alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Pemasukan Turun Drastis, RSUD NTB Butuh Suntikan Anggaran untuk Tangani Pasien Korona

MATARAM—Pengurangan layanan pasien umum selama masa pandemi korona membuat pemasukan RSUD NTB menurun. Kepala Bagian Keuangan RSUD NTB Hamid Fahmi Ardianto menjelaskan penerimaan rumah sakit dari pasien umum yang membayar langsung  turun drastis.  ”Terutama di bulan April ini drop sekali,” katanya Rabu (29/4) lalu.

Ia membandingkan, pada Januari, Februari, dan Maret 2019, pendapatan rata-rata Rp 1,9 miliar hingga Rp 2 miliar. Pada periode yang sama tahun ini, penerimaan turun 30 hingga 31 persen. Kini rata-rata pendapatan Januari-Maret hanya mendapat Rp 1,3 miliar. Kemudian bulan April mentok di angka Rp 534 juta. ”Penurunan bulan April ini paling terasa,” katanya.

Hamid mengaku cukup kaget dengan kondisi itu. Biaya operasional untuk sementara masih mengandalkan pembayaran klaim BPJS Kesehatan. ”Pencairan dari BPJS yang kita pakai dulu,” jelasnya.

Masalahnya, tidak semua dana yang diklaim ke BPJS terbayar. Januari-Maret mereka mengklaim Rp 14 miliar. Namun baru dibayar Rp 10 miliar. ”BPJS memverifikasi lagi, pembayaran pun tidak langsung. Tapi kita tertolonglah dengan pembayaran piutang BPJS,” kata Hamid.

Untuk saat ini, biaya operasional masih bisa ditanggulangi. Namun ia khawatir jika penerimaan terus menerus melorot. ”Biaya operasional kami bisa jadi minus,” katanya.

Beberapa bank pun sudah datang menawarkan dana talangan. Tapi mereka belum mau mengambil risiko utang. ”Cukup berat, pengaruh Covid ini besar sekali,” katanya.

Menurutnya, rumah sakit membutuhkan subsidi. Terutama untuk membayar tagihan listrik, air, dan telepon. Setiap bulan tagihannya Rp 400 juta lebih. ”Kalau dari DIPA yang tersedia, saya hitung-hitung kami hanya mampu membayar untuk delapan bulan saja. Setelah itu tidak bisa lagi,” katanya.

Jika dalam delapan bulan ke depan tidak ada tambahan dana operasional dan penerimaan rumah sakit, ia memperkirakan RSUD tidak mampu lagi membayar tagihan listrik, air, dan teelpon. ”Harapan kami di perubahan (APBD Perubahan) kita ada tambahan anggaran,” katanya.

Khusus untuk penanganan Covid-19, RSUD mendapat bantuan dari APBD. Usulan tahap pertama Rp 7,8 miliar, tapi setelah direvisi ditambah menjadi Rp 8,1 miliar. ”Kami baru menerima Rp 7,8 miliar sisanya masih menunggu,” katanya.

Demikian pula dana tahap kedua sebesar Rp 34 miliar belum dicairkan. Dana-dana itu diambil dari hasil rasionalisasi APBD seperti belanja-belanja konstruksi bersumber dari DBHCHT. ”Biaya besar (penanganan Covid-19) di alat PCR dan reagen untuk tes swab,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi mengakui kondisi saat ini cukup berat. Penerimaan rumah sakit turun drastis. Tapi pembatasan pasien dilakukan mencegah penularan virus yang bisa berdampak lebih besar.

”Ini sesuai himbauan Kemenkes untuk menjaga social distancing,” katanya.

Kurangi Layanan Umum

Sebelumnya Direktur RSUD NTB dr HL Hamzi Fikri, kepada Lombok Post menjelaskan  selain mengurangi layanan umum RSUD NTB meniadakan jam kunjungan. Pasien rawat jalan di poli dan pasien operasi elektif yang dilayani yang urgen saja.

Sebagai bagian untuk mencegah penyebaran virus Korona, pengurangan layanan tersebut berimbas pada pendapatan rumah sakit yang anjlok drastis. Meski mendapat suntikan dana APBD, pendapatan rumah sakit rujukan pasien Korona di NTB ini kini melorot jauh. Biasanya rumah sakit mendapatkan Rp 2 miliar tiap bulan dari layanan pasien umum. April ini, pendapatan anjlok hingga Rp 534 juta.

”Kunjungan memang menjadi berkurang. Tapi cash flow kita masih normal karena tetap melayalani pasien covid dan non covid,” kata ujarnya Rabu (29/4).

Dia menjelaskan, untuk biaya penanganan pasien covid-19 diambil dari dana tidak terduga (DTT) yang disiapkan di APBD NTB. Dana tahap pertama dialokasikan Rp 8,1 miliar. Tahap kedua Rp 34 miliar. Sedangkan kebutuhan tahap kegita sedang disusun.

Fikri menjelaskan, selama pandemi Covid-19, RSUD meniadakan jam kunjung. Pihaknya juga mengatur jumlah pelayanan pasien poli dan pasien operasi elektif. ”Kami memprioritaskan pasien live saving (urgen) rujukan,” jelasnya.

Meski pendapatan berkurang, semua itu dilakukan demi mencegah penularan virus Korona. ”Untuk klaim pasien pasien covid dan non covid sudah kita ajukan. Masih berproses,” kata Fikri, tanpa menyebut jumlah klaim.

Pengajuan dilakukan ke Kementerian Kesehatan. Pembayaran dari Kementerian Kesehatan itulah yang kini sedang ditunggu pihak rumah sakit.

(ili/r6/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks