Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wilayah NTB Terdampak "Godzilla" El Nino, Berpotensi Jadi Bencana Kekeringan

Umar Wirahadi • Minggu, 22 Maret 2026 | 19:57 WIB

Ilustrasi daerah terdampak kekeringan di wilayah Lombok Tengah, NTB.
Ilustrasi daerah terdampak kekeringan di wilayah Lombok Tengah, NTB.

LombokPost – Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering pada 2026. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Provinsi NTB. 

Kondisi ini terjadi seiring munculnya fenomena "Godzilla" El Nino. Istilah ini merujuk pada penguatan ekstrem El Nino yang berdampak signifikan terhadap pola cuaca global.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang memengaruhi distribusi cuaca secara global. Dalam kondisi tertentu, intensitasnya meningkat tajam hingga dijuluki "Godzilla". 

Meski demikian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap dampak fenomena "Godzilla" El Nino tidak akan merata di Indonesia.

"Daerah yang mengalami dampak El Nino adalah wilayah selatan Indonesia. Antara lain Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT," kata Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Prof Erma Yulihastin, Jumat (20/3). 

Dampak dari kondisi ini menyebabkan kemarau yang lebih kering dan panjang. Yaitu mulai melanda pada periode April hingga Oktober 2026 yang bertepatan dengan musim kemarau di Indonesia. 

Kondisi ini berpotensi mengganggu sektor pertanian terutama di wilayah Jawa yang menjadi salah satu lumbung pangan nasional. 

"Kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan," jelas Prof Erma. 

Kondisi ini diperkirakan akan semakin kuat karena berpotensi terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Fenomena ini ditandai dengan pendinginan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa, yang turut menghambat pembentukan awan hujan.

Akibatnya, sebagian besar wilayah Indonesia bisa mengalami penurunan curah hujan secara signifikan.

"Periode ini menjadi krusial karena dampaknya bisa lebih terasa dibandingkan waktu lain dalam setahun. Efeknya bisa menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering hingga hujan makin jarang turun," paparnya. 

Prof Erma Yulihastin mengingatkan pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipasi di berbagai wilayah.

"Oleh karena itu, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah di Pantura Jawa. Selain itu, dampak Karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi. Namun, di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor," pungkasnya. 

 

Editor : Akbar Sirinawa
#BRIN #El Nino dan IOD positif #bencana kekeringan #Provinsi NTB #musim kemarau 2026