LombokPost - Film yang disutradarai oleh Lee Byeong-heon (Extreme Job, Dream) ini menandai kolaborasi epik antara Choi Woo-shik dan Kim Ji-won.
Berbeda dari komedi romantis biasa, Once We Were Us adalah drama melankolis yang mengeksplorasi konsep "bagaimana jika" dalam sebuah hubungan yang telah kandas.
Bercerita tentang Ji-hoon (Choi Woo-shik) dan Seo-yeon (Kim Ji-won) yang pernah menjadi sepasang kekasih selama tujuh tahun sebelum akhirnya berpisah karena ego masa muda.
Sepuluh tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali dalam sebuah proyek restorasi film tua.
Uniknya, film ini menggunakan alur non-linear. Kita diajak melompat antara masa kini yang dingin dan penuh kecanggungan, dengan masa lalu yang hangat namun penuh retakan kecil.
Penonton dipaksa melihat bagaimana cinta yang begitu besar bisa terkikis oleh hal-hal sepele yang dibiarkan menumpuk.
Poin Utama Ulasan
1. Akting "Micro-Expression" yang Memukau
Choi Woo-shik kembali membuktikan dirinya sebagai raja karakter yang "tampak biasa saja namun rapuh".
Sementara itu, Kim Ji-won memberikan performa yang sangat terkontrol—ia mampu menunjukkan luka hanya lewat tatapan mata tanpa perlu banyak dialog.
Chemistry mereka terasa sangat organik, seperti dua orang yang memang punya sejarah panjang.
2. Sinematografi: Perbedaan Warna Dua Era
Sinematografer menggunakan palet warna yang kontras:
* Masa Lalu: Menggunakan tone hangat, kekuningan, dan grainy (seperti memori yang indah namun mulai pudar).
* Masa Kini: Menggunakan warna biru dingin, tajam, dan minimalis (mencerminkan realita yang kaku).
3. Dialog yang "Menampar" Realita
Naskahnya tidak berusaha menjadi puitis secara berlebihan.
Sebaliknya, dialog-dialognya terasa sangat jujur—seperti percakapan yang mungkin kita lakukan dengan mantan kekasih di sebuah kafe sepi pukul satu dini hari.
Kesimpulan: Apakah Layak Ditonton?
Once We Were Us bukan sekadar film tentang balikan dengan mantan.
Ini adalah film tentang proses berdamai dengan diri sendiri dan menerima bahwa beberapa orang hadir dalam hidup kita hanya untuk menjadi kenangan, bukan masa depan.
Peringatan: Siapkan tisu. Film ini tidak memberikan akhir "dongeng", melainkan akhir yang "dewasa".
Rating Akhir: 8.8/10