alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Pandemi Korona Dongkrak Angka Perceraian

Tak cuma pernikahan dini. Pandemi rupanya juga menyebabkan angka perceraian meningkat pesat. Kementerian Agama menerima laporan peningkatan angka perceraian tersebut hampir dari seluruh daerah di Indonesia. Tak kecuali dari NTB. Faktor ekonomi yang membelit keluarga menjadi salah satu musababnya.

——————————————

 

DIREKTUR Jenderal Badan Pengadilan Mahkamah Agung Aco Nur mengungkapkan, saat awal penerapan PSBB pada April dan Mei 2020, perceraian di Indonesia di bawah 20.000 kasus. Namun, pada bulan Juni dan Juli 2020, jumlah perceraian meningkat menjadi 57.000 kasus.

Aco menduga hal itu dilatarbelakangi faktor ekonomi, dimana banyak pencari nafkah harus menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK) di saat pandemi. “Akibat COVID-19 kan banyak di PHK, sehingga ekonomi enggak berjalan lebih baik. Hal itu membuat Ibu-ibu enggak mendapat jaminan dari suaminya,” ujar Aco.

Dia menjelaskan, mayoritas penggugat cerai yang masuk dalam daftar pengadilan agama berasal dari istri, dilandasi faktor ekonomi. Penggugat perceraian terbanyak dari Pulau Jawa.

Di lain sisi, tidak menutup kemungkinan juga ada pengaruh penutupan pengadilan selama PSBB juga memberi pengaruh dalam peningkatan kasus perceraian di pengadilan agama. Akibatnya terjadi pergeseran pendaftaran cerai di bulan April dan Mei ke bulan Juni dan Juli.

Sebagai contoh misalnya di Pengadilan Agama Soreang, Bandung, Jawa Barat. Biasanya jumlah kasus perceraian sekitar 700 gugatan setiap bulan. Tetapi di masa pandemi ini, gugatan perceraian naik menjadi seribu lebih dalam sebulan.

Terpisah, Kementerian Agama saat ini tengah berkoordinasi untuk menghimpun data gugatan cerai tersebut dari seluruh daerah. Kendati begitu, Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag Muharam Marzuki menegaskan, lembaganya harus mengingatkan masyarakat supaya memperkuat ketahanan keluarga masing-masing. Khususnya di tengah pandemi Covid-19 seperti seakrang ini. Menurut dia gugatan perceraian-perceraian itu disebabkan oleh faktor yang kompleks.

Namun dia mengakui di tengah pandemi seperti saat ini, gugatan cerai banyak dipicu faktor ekonomi. ’’Pandemi membawa dampak pada merosotnya ekonomi keluarga,’’ tuturnya kemarin (28/8). Dia mengatakan kondisi itu kemudian memicu salah satu pihak, baik itu suami atau istri, mengajukan gugatan cerai.

Dia lantas berpesan kepada masyarakat supaya memperkuat ketahanan keluarga. Baginya keluarga adalah fondasi paling dasar dari sebuah negara. Untuk itu menjadi penting untuk menguatkan ketahanan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Ujungnya bisa menjaga ketahanan negara Indonesia.

Dia mengungkapkan salah satu cara menguatkan ketahanan adalah memperkuat sisi agama dalam kehidupan berumah tangga. Baginya aspek spiritual dan religius menjadi faktor utama dalam keluaga.

’’Supaya bisa mengambil sisi positif di tengah kondisi yang penuh tantangan ini,’’ jelasnya.

Muharam mengatakan pandemi juga membuat ruang gerak anggota keluarga menjadi terbatas. Akhirnya memicu kejenuhan. Kondisi ini berujung pada ketidakharmonisan rumah tangga. Dengan memperkuat aspek agama, dia optimistis kejenuhan seperti itu bisa dihindari.

’’Misalnya karena banyak berada di rumah, lebih rutin beribadah berjamaah bersama keluarga,’’ tuturnya.

Selain itu juga melakukan ibadah lain seperti membaca Alquran atau kajian agama bersama di rumah bersama keluarga. Dia juga menegaskan komunikasi yang baik juga dapat memperkuat ketahanan keluarga.

Menurut Muharam Kemenag memiliki sejumlah program untuk menumbuhkan ketahanan keluarga sejak dini. Misalnya dengan program bimbingan bagi para calon pengantin atau bimbingan perkawinan (bimwin). Bahkan program bimbingan ini kini diperluas. Tidak hanya bagi calon pengantin. Tetapi juga disampaikan ke kalangan remaja.

Baginya keluarga yang kuat adalah keluarga yang mampu mewujudkan konsep keluarga ideal. Dalam konsep Islam dikenal dengan istilah keluarga sakinah mawadah warahmah. ’’Yaitu kehidupan rumah tangga yang tenang, penuh cintah, dan kasih saying,’’ jelasnya. Antara suami, istri, dan anak-anak adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

 

Analisa Mutasi Virus Korona

 

Sementara itu, Peneliti di Lembaga Molekuler Eijkman terus menjalakan riset tentang berbagai macam mutasi penyakit di Indonesia. Khususnya mutase virus SARS-CoV-2 pemicu wabah Covid-19. Wakil Kepala Lembaga Molekuler Eijkman Prof Herawati Supolo-Sudoyo menuturkan, riset ini bisa dikaitkan juga dengan upaya membuat obat atau vaksin Covid-19.

Perkembangan riset soal virus SARS-CoV-2 itu menjadi bagian pidato Herawati dalam acara LIPI Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture XX di Jakarta kemarin (28/8). Dia menuturkan untuk memahami pandemi baru Covid-19, ilmuwan harus belajar dari kejadian yang sama dan pernah terjadi sebelumnya. ’’Yaitu pandemi influenza pada 1918,’’ kata dia.

Herawati mengatakan saat ini ada 16 ribu sekuens virus SARS-CoV-2. Sementara itu sampai 31 Juli dari pangkalan data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) ada 69.607 data virus yang terekam. Seluruh data virus SARS-CoV-2 itu berasal dari lebih 80 negara. Termasuk dari Indonesia.

Dari keloksi data virus itu bisa dibuat pohon kekerabatan. ’’Gunanya untuk melihat genetik satu virus ke virus lainnya,’’ tuturnya. Hasilnya saat ini memperlihatkan ada tujuh clade atau kelompok taksonomi. Ketujuh kelompok clade itu adalah G, GH, GR, L, S, V, dan Other. ’’Virus di Indonesia mayoritas masuk kelompok other,’’ katanya.

Herawati mengatakan di Indonesia termasuk di wilayah Asia, keragaman virus SARS-CoV-2 sangat tinggi. Masih perlu kajian dan penelitian mendalam untuk mencari sebabnya. Apakah disebabkan oleh lingkungan atau kondisi inangnya.

Dia mengatakan para ilmuwan atau peneliti harus bisa mencari tahu, memahami, dan menganalisis kejadian saat itu. Kemudian diperdalam dengan situasi saat ini serta cara penanganannya. Dia menjelaskan yang dilakukan para ilmuan saat ini adalah mempelajari DNA dan RNA serta sintetis protein virus pemicu pandemi Covid-19.

Dengan mempelajarinya ilmuan dapat menganalisis spektrum berbagai macam mutasi sejumlah virus penyebab penyakit di Indonesia. Termasuk mutasi virus Covid-19 itu sendiri. Dia mengatakan kategori virus SARS-CoV-2 yang ada di Indonesia dan Asia pada umumnya masih masuk kategori level 1. Meskipun begitu negara-negara saat ini harus sudah berlomba untuk membuat vaksin maupun obat. Tujuannya untuk menekan penularan serta pengobatan.

’’Sejatinya tidak ada yang siap menghadapi pandemi,’’ jelasnya. Tetapi Herawati mengingatkan kita semua harus senantiasa berusaha mengetahui cara penanganannya. Dia menegaskan pandemi Covid-19 saat ini harus menjadi momentum mewujudkan kemandirian riset dan inovasi. Khususnya di bidang biologi melekuler atau virus.

Dalam kesempatan yang sama Menristek Bambang Brodjonegoro mengatakan pandemi Covid-19 membuat kita semua belajar untuk menilik sejarah lebih dalam lagi. Tidak hanya menilik sejarah mengenai perang saja.

’’Jika kita mempelajari sejarah tentang kesehatan dan ekonomi juga penting. Barang kali kita dapat lebih waspada dan siap saat hal seperti (pandemi, Red) Covid-19 terjadi,’’ tuturnya. (wan/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks