LombokPost - Ustad Abdul Somad kembali menunjukkan teladan luar biasa. Di tengah gempuran gaya hidup glamor para penceramah, Ustad Abdul Somad justru mengaku tak pernah mengambil seperak pun dari penghasilannya di YouTube.
Bahkan, penghasilan Ustad Abdul Somad dari YouTube pernah tembus Rp150 juta hingga Rp 400 juta per bulan.
“Dari awal sampai sekarang tak pernah saya ambil seperak, haram,” kata UAS dalam ceramahnya di Masjid Jalan Cahaya, Mataram, Minggu (25/6).
Menurut Ustaz Abdul Somad, semua uang dari kanal YouTube Ustad Abdul Somad Official dialokasikan untuk kebutuhan santri, operasional pesantren, hingga dibagikan kepada fakir miskin.
Gaji dari YouTube UAS bahkan membuatnya sempat dikunjungi pegawai pajak untuk audit penghasilan digital.
“Bayar listrik, beli beras, semua untuk operasional. Kalau ditanya, dari mana makan santri? Dari YouTube. Pernah sampai Rp400 juta, habis semua untuk sembako dibagikan setiap bulan,” lanjutnya.
Penghasilan besar dari YouTube tak membuat Ustad Abdul Somad tergoda hidup mewah. Ia menegaskan, tidak butuh rumah besar, mobil mahal, atau pakaian branded. “Apa lagi saya perlu? Ini baju pun dikasih orang,” ujarnya santai.
Pengakuan UAS ini jadi kontras dengan gaya para pendakwah lain yang tak jarang memamerkan kemewahan.
Namun, Ustad Abdul Somad justru memilih hidup sederhana dan mengabdi lewat dakwah dan sedekah.
Sebagai pendakwah terkenal, Ustad Abdul Somad memang konsisten mengunggah ceramah di YouTube agar bisa menjangkau lebih banyak jamaah.
Tapi yang membedakan, UAS menegaskan dirinya bukan pebisnis, bukan pula orang kaya. Semua pendapatan dari konten digitalnya 100 persen disumbangkan.
Bukan Untuk Pamer
Ditegaskan, Ustad Abdul Somad secara terang-terangan memberitahukan penghasilan fantastisnya di youtube, bukan untuk ajang pamer.
''Ini semata-mata saya sampaikan agar tidak menjadi ajang fitnah,'' ujar UAS.
“Subscribe, like, and share. Hasilnya untuk santri dan fakir miskin. Saya tak ambil seperak pun,” tegasnya.
Sosok Ustad Abdul Somad patut diteladani. Di tengah maraknya dakwah berbalut kemewahan, ia justru menampilkan kesederhanaan dan semangat memberi yang luar biasa. (***)
Editor : Alfian Yusni