alexametrics
Rabu, 23 September 2020
Rabu, 23 September 2020

Lanjutkan Aksi Sampai Gol

AKSI mahasiswa yang memuncak pada Senin (23/9) dan Selasa (24/9) merupakan imbas dari pembahasan sejumlah regulasi bermasalah. Untuk itu, selama gol akhir pembatalan revisi UU KPK dan RKUHP belum tercapai, rakyat diharap terus bersatu mendesak agar pemerintah membuka ruang aspirasi secara luas.

                Aktivis yang tergabung dalam berbagai LBH dan organisasi itu akan fokus memberikan bantuan hukum bagi mahasiswa yang ditangkap polisi selama aksi. Juga mempejuangkan pembelaan bagi sejumlah pelanggaran hak asasi manusia yang kemungkinan dialami oleh mahasiswa. Namun, mereka mengingatkan agar masyarakat tidak teralihkan ke isu lain dan fokus pada gol perjuangan para mahasiswa sejak awal.

                Pengacara publik LBH Jakarta Aghlif menyebutkan, pihaknya tetap mengawal seluruh undang-undang yang dinilai merusak cita-cita reformasi. Terutama UU KPK yang jelas-jelas melemahkan upaya pemberantasan antikorupsi. Selain itu, UU Perumusan Peraturan Perundang-undangan (PPP) dan UU Pesantren yang baru disahkan juga berpotensi menimbulkan masalah demokrasi ke depannya. “Kita mau ngapain lagi? Jelas aksi. Jangan percaya omongan gugat saja ke MK. Itu bohong,” ungkap Aghlif.

                Mahasiswa memang sudah tidak turun kemarin. Mereka kini tengah berupaya mengumpulkan teman-teman yang belum kembali ke kelompoknya masing-masing. Meskipun aksi sempat berlangsung hingga malam, perwakilan mahasiswa membantah bahwa penyebab kerusuhan pada malam hari tersebut merupakan bagian dari mereka.

                ”Di sini teman-teman mahasiswa benar-benar steril dari oknum-oknum yang merusak dan membakar beberapa fasilitas publik. Oknum tersebut tidak terlibat dalam tuntutan kami,” tegas Presiden BEM UI Manik Margana Mahendra di Kantor LBH Jakarta kemarin. Dia juga berterimakasih kepada warga yang sudah memberikan dukungan berupa bantuan makanan maupun akses evakuasi selama aksi.

Manik menegaskan bahwa aksi mahasiswa kemarin bukan tiba-tiba datang dan memprotes anggota dewan. Karena sebelumnya telah dilakukan diskusi di berbagai lingkungan akademis untuk menyusun kajian permasalahan UU yang sedang dibahas. Hal tersebut diamini juga oleh Peneliti Institute for Criminal and Justice Reform (ICJR) Erasmus Napitupulu. “Mahasiswa di sini bukan ujug-ujug datang, kami melakukan kajian bersama masyarakat. Mari berdebat secara terbuka,” ungkap Erasmus.

                Secara tegas, dia mengecam pemerintah yang terus-terusan menggunakan dalih dekolonisasi untuk merumuskan RKUHP. Karena semangat yang muncul dalam rancangan itu justru lebih mendekati kolonisasi. “Kami butuh KUHP yang kolonial, yang membungkam seluruh aspirasi masyarakat. Berhenti bicara dekolonisasi, berhenti urusi urusan privat warga negara. Jangan urusi moral kami, urusi moral para koruptor,” tegas Erasmus.

                Ketua Umum YLBHI Asfinawati menyampaikan tujuh tuntutan yang disampaikan publik dalam Aksi Nasional Reformasi Dikorupsi. Di antaranya menolak sejumlah RUU bermasalah dan mendesak pembatalan UU KPK, membatalkan pimpinan KPK bermasalah, menolak TNI/Polri menempati jabatan sipil, dan menghentikan kriminalisasi aktivis.

                Selain itu, mereka menuntut dihentikannya militerisme di Papua, pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera serta menghukum pidana pembakarnya, dan menuntaskan pelanggaran HAM termasuk oleh penguasa. Terkait aksi mahasiswa, Asfinawati juga menuntut agar LBH diberi akses untuk memberi bantuan hukum. ”Ini persoalan kemanusiaan, teman-teman mahasiswa perlu dilindungi haknya,” tegas Asfina.

                Di sisi lain, menindaklanjuti respresi yang dialami mahasiswa, sejumlah lembaga bergabung membuka posko pengaduan. Antara lain YLBHI, LBH Jakarta, LBH Pers, ICJR, Kontras, Lokataru, dan PP Muhammadiyah. Direktur LBH Jakarta Arif Maulana menjelaskan, posko ini diperuntukan bagi mereka yang merasa anggota keluarga, teman, atau kenalan masih dirawat atau belum kembali pasca aksi demonstrasi.

                Dari data yang dihimpun LBH Jakarta, ada sekitar 50 laporan yang masuk dari massa aksi yang mayoritas mahasiswa sejak Selasa malam hingga Rabu siang. “Ada yang mengatakan temannya belum kembali. Mereka juga khawatir ada sweeping di sekitar tempat aksi,” jelas Arif kemarin.

                Tindakan represif aparat korps cokelat dikritisi oleh Amnesty International Indonesia. Mereka mencatat bahwa langkah-langkah yang diambil petugas selama aksi massa 24 September lalu itu menyalahi SOP internal. “Ada banyak keanehan yang kami temukan di lapangan. Langkah represif dan penggunaan kekuatan berlebihan tidak sejalan dengan aturan internal Peraturan Kapolri 8/2019,” jelas Campaign Manager Amnesty International Indonesia Puri Kencana Putri kemarin.

                Puri membandingkan tindakan aparat dengan upaya pengamanan kerusuhan 22 Mei lalu. Saat itu, kepolisian membuka ruang dialog dan bahkan berkomunikasi dengan massa di tengah aksi. Langkah tersebut tidak dilakukan dalam aksi mahasiswa Selasa kemarin. Puri menyebutkan bahwa secara internal sudah diatur tentang pengendalian massa.

                Tepatnya pada pasal 43, dalam upaya mengatasi kerusuhan massal, anggota kepolisian harus menerapkan urutan tindakan mulai dari penggunaan kekuatan paling lunak atau persuasif, sebelum melakukan tindakan represif. Penindakan kerusuhan dengan alasan apa pun juga harus tetap mengupayakan seminim mungkin timbulnya korban. “Standar yang diterapkan berbeda dengan saat aksi Mei,” lanjut Puri.

                Penggunaan water canon dan gas air mata pun menurut Puri menyalahi aturan. Dalam penanganan aksi massa, aparat kepolisian membagi status ke dalam tiga jenis. Status hijau ketika aksi tertib, status kuning ketika harus ada kebutuhan negosiasi dengan massa, dan status merah ketika mulai terjadi kerusuhan. “Tetapi kemarin dari hijau statusnya langsung merah sehingga terjadi water canon dan gas air mata,” paparnya.

273 Mahasiswa Dirawat

Aksi massa yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa Selasa (24/9) menelan banyak korban. Dilaporkan, sebanyak 273 orang di rawat sejumlah rumah sakit di Jakarta pada Selasa malam (25/9).

                Gubernur DKI Anies Baswedan menyampaikan, pihaknya telah menginstruksikan jajaran Pemprov DKI untuk membantu menangani kondisi ibu kota saat demonstrasi di Gedung DPR/MPR RI. Dalam penanganan aksi massa itu, Pemprov DKI mengerahkan 40 ambulans dan lebih dari 100 tenaga medis disiagakan di lapangan.

                “Tadi malam memang ada 273 orang yang dirawat di Rumah Sakit Umum. Ada 24 Rumah Sakit yang memang sudah disiagakan,” jelasnya di Balai Kota DKI, Gambir, Jakarta Pusat kemarin (25/9).

                Para korban tersebut, lanjut dia, sebagian besar diangkut ambulans ke Rs TNI Angkatan Laut Mintohardjo dan Rumah Sakit Pusat Pertamina. (RSPP). Tercatat, 11 orang yang masih dirawat di RS Mintohardjo, tiga di RSPP, dan lainnya tersebar ke beberapa rumah sakit lainnya. seperti, Rumah Sakit Pelni, Rumah Sakit Pasar Minggu, di Rumah Sakit Bhakti Mulia, Rumah Sakit Pasar Rebo, RSUD Kebayoran Baru, dan Rs Cipto Mangunkusumo (RSCM).

                “Masing-masing satu,” jelas Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tersebut.

                Menurut dia, kebanyakan pasien yang dirawat mengalami sesak napas dan kelelahan. Seperti pasien yang dirawat di RSUD Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Menurut dia, dari hasil pemeriksaan darah hasilnya kurang gula karena kelelahan. Karena tak memerlukan penanganan khusus, mereka pun bisa langsung pulang.

                “Mayoritas sudah bisa pulang,” tuturnya. Hingga Rabu (25/9),  pukul 10.00 WIB, tersisa 19 orang  yang masih berada dalam perawatan di beberapa Rumah Sakit.

                Termasuk, tiga orang pasien yang harus dioperasi karena pendarahan selaput darah, pendarahan otak, dan trauma tulang belakang. Dia menegaskan, pihaknya akan memfasilitasi pembiayaan untuk pengobatan para korban.

                Mantan Rektor Universitas Paramadina itu menuturkan, korban paling banyak dalam aksi massa tersebut berstatus mahasiswa. “Tapi harus dicek lagi satu-satu. Kalau yang saya temui tadi malam, mayoritas korban yang dirawat di RS adalah mahasiswa,” ucapnya.

                Kepala Seksi Pengendalian, Evaluasi Dan Pembiayaan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ria Virgiandari menambahkan, pemprov memang memiliki anggaran khusus untuk penanganan tersebut. ”Karena memang BPJS kesehatan kan gak mau jamin itu ya,” ujarnya.

                Dalam proses pembiayaannya nanti, Dinkes menerima sistem klaim dari pihak Rs yang menangani para korban demo. Setelah proses validasi, biasanya akan turun surat keputusan gubernur (kepgeb) DKI Jakarta untuk mencairkan dana tersebut. ”Hingga saat ini sih belum ada klaim masuk. Memang nggak bisa cepat ya. Mereka harus list dulu tindakan apa yang dilakukan untuk pasien,” ungkapnya. Yang jelas, imbuh dia, Rs harus memastikan pasien sembuh terlebih dahulu sebelum akhirnya mengajukan klaim.

                Sementara itu, Naufal Siregar, mahasiswa Universitas Pertamina, kemarin siang pukul 11.30 meninggalkan instalasi gawat darurat (IGD) RS Pusat Pertamina. Dua perban menempel di pipis. Satu di pelipis kanan dan satu lagi di pipi kanan dekat mulut. Menurut ceritanya, perban di pipi kanan itu untuk menutup luka bolong akibat peluru. ”Kalau yang ini kata dokter karena pukulan,” ucapnya sambil mengusap pelipis kanan.

                Naufal sebenarnya tak tahu pasti kenapa pelipisnya lebam. Sebab setelah pipinya tertembak, dia langsung tak sadarkan diri. Dia bangun sudah di IGD.

                Kejadian malam nahas dimulai saat mahasiswa teknik itu terpisah dari rombongannya. Sebenarnya dia bersama teman-teman lain ingin pulang. Sayangnya kondisi ricuh. Alih-alih menyelamatkan diri, Naufal malah tertembak dan akhirnya dilarikan ke RSPP.

                Dia tak sendiri. Senin lalu (24/9) ada 89 mahasiswa lain yang dibawa ke RSPP. Sebagian besar yang dibawa ke rumah sakit yang berada di Jakarta Selatan itu karena terkena gas air mata. Akibatnya banyak yang sesak napas dan sakit di bagian mata. ”74 kondisi kategorinya triase emergency hijau cukup stabil kesadaran penuh observasi beberapa saat dan itu bisa dipulangkan,” kata Direktur RSPP Kurniawan Iskandarsyah. 14 orang lainnyanya katagori kuning dan membutuhkan observasi.

                Ada tiga orang yang mendapat perhatian khusus. Sebab luka yang dialami serius. Pertama karena pukulan benda tumpul yang menyebabkan retak tengkorak atas sisi kanan. ”Menyebabkan pendarahan sub aranoid hemoragic (salah satu pembuluh di otak, Red),” ungkapnya. Satu pasien lainnya juga mengalami luka di kepala. Lainnya, luka di bagian tulang belakang. ”Apabila ada kondisi tertentu mungkin akan dilanjutkan dengan operasi,” imbuhnya.

                Seluruh korban yang masih dirawat berjenis kelamin laki-laki. Dua orang berusia 19 tahun. Satu lagi usia 20 tahun. ”Salah satu Universitas Pamulang,” tuturnya.

                Dia menyatakan bahwa perawatan gratis. Sebab Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjamin sepenuhnya.

Jangan Ganggu Ekonomi

                Dari sisi perekonomian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap aksi demo mahasiswa di berbagai daerah bisa segera berlalu. Ani ingin agar aksi tersebut tidak makin memukul stabilitas ekonomi dalam negeri.

                ‘’Situasi sekarang perlu untuk kita jaga agar bisa mengembalikan momentum, sehingga kita juga lebih fokus risiko yang berasal dari luar,” ujarnya.

                Menurut dia, di tahun ini Indonesia cukup mendapat sentimen positif dari investor. Sehingga, aliran modal asing banyak yang masuk ke dalam negeri.

                Dengan kondisi itu, diperlukan adanya kondusifitas politik yang tentu bisa mendukung stabilitas ekonomi. ‘’Saya harap hal-hal ini (sentimen positif dari global) jadi pemicu. Kita harap dalam situasi saat ini tentu stabilitas politik akan bisa segera pulih,’’ imbuhnya.

                Sejak Selasa (24/9), pelaku pasar terlihat cukup khawatir pada dinamika politik yang terjadi di dalam negeri. Hal itu tercermin dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menunjukkan investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) hingga Rp 993,94 miliar di pasar reguler.

                Hal itu menambah tren dana asing yang keluar dalam sebulan terakhir yang tercatat mencapai Rp 7,15 triliun. Sementara di pasar negosiasi dan tunai, investor asing terpantau melakukan pembelian bersih saham (net buy) sebesar Rp 220,59 miliar.

                Banyaknya dana asing yang keluar pada perdagangan itu menjadi salah satu pemicu koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,1 persen menjadi 6.137,61. Koreksi tersebut merupakan yang terburuk di bursa saham Asia.

                Terpisah, Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna Setia menyampaikan, kondisi pasar bergerak cukup dinamis. Salah satu pemicunya yakni adanya demo yang berlangsung belakangan.

                ‘’Saat ini kalau ada (demo) itu bagian dinamika demokrasi. Buktinya dilihat dari indikator yang ada, perusahan masih optimis,’’ ujar Nyoman, kemarin (25/9).

                Hal itu terindikasi dari jumlah perusahaan tercatat yang di BEI saat ini sudah mencapai 38 emiten. Menurut Nyoman, sudah ada 22 perusahaan di dalam pipeline yang sudah mengajukan dokumen IPO. BEI juga optmistis, target 75 perusahaan tercatat hingga akhir tahun akan tercapai meski dibayangi dinamika politik.

                ‘’Perusahaan sudah submit dokumen itu sudah memikirkan semua kondisi yang dinamis, pasar bergerak. Yang penting mereka sudah tahu fundamental ekonomi Indonesia, kestabilan politik, menurut saya tidak ada yang mesti dikhawatirkan,’’ katanya.

                Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengakui, ada sedikit dampak dari kericuhan demo mahasiswa yang berlangsung Selasa (24/9) lalu. Dampak tersebut terasa pada fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

                Dia mengungkapkan, pada saat terjadi demo besar-besaran di DPR, rupiah terpantau mengalami pelemahan hingga di level Rp 14.135 per dolar AS. Meski melemah tipis, dia menyoroti pergerakan rupiah yang cenderung stabil pada minggu-minggu sebelumnya.

                “Selain ada faktor global (ketidakpastian global), juga ada concern domestic, dimana demo-demo kok masih terus berlangsung. Padahal kemarin-kemarin rupiah anterng di bawah level Rp 14.100 per dolar AS,”jelasnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin. (deb/mim/mia/lyn/dee/ken/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, NTB Promosikan Peluang Investasi

Ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Bank Indonesia. ”Pasti ujungnya juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji.

Efek Pandemi, Transaksi Valas di NTB Melorot 90 Hingga Persen

”Hingga kini pandemi telah memukul telak seluruh kegiatan usaha penukaran valuta asing (kupva) di money changer hingga 90 persen,” kata Darda Subarda, pemilik Money Changer PT Tri Putra Darma Valuta, kepada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Silky Pudding Drink Lombok, Minuman Kekinian Satu-satunya di Lombok

Minuman ini hadir dengan delapan varian rasa, yakni Red Island, Choco Dream, Magical Blue, dan Beauty Sunset. Juga Baby Queen, Sweet Choco, Deep Purple dan terakhir ada Snlight Choco. “Harganya hanya Rp 13.000 per cup,” kata Ramadarima, pemilik Silky Pudding Drink Lombok.

Sumbawa Gelar Simulasi KBM Tatap Muka

”Masing-masing kecamatan, ada perwakilan atau piloting, minimal dua sekolah yang kami tunjuk,” kata Sahril.

Disdik Kota Mataram Berharap Bantuan Kuota Dimanfaatkan Maksimal

”Kami belum tahu persis, makanya kami akan tunggu petunjuk berikutnya,” ujarnya, pada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Saatnya Kota Mataram Dipimpin Arsitek

“Tidak bisa kita mengharapkan perubahan, kalau masih memberikan kepemimpinan pada orang yang sama,” kata Ketua Partai Gelora NTB HL Fahrurrozi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks