LombokPost - Pemulihan pascabencana banjir besar yang melanda Sumatera pada tahun 2025 tidak boleh hanya terpaku pada pembangunan infrastruktur fisik.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa tanpa sentuhan pada sektor ketenagakerjaan, pemulihan ekonomi masyarakat terancam menjadi "pemulihan semu".
Risiko "Bencana Kedua" Kepala Pusat Riset Kependudukan (PRK) BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, menegaskan bahwa memutus sumber penghidupan adalah dampak paling fatal dari bencana bagi pekerja informal, petani, dan pelaku usaha mikro.
Senada dengan itu, Profesor Riset BRIN, Zantermans Rajagukguk, menyebut kehilangan pekerjaan pascabencana sebagai "bencana kedua" yang mengguncang stabilitas rumah tangga, pendidikan, hingga kesehatan.
Solusi Konkret: Padat Karya dan Cash for Work Berdasarkan kajian mendalam, BRIN merekomendasikan pendekatan ekonomi yang menyentuh akar rumput untuk menjaga konsumsi dasar rumah tangga.
Skema Padat Karya Tunai: Mengintegrasikan bantuan pendapatan dengan pekerjaan produktif melalui model hibrida agar warga tetap memiliki martabat dan produktivitas.
Rehabilitasi Aset: Memfokuskan bantuan pada perbaikan aset produktif petani dan buruh harian agar mereka bisa segera kembali berproduksi.
Dukungan Pembiayaan Khusus: Peneliti BRIN, Syahrir Ika, menyoroti pentingnya akses pembiayaan lunak, pendampingan usaha, serta penguatan rantai pasok untuk menghidupkan kembali ekonomi lokal.
Membangun Ekonomi yang Adaptif Pemulihan mata pencaharian pascabanjir Sumatera harus difokuskan pada diversifikasi sumber penghasilan.
Peneliti PRK BRIN, Ngadi, menjelaskan bahwa bantuan tunai harus bersifat produktif agar masyarakat tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi mampu memperkuat ketahanan komunitas secara berkelanjutan.
“Pemulihan pascabencana harus berfokus pada pemulihan mata pencaharian, bukan semata pembangunan fisik,” tegas Ali Yansyah dalam webinar nasional di Jakarta.
Sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan dunia usaha menjadi kunci utama untuk memastikan masyarakat Sumatera bangkit lebih kuat dan mandiri secara ekonomi.
Editor : Kimda Farida