LombokPost - Di balik kabar duka yang menyelimuti tragedi pendaki Brasil, Juliana Marins, tersimpan potongan kenangan yang tak banyak diketahui publik.
Ali Mustafa, sang guide yang menemani Juliana selama pendakian, mengaku justru paling sering berbincang dengannya. Ia mengenang sosok Juliana sebagai pendaki pemula yang ramah, penuh semangat, dan hanya ingin menikmati pemandangan alam Gunung Rinjani.
Baca Juga: Ali Mustafa Ungkap Detik Kritis: Saya Sudah Tahu Juliana Tak Akan Sampai Puncak!
“Dia itu ke situ sendiri dan ini adalah pertama kali dia mendaki,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah Juliana punya pengalaman mendaki sebelum ini, Ali menegaskan, “Tidak pernah mendaki sebelumnya," tuturnya.
Ali memang tidak sempat bertanya langsung apa alasan Juliana memilih Rinjani sebagai pendakian perdananya. Namun dari interaksi mereka, ia bisa membaca maksudnya.
“Saya nggak sempat tanya sih itu kenapa. Tapi saya bisa nangkep, motivasi sebenarnya dia sedang mencari apa? Melihat view aja sebenarnya. View yang dia cari sebenarnya di Rinjani. View. Ya, view-nya yang dia cari," tuturnya.
Ali mengenang kebiasaan Juliana yang unik. Ia bukan tipe pendaki yang sibuk mengambil foto atau membuat vlog. “Kalau foto-foto sih jarang sih dia. Dia lebih suka nge-dance sih. Kayak joget-joget gitu lah,” kata Ali.
Juliana membawa speaker kecil, dan selama perjalanan, ia memutar lagu-lagu yang ia sukai. “Saya sempat stel (putar, Red), apa namanya, dengerin musik juga sama dia. Dan dia itu senang sekali," ucapnya.
Ali mengaku, momen-momen kecil seperti itu justru menjadi kenangan yang paling membekas.
Seperti lazimnya pendakian Gunung Rinjani, perjalanan menuju puncak atau summit attack dilakukan pada dini hari. Ali membenarkan bahwa waktu pendakian dirancang agar sampai puncak saat matahari terbit.
“Iya, pagi-pagi. Jam 3 pagi,” jawab Ali.
Waktu tersebut dianggap ideal karena cuaca masih stabil, dan pendaki bisa menikmati panorama sunrise dari puncak Rinjani—sesuatu yang menjadi magnet bagi pendaki dari seluruh dunia, termasuk Juliana.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin