alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

Semangat Antisurut Maudy Ayunda Mengejar Mimpi

MAUDY Ayunda, 24, layak disebut Indonesia’s sweetheart. Cantik, pintar, pandai berakting, dan bersuara merdu. Seolah tidak ada cela dari cewek satu ini. Kini Maudy berada di awal mimpi barunya: melanjutkan S-2 di salah satu kampus terbaik dunia.

Maudy berhasil membawa kata galau ke level yang berbeda. Kalau galau mau nembak duluan atau nunggu si dia mengungkapkan perasaan, itu biasa aja. Kalau galaunya gara-gara bingung memilih satu di antara dua universitas terbaik dunia, itu baru luar biasa!

Kegalauan Maudy tersebut kemudian jadi inspirasi. Lagi-lagi hal itu menunjukkan, betapa mungkin sebuah mimpi untuk diwujudkan. “Nduk, coba nanti kamu kalau bisa ke Harvard,” kata Maudy, menirukan ucapan sang ayah ketika dirinya masih duduk di bangku SD. Kuliah di Harvard University menjadi impian Maudy dan ayahnya sejak lama.

Mimpi hampir menjadi nyata saat cewek yang memulai karir sebagai aktris lewat film Untuk Rena (2005) itu dinyatakan lulus program master pendidikan di universitas yang berkampus di Cambridge, Massachusetts, tersebut. Namun, Maudy bimbang. Sebab, empat tahun terakhir, muncul mimpi baru. Yakni, melanjutkan studi di program MBA dan pendidikan di Stanford University. Dia bercerita, banyak temannya yang kuliah di sana. Mendengar pengalaman mereka, Maudy sangat tertarik.

“Yang bikin galau (Harvard atau Stanford, Red), dua-duanya impian aku di waktu yang berbeda,” ungkap Maudy ketika dijumpai dalam acara Kreatif Pasti Sukses oleh Standardpen di Grand City Surabaya pada Sabtu malam (30/3).

Sulung dari dua bersaudara itu akhirnya menyudahi kegalauannya (yang juga menjadi kegalauan warganet se-Indonesia) dengan memilih Stanford University. Jurusan S-2 tersebut memang agak berbeda dengan pendidikan S-1 di Oxford University. Meski demikian, menurut Maudy, itu bukan masalah. Sebab, jurusan S-1-nya terbilang general.

“Ada politik, filsafat, dan ekonominya. Dari sisi ekonomi itu, banyak aspek bisnis yang nantinya nyambung di S-2 ini,” jelas Maudy yang malam itu tampil anggun dengan outfit biru tua dan celana panjang hitam.

Pemilik single Aku Sedang Mencintaimu tersebut konsisten mengejar Stanford sejak kali pertama mengimpikannya. Kunci utamanya adalah konsistensi. “Semangat cenderung nggak pernah surut sejak empat tahun lalu. Padahal, aku cukup happy dengan pekerjaan dan karir aku,” ucapnya.

Di sela-sela kesibukannya di dunia hiburan, pemeran Kugy dalam film Perahu Kertas itu bisa meluangkan waktu untuk mengikuti ujian, membuat application letter, dan persyaratan S-2 lainnya. Semangat Maudy dalam mengejar mimpi tidak terlepas dari passion-nya, yaitu belajar.

Sejak Maudy kecil, orang tuanya selalu punya cara untuk membuatnya suka belajar. Misalnya, membelikan alat-alat tulis yang disukai Maudy tiap masuk semester baru. “Belajarnya dibuat bareng temen, sama guru yang menyenangkan. Jadi, banyak support system yang bikin aku enjoy belajar,” terangnya.

Saking sukanya belajar, dia juga jadi suka ujian. Perasaannya menjelang ujian sama dengan perasaan ketika harus nyanyi di panggung. “Ada sesuatu yang menantang dan serem-serem seneng gitu. Sama kayak nyanyi. Sebenarnya deg-degan lho nyanyi di depan banyak orang,” paparnya.

Maudy berpesan agar orang lain tidak perlu takut jika tak memiliki passion belajar seperti dirinya. “Mengejar mimpi, belajar, atau apa pun, itu proses mengenal diri sendiri. Mengenal sistem (belajar, Red) yang paling tepat,” jelasnya.

“Tapi, nggak semua orang punya passion itu kan,” tambahnya.

Selama menjalani pendidikan S-2, perempuan yang lahir pada 19 Desember 1994 itu tetap akan membagi waktunya dengan berkarir di industri hiburan. Sama seperti yang dilakukannya ketika kuliah S-1. Dia bakal menyempatkan pulang ke tanah air.

“Enaknya di industri hiburan kan creative control-nya. Kapan kita mau ngeluarin single, itu bisa diatur,” tuturnya.

Setelah lulus nanti, Maudy juga tetap melanjutkan karir sebagai penyanyi dan aktris. Selain itu, dia ingin terjun dalam pekerjaan di bidang pendidikan dan social entrepreneurship. “Mungkin start-up bisnis yang bergerak di bidang sosial. Spesifiknya nanti aja sambil jalan. Tapi, yang pasti, harus balik ke Indonesia,” katanya.

Sama seperti perempuan di usianya pada umumnya, Maudy sering ditanya “kapan nikah?” oleh teman atau saudara. Terlebih, dia sudah berpacaran sekitar empat tahun dengan seorang pria bernama Arsyah Rasyid. Dia adalah CEO dan co-founder perusahaan multimedia bernama Kokatto. Arsyah sama pintarnya dengan Maudy. Dia lulusan Monash University dan University of Melbourne.

“Jawabannya: nanti kalau udah siap,” ungkapnya, lantas tersenyum.

Dia menuturkan bahwa kesiapan itu relatif. Namun, ada beberapa hal yang masih ingin dicapainya sebelum menuju ke jenjang pernikahan. “Ada banyak hal yang harus di-thicked dan itu beda-beda tiap orang. It’s a huge step for me,” katanya.

Dia tidak mau terburu-buru. ”Aku harus make sure that I’m ready,” tegasnya.

Dia harus bisa nyaman dengan diri sendiri dulu baru memutuskan menikah. Tidak ada target berapa tahun lagi Maudy akan menikah. “Dibiarkan mengalir natural aja,” tandasnya. (adn/c18/jan/JPG/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks