Almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, sekitar pukul 20.15 WIB, setelah menjalani perawatan akibat sakit.
Kabar wafatnya Agus Widjojo disampaikan melalui akun resmi Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI).
“Segenap keluarga besar Lemhannas RI berdukacita atas wafatnya Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo. Mendiang adalah Gubernur Lemhannas RI periode 2016–2022,” tulis akun @lemhannas_ri.
Jenazah almarhum direncanakan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Putra Pahlawan Revolusi
Agus Widjojo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 8 Juni 1947. Ia merupakan putra Mayor Jenderal (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, salah satu perwira TNI yang gugur dalam Peristiwa 30 September 1965.
Sepanjang hidupnya, Agus Widjojo dikenal sebagai pemikir militer, reformis TNI, akademisi, sekaligus diplomat, dengan kontribusi besar terhadap arah profesionalisme militer Indonesia.
Gagasan-gagasannya tentang supremasi sipil, reformasi TNI, dan rekonsiliasi sejarah nasional banyak dituangkan dalam buku, forum akademik, dan diskusi publik.
Karier Panjang Militer hingga Diplomasi
Agus Widjojo merupakan lulusan AKABRI Magelang tahun 1970. Dalam karier militernya, ia pernah menduduki berbagai jabatan strategis, mulai dari komandan batalion infanteri, komandan brigade, hingga Kepala Staf Teritorial TNI.
Di masa transisi reformasi, ia dikenal sebagai salah satu perwira yang konsisten mendorong pembaruan dan profesionalisme TNI.
Selain di militer, Agus Widjojo juga berkiprah di ranah politik dan kenegaraan. Ia pernah menjabat Wakil Ketua MPR RI mewakili Fraksi TNI/Polri pada periode 2001–2003.
Pada 15 April 2016, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai Gubernur Lemhannas RI, jabatan yang diemban hingga 2022.
Karier pengabdiannya berlanjut di dunia diplomasi setelah dilantik sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Filipina pada 12 Januari 2022.
Warisan Pemikiran dan Keteladanan
Kepergian Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan kolega, tetapi juga bagi publik yang mengenal dedikasi dan pemikirannya.
Jejak pengabdian, gagasan, serta keteladanan almarhum akan terus dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan reformasi militer dan diplomasi Indonesia.
Editor : Marthadi