Musisi asal Puerto Rico itu tampil selama 14 menit dalam bahasa Spanyol penuh, menjadikannya artis pertama yang melakukan hal tersebut di ajang olahraga paling ditonton di Amerika Serikat. Penampilan tersebut menjadi surat cinta terbuka bagi Puerto Rico, kampung halaman Bad Bunny, sekaligus pesan persatuan lintas benua Amerika.
Dikutip dari bbc.com, Bad Bunny—nama asli Benito Antonio Martínez Ocasio—menyisipkan simbol kuat sejak awal penampilan, muncul dari ladang tebu hingga menghadirkan casita ikonik yang menyerupai rumah tradisional Puerto Rico.
Sejumlah bintang dunia ikut meramaikan panggung. Lady Gaga dan Ricky Martin tampil sebagai tamu spesial, sementara Pedro Pascal, Cardi B, Karol G, dan Jessica Alba terlihat menari di atas panggung.
Bad Bunny hanya mengucapkan satu kalimat berbahasa Inggris: “God bless America.” Setelah itu, ia menyebut satu per satu negara di Amerika Tengah, Selatan, dan Utara, diiringi para penari yang membawa bendera masing-masing. Di layar belakang terpampang pesan tegas: “The only thing more powerful than hate is love.”
Di akhir segmen, ia mengangkat bola American football bertuliskan “Together, We Are America.”
Meski tak menyampaikan kritik politik secara eksplisit, Presiden Donald Trump bereaksi keras. Lewat Truth Social, Trump menyebut penampilan Bad Bunny sebagai “sangat buruk, salah satu yang terburuk sepanjang masa” dan menilai aksi tersebut sebagai “penghinaan terhadap Keagungan Amerika.”
Trump bahkan menyindir penggunaan bahasa Spanyol dengan mengatakan “tidak ada yang mengerti apa yang dikatakan pria ini.”
Sebagai respons tak langsung, kelompok konservatif Turning Point USA menggelar acara tandingan bertajuk All-American Halftime Show, yang menampilkan Kid Rock, musisi pendukung Trump.
Penampilan ini menjadi momen penting bagi Bad Bunny. Ini adalah pertama kalinya ia tampil di Amerika Serikat—di luar Puerto Rico—sejak merilis album pemenang Grammy Debí Tirar Más Fotos tahun lalu.
Tema keluarga dan sejarah Puerto Rico ditampilkan kuat, mulai dari adegan pernikahan pasangan muda di tengah penari Latino, hingga momen simbolis ketika Bad Bunny menyerahkan piala Grammy kepada seorang anak kecil.
Ia juga memanjat menara listrik sambil bernyanyi, yang ditafsirkan sebagai penghormatan bagi korban Badai Maria 2017. Kostum sweater krem dengan angka 64 disebut merujuk pada angka resmi korban meninggal, meski studi independen menyebut jumlahnya jauh lebih besar.
Baca Juga: Efisiensi Penerapan SOTK Diperdebatkan, Pemprov NTB Tegaskan Penghematan Tembus Rp 200 Miliar
Sebelumnya, Bad Bunny dikenal vokal menentang kebijakan ICE dan memilih tidak menggelar tur di daratan Amerika Serikat karena khawatir penggemarnya menjadi sasaran aparat imigrasi.
Namun di panggung Super Bowl, ia memilih bahasa universal: musik, simbol, dan budaya.
Penampilan tersebut ditutup dengan pengibaran bendera Puerto Rico dan Amerika Serikat berdampingan—sebuah pesan halus, namun keras: budaya Latin adalah bagian tak terpisahkan dari Amerika.
Super Bowl kali ini bukan hanya soal olahraga. Ini soal identitas. Dan Bad Bunny menang besar.
Editor : Marthadi