alexametrics
Jumat, 18 September 2020
Jumat, 18 September 2020

Korona di Italia Semakin Parah, Lebih 10 Ribu Warga Meninggal Dunia

ROMA-Penanggulangan persebaran virus korona di seluruh dunia kian ketat. Namun, tak semua negara berhasil. Italia terbukti paling tertekan akibat virus tersebut setelah melaporkan sekitar 10 ribu kematian karena Covid-19.

Kebijakan karantina yang diterapkan pemerintah Italia bukan main-main. Antonia Mortensen, warga Milan, menjadi saksi langsung. Saat itu dia berkendara dengan suaminya untuk menjenguk saudara di rumah sakit.

Mereka sudah mengurus sertifikat khusus yang mengizinkan keluar pintu rumah. Namun, tetap saja mereka diberhentikan petugas kepolisian di tengah jalan. “Kami diberi tahu bahwa salah satu harus duduk di belakang,” ungkap Mortensen kepada CNN.

Otoritas di Italia kini superketat soal kebijakan karantina dan social distancing alias sistem menjaga jarak antarindividu. Kalau melanggar, pelaku bisa dikenai denda hingga 3 ribu euro (Rp 54 juta). Kebijakan tersebut diterapkan bertahap sejak enam minggu lalu. Harapannya, negara di Eropa itu bisa mengikuti jejak Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel) untuk mengurangi kasus baru.

Namun, kebijakan pemerintahan Giuseppe Conte belum terbukti manjur. Sabtu lalu (28/3) mereka mengumumkan 889 kasus Covid-19 baru. Laporan itu menjadikan Italia negara pertama yang mempunyai korban jiwa pada bilangan empat digit.

“Saat ini kita berada di momen kritis dalam sejarah Eropa. Saya mewakili negara yang menderita dan saya tak mau menunda-nunda,” ujar Conte kepada The Guardian.

Total kematian akibat virus korona di Benua Eropa sudah mencapai 20 ribu. Selain Italia, Spanyol, Prancis, dan Inggris juga harus kehilangan ribuan nyawa karena wabah tersebut. Namun, banyak pakar yang mengonfirmasi bahwa Italia-lah yang paling frustrasi.

Negara tersebut merupakan salah satu yang paling cepat memberikan respons. Meski begitu, saat ini total kasus Covid-19 sudah menembus 92 ribu. Mengalahkan sumber pandemi, Tiongkok. Meski begitu, masih kalah oleh AS.

Salah satu faktor yang mungkin menentukan adalah demografi. Italia merupakan negara dengan populasi lansia terbesar setelah Jepang. Menurut lembaga kesehatan Italia, rata-rata usia korban jiwa virus korona adalah 78 tahun.

Selain itu, kebijakan lockdown yang diterapkan Italia tak bisa seketat rezim Xi Jinping. Giorgio Palu, profesor virologi dan mikrobiologi di University of Padova, mengatakan bahwa karantina Italia tak seekstrem di Wuhan dan kota-kota Tiongkok lainnya.

“Tapi, ini adalah tindakan terparah yang bisa dilakukan pemerintahan demokratis. Beberapa hak dasar warga seperti hak berkumpul sudah direnggut,” ujar mantan presiden European and Italian Society for Virology itu.

Di sisi lain, negara komunis seperti Tiongkok bisa menerapkan respons yang lebih keras. Hal tersebut membuat warga Wuhan akhirnya mulai diizinkan keluar rumah setelah lebih dari dua bulan. Kini Xi Jinping lebih berfokus memagari Tiongkok dari kasus-kasus Covid-19 yang datang dari luar negeri.

Pekan lalu otoritas Tiongkok memangkas penerbangan internasional. Setiap rute hanya diizinkan satu kali pergi pulang. Hal tersebut membuat kapasitas penerbangan internasional terpangkas 75 persen.

Tiongkok juga melarang kunjungan dari hampir semua warga asing. Termasuk yang sudah mempunyai izin tinggal. “Awalnya, kami kira mungkin lebih aman di luar negeri. Tapi, sekarang pikiran itu terbalik,” ungkap Han Li, warga Wuhan.

Sementara itu, pemerintah AS, tampaknya, belum menemukan kebijakan yang tepat untuk menangani Covid-19. Akhir pekan lalu Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Negara Bagian New York tak perlu melalui proses karantina. Padahal, beberapa saat sebelumnya, Trump mengatakan bahwa dirinya mempertimbangkan pemberlakuan lockdown di New York serta sebagian New Jersey dan Connecticut.

Saat ini ada 52 ribu kasus di New York. Artinya, pasien di negara bagian tersebut mencapai setengah dari total kasus nasional. Namun, rencana meniru tindakan Tiongkok langsung diprotes Gubernur New York Andrew Cuomo. “Jika kebijakan lebih ketat diberlakukan, kita akan menjadi Wuhan. Perdagangan dan bursa saham bakal jatuh,” ungkapnya kepada BBC.

Pada akhirnya, Trump hanya memberlakukan peringatan bepergian sesuai dengan rekomendasi Satgas Covid-19. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pun langsung menyebar imbauan tidak bepergian selama 14 hari tak lama setelah pernyataan Trump. (bil/c19/tom/JPG/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Empat Hari Razia di NTB, Pelanggar Protokol Korona Capai 1.222 Orang

BARU empat hari operasi yustisi oleh tim gabungan, warga yang terjaring razia masker sudah mencapai 1.222 orang. Sebanyak 30 orang di antaranya merupakan aparatur sipil negara (ASN). Sisanya 1.292 orang masyarakat umum.

Pilwali Mataram, Polres Petakan 12 Potensi Kerawanan

Polresta Mataram memetakan 12 titik potensi kerawanan di Kota Mataram. “Sebenarnya ini kejadian (yang kami himpun) dulu dan pernah terjadi,” kata Wakasat Intelkam Polres Mataram, Ipda Gunarto, kemarin (17/8).

Pilkada Serentak NTB, Potensi Saling Jegal Masih Terbuka

Bawaslu NTB mengantisipasi potensi sengketa usai penetapan Pasangan Calon (Paslon) 23 September mendatang. Baik sengketa antara penyelenggara pemilu dengan peserta dan peserta dengan peserta.

Bukan Baihaqi, Isvie Akan Menangkan HARUM di Pilwali Mataram

Golkar dipastikan solid memenangkan setiap pasangan yang diusung. “Sebagai kader Golkar kita harus loyal (pada perintah pertai),” kata Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi NTB Hj Baiq Isvie Rupaeda.

Gubernur Ingatkan Jaga Kerukunan di Musim Pilkada!

”Partai boleh beda, calon boleh beda, tapi senyum kita harus senantiasa semanis mungkin dengan tetangga-tetangga kita," kata Gubernur NTB H Zulkieflimansyah saat menyapa umat Hindu di Pura Dalem Swasta Pranawa, Abian Tubuh, Kamis (17/9/2020).

Koreksi DTKS, Pemprov NTB Coret 215.627 Rumah Tangga

”Data ini dari hasil verifikasi dan validasi yang dilakukan kabupaten/kota,” kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) NTB H Ahsanul Khalik, Kamis (16/9/2020).

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks