Cerita dibalik layar sedikit demi sedikit mulai terkuak saat anggota tim penyelamat diwawancarai kembali setelah sempat istirahat usai mengevakuasi.
Agam Rinjani, yang menjadi garda terdepan dan 7 orang tim penyelemat yang turun ke jurang saat berusaha menyelamatkan dan mengevakuasi jasad Juliana Marins, menceritakan kembali bagaimana mereka bertarung nyawa saat terjun ke jurang.
Melalui cannel Youtube podcash YIM Official Agam Rinjani menceritakan seluruh kisahnya.
Agam Rinjani yang asli orang Makassar mengaku terlanjur jatuh cinta pada Gunung Rinjani. Berawal saat dia mendaki Rinjani di semester 3 kuliahnya, kemudian setelah lulus kuliah jurusan antropologi tahun 2015, dia kembali lagi ke Rinjani hanya dengan modal uang Rp 10.000.
Lantas apa yang membuat Agam jatuh cinta pada Rinjani?
"Rinjani itu komplit. Itu yang membedakan dengan gunung-gunung yang lain. Kalau di Jawa ada Merbabu yang savananya bagus, di Rinjani juga ada. Ada Semeru yang punya pasir volcano di Rinjani juga ada. Pemandian air panas ada, mau jalur hutan kayak di Sulawesi, di Rinjani ada. Rinjani dilihat dari sisi mana pun indah dan eksotik," ucap Agam menceritakan wujud Rinjani.
Agam kemudian mulai membuka kisahnya saat mengevakuasi Juliana Marins.
Saat kejadian Juliana jatuh, Agam dan kawan-kawan sedang berada di Jakarta untuk melihat beberapa brand yang mau dipasangkan untuk safety di Rinjani.
Hari ke-3, Agam dan kawan-kawan baru tiba di Lombok, menuju Rinjani dan langsung membantu evakuasi Juliana.
Rupanya, sebelum Agam dkk datang, Tim SAR Lombok Timur sudah melakukan upaya pertolongan sejak hari pertama. Bahkan Agam menceritakan aksi nekat kawan-kawan Tim SAR Lombok Timur yang langsung turun ke jurang di malam hari, kerena mereka tiba hari sudah sore.
"Kawan-kawan Lotim ini karena semangat ingin menyelamatkan Juliana langsung turun malam itu juga, padahal hal ini tidak boleh karena terlalu beresiko, apapun bisa menimpa.mereka di malam hari," ucap Agam.
Yang membuat Agam salut, salah satu anggota Tim SAR Lombok Timur yang bernama Samsul Padhli sampai bermalam seorang diri di tebing di kedalaman 400M, karena menunggu cahaya matahari untuk menemukan posisi Juliana, yang saat itu belum ditemukan.
"Mas Samsul ini sempat menyuruh kawan-kawannya di atas untuk naik dan meninggalkannya sendiri, tapi kawan-kawannya tidak mau dan tetap memegang tali penahan Mas Samsul agar tidak jatuh," ungkap Agam.
Baru di hari kedua Tim SAR Lombok Timur kembali mencari posisi Juliana Marins namun tidak juga ketemu. Akhirnya karena jangkaun tali hanya 400 meter, mereka naik ke atas sambil menunggu bantuan peralatan tiba dan tambahan tim.
"Saya telpon lagi, gimana masih belum ketemu juga kata kawan-kawan di lapangan. Akhinya saya ajak Mas Rio (kawan yang sama-sama berangkat ke Jakarta) untuk segera balik ke Lombok, tapi baru dapat tiket besok paginya," cerita Agam.
Senin (23/6) pagi Agam dkk tiba di Bandara Lombok, dan mereka langsung menuju Rinjani, lengkap dengan peralatan mendaki dan tali sepanjang 1500 untuk berjaga-jaga jika tali Tim SAR Lombok Timur kurang atau putus.
Sore hari Agam tiba di tebing jurang tempat Juliana Jatuh. Setelah berkoordinasi, Agam dan Tim Lotim yang berjumlah total 7 orang turun ke bawah. Disini mereka baru menemukan Juliana namun dalam keadaan tak bernyawa.
"Jadi posisi saya di atas, Mas Samsul yang turun. Dia melapor Bang sudah ketemu ini, saya tanya gimana kondisinya, sudah MD (meninggal dunia) bang, kata Mas Syamsul," cerita Agam.
Tadinya Agam dkk merencanakan mengevakuasi Juliana melalui danau Segara Anak alias turun ke bawah. Namun ternyata setelah melihat keadaan di lapangan, lebih jauh lagi jika mereka turun ke danau, ditambah kondisi bebatuan lepas di bawah lebih parah banyaknya.
"Kami sampai dibawah itu jam 7 malam, sehingga tidak mungkin melakukan evakuasi," ucap Agam yang akhirnya memutuskan bermalam dulu dengan jenazah Juliana baru esok harinya dievakuasi lewat atas.
Agam dan kawan-kawan selalu berdoa supaya tidak turun hujan selama mereka bergelantungan di pinggir jurang.
"Saat ditebing, kami hanya berdoa hujan tidak turun, karena klo iya kami semua pasti akan mati dibawah," ungkap Agam.
Bagaimana tidak? Di setiap tebing berisi serpihan batu yang tidak menempel atau melekat, ada yang besar dan banyak yang kecil. Saat mereka melakukan gerakan turun atau naik, serpihan ini langsung turun bak longsor. Mengenai kepala dan seluruh badan tim yang berada di bawahnya.
Apalagi jika turun hujan, maka sudah bisa dipastikan longsor akan terjadi, dan hujan batu akan membuat semua tim penyelamat tak bisa menahan diri karena gempuran batu dari atas.
"Saat kami turun hati-hati saja, batu akan ikut jatuh dan mengenai kawan yang dibawah, ini badan saya luka semua, batu kecil bisa kami tahan pakai helm tapi ketika batu besar jatuh kami harus menghindar," ungkap Agam.
Agam tidak bisa bayangkan jika saat itu turun hujan, bagaimana nasib dia dan enam orang kawannya.
"Seandainya hujan turun malam itu, kami semua mati. Karena bebatuan di jalur itu adalah bebatuan yang labil. Yang gampang sekali longsor," ucap Agam.
Namun, walau pun taruhan nyawa seperti itu, semangat Agam dkk untuk tetap mengusahakan evakuasi tetap membara.
"Karna ini menyangkut nama bangsa Indonesia, kami tidak ingin nama Indonesia buruk di mata orang luar terutama Brasil. Bahkan saya sengaja mengibarkan bendera merah putih untuk memberi semangat ke kawan-kawan yang waktu itu sudah loyo karena berhari-hari tidak tidur," ungkap Agam.
Editor : Siti Aeny Maryam