alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Pelaku Penyerangan Kampus UIN Mataram, Diminta Menyerahkan Diri

MATARAM-Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram diserang sekelompok orang. Kaca dan sejumlah fasilitas kampus dirusak. Salah seorang dosen terluka dalam insiden itu. ”Anak saya menyuruh saya pergi, anak saya kemudian dikeroyok,” tutur Wakil Rektor UIN Mataram Dr Hj Nurul Yakin yang ada di lokasi kejadian, kemarin.

Ia menuturkan, waktu itu dia mengambil gambar dan video pengerusakan. Mengetahui aksinya direkam, beberapa orang menyerangnya. Fahrurrozi, anaknya yang merupakan dosen UIN berusaha melindungi sang ibu. Pemukulan pun tidak bisa dihindari. Kepalanya pun terluka berlumur darah.

Nurul Yakin menyebut, pelaku penyerangan cukup banyak. Sehingga tidak bisa dicegah. Pihak kampus pun menyerahkan penanganan kasus itu ke kepolisian. ”Kami sudah lapor,” katanya.

Aksi brutal itu terjadi dini hari, pukul 00.30 Wita. Saat itu baru saja dilakukan pergantian penjaga keamanan kampus. Tiba-tiba, sekelompok orang dari arah timur merangsek masuk melalui tembok dan melakukan penyerangan.

Dalam rekaman yang didapatkan Lombok Post, kelompok orang itu melempari kaca-kaca kampus dengan batu dan kayu. Pos satpam dan pintu gerbang kampus dirusak. Lampu-lampu yang baru dipasang pun rusak. Para mahasiswa yang tinggal di asrama dibuat kaget.

H Subuh, kepala Biro Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Mataram menerangkan, insiden bermula setelah pihak ketiga, PT Rajawali, selaku penyelenggaraan keamanan kampus melakukan serah terima petugas keamanan. ”Setelah itu datang penjaga malam (pengganti) 20 orang dari Karang Anyar dan Sekarbela,” katanya.

Setelah itu, datang sekelompok warga itu. Dia meminta semua orang di kampus keluar. ”Ada pelemparan dan terdengar suara pecah kaca,” tuturnya.

Aksi pengerusakan berlangsung 30 menit. Pelaku berhenti pukul 01.00 Wita. ”Saya langsung minta bantuan polisi,” katanya.

Setelah insiden pengerusakan mereda, aparat kepolisian datang mengamankan lokasi. Pihak UIN Mataram kemudian melaporkan kejadian itu kepada Polresta Mataram. ”Ada pelanggaran hukum, karena ini perusakan barang milik negara,” katanya.

Dia mencatat, ada 10 gedung yang mengalami kerusakan. Sebagian besar merupakan gedung yang baru dibangun. ”Kerugian kita taksir sekitar Rp 1 miliar ini,” sebutnya.

H Subuh menduga, pelaku merupakan warga sekitar kampus di Lingkungan Jempong. ”Mungkin karena merasa piringnya diambil, mereka tidak terima orang luar yang menjaga kampus,” katanya.

Dia menjelaskan, ada 40 orang warga Jempong yang putus kontraknya sebagai penjaga keamanan. Selama ini mereka dipekerjakan PT Rajawali. ”Kontrak mereka memang sampai jam 12 malam itu,” katanya.

Setelah kontrak dengan pihak ketiga habis, pihak kampus pun mengangkat penjaga keamanan baru. Hal itu dilakukan sembari menunggu proses lelang penyelenggaraan keamanan kampus. ”Kita menunggu proses lelang ini,” ujarnya.

Petugas keamanan yang diangkat UIN Mataram berasal dari luar Jempong. Sedangkan warga Jempong, menurut Subuh, tidak mau karena hanya sebagian yang akan diangkat. ”Mereka tetap ngotot, harus kami (warga Jempong) semua yang menangani keamanan di kampus UIN Mataram,” tuturnya.

Karena manajemen kampus tidak bisa menampung keinginan warga, insiden penyerangan pun terjadi. ”Kita mau mau bilang apa kalau warga sudah begitu,” ujarnya.

Kabag Ops Polresta Mataram Kompol M Taufik menerangkan, pihaknya baru mengetahui insiden itu pukul 01.15 Wita. ”Saat petugas ke sini kacanya sudah seperti ini,” katanya.

Menurutnya, penyerangan disebabkan kesalahpahaman warga dengan pihak kampus. Dalam beberapa pertemuan, sudah disepakati warga Jempong akan direkrut setelah dua bulan nanti. ”Namun ada selentingan-selentingan yang menyatakan warga Jempong hanya sebagian saja,” katanya.

Isu itulah yang membuat warga emosi dan melakukan penyerangan. Dengan kejadian itu, pihaknya akan memproses laporan itu. ”Kami imbau kepada warga, kiranya ini adalah perbuatannya silakan serahkan diri ke kepolisian!” imbuhnya.

Taufik memastikan, aparat kepolisian sudah melihat wajah-wajah pelaku di rekaman CCTV kampus. Sehingga lebih baik mereka menyerahkan diri. (ili/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.
Enable Notifications    Ok No thanks