oleh lembaga Pendidikan dan Pelatihan pada masa CPNS.

 

Aktualisasi di Instansi dan OPD

 

Semua materi tersebut tidaklah bermanfaat apabila tidak dihabituasikan dan diaktulisasikan oleh ASN di tempat kerja. Terlebih lagi, akan sangat disayangkan apabila hanya dijadikan bahan “syarat” menanggalkan huruf “C” dalam kata CPNS. Oleh sebab itu, aktualisasi ini haruslah timbul dari kesadaran diri sendiri dan tentunya dukungan lingkungan, baik atasan/pimpinan maupun rekan kerja.

Baca Juga :  Gerindra Siapkan Farin Gantikan Mori Sebagai Wakil Ketua DPRD NTB

Sebagaimana ayah merupakan sosok inspirasi bagi seluruh anak di dunia ini, baik di belahan dunia barat, yakni di Amerika, Eropa maupun di belahan dunia bagian timur, yakni di Asia dan Indonesia. Ayah dalam konteks ini dapat diartikan menjadi dua, pertama adalah ayah biologis dan secara definitif.

Ayah secara definitif ini adalah sosok ayah sebagai pemimpim suatu perusahaan atau instansi dan anak-anaknya adalah para pegawainya. Oleh sebab itu, karakter pimpinan dalam bersikap dan melayani para tamu maupun stakeholder sangatlah berpengaruh pada para pegawainya.

Salah satu contoh kecil adalah ketika bagaimana pemimpin bersikap dengan para pegawainya di kantor. Contohnya, ketika pagi hari pimpinan selalu keliling menyapa setiap orang yang ada di kantor, “menanyakan bagaimana kabar” terus “apa yang mau dilakukan hari ini?”.

Hal terpenting adalah bersikap “ahsan” (terbaik) dalam memantau pekerjaan pegawainya, tidak pernah marah pada pegawainya dan selalu memberikan jalan tengah dari masalah-masalah yang dihadapi oleh pegawainya baik dengan responden maupun stackholder. Oleh sebab itu, apabila sudah terciptanya pelayanan publik dari dalam instansi tersebut, khususnya dari pimpinan ke bawahan dan bawahan ke pimpinan maka akan tercipta pelayanan publik yang ramah dan santun terhadap masyarakat.

 

Aktualisasi di Masyarakat

 

Terakhir, tingkat keberhasilan pembangunan sangatlah bisa secara “kasat mata” dicerminkan melalui bagaimana masyarakat merespon dari kebijakan-kebijakan yang pemerintah tetapkan. Hal tersebut seperti apakah masyarakat masih mengeluhkan kekurangan makanan, mahalnya harga, atau turunnya harga jual petani di pasaran. Keluhan-keluhan tersebut terkadang disampaikan melalui demonstrasi di jalan, kemudian menutup jalanan, mencegat “plat merah” yang lewat di jalan.

Hal tersebut membuktikan bahwa sebagian masyarakat masih menganggap pemerintah adalah suatu opisi yang harus di lawan. Oleh sebab itu, langkah konkrit sebagai ASN adalah dengan menghilangkan prasangka-prasangka itu dari masyarakat.

Kemudian, apabila prasangka tersebut perlahan mulai hilang maka langkah selanjutnya adalah bersatu padu dengan masyarakat dan menanamkan pemahaman kepada mereka bahwa pemerintah dan masyarakat adalah satu kesatuan organisasi (negara) yang mempunyai tujuan “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” (*)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/