alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Alat Rapid Test Murah Buatan NTB Siap Akhir Juli

MATARAM-Alat rapid test RI-GHA buatan NTB belum bisa diproduksi masal. Penyebabnya, antigen yang menjadi bahan pembuatan alat rapid test rusak. Produksi masal pun mundur sebulan.

”Sudah mau diproduksi masal ini. Minggu lalu malah. Tapi bahan baku yang datang ternyata rusak,” kata Direktur Laboratorium Hepatika Bumi Gora, Mataram Prof dr Mulyanto, Rabu (1/7).

Bahan baku tersebut rusak karena terlalu lama di jalan dan tidak disimpan dalam pendingin yang memadai. Dikirim dari Amerika ke Jakarta membutuhkan waktu empat hari. Proses bea cukai di bandara Soekarno Hatta membutuhkan waktu 16 hari. ”Tidak tahu selama itu sama ekspedisi disimpan di dalam pendingin atau tidak,” katanya.

Setelah proses bea cukai selesai, dikirim dari Jakarta ke Mataram lewat jalur darat yang memakan waktu sepekan. Ia tidak tahu apakah di dalam perjalanan juga disimpan dalam pendingin yang memadai. ”Sampai sini rusak semua,” keluhnya.

”Idealnya antigen disimpan dalam pendingin minus 20 derajat Celcius agar tetap bagus,” tambahnya.

Volume antigen yang dibeli tersebut hanya 10 miligram seharga USD 15 ribu atau Rp 215 juta lebih. ”Ini bisa untuk membuat 20 ribu alat rapid test,” katanya.

Mulyanto sangat menyesalkan kesalahan teknis pengiriman tersebut. Harusnya hal itu tidak terjadi, mengingat Indonesia sangat membutuhkan alat rapid test murah.

Ia pun sudah mengirimkan surat protes ke FedEx di Amerika atas kejadian itu. ”Itu di luar kemampuan kami. Kami tidak bisa mengontrol pengiriman,” katanya.

Laboratorium Hepatika saat ini belum bisa memproduksi RI-GHA dalam jumlah banyak. ”Kami sudah pesan lagi mudahan dua tiga minggu sampai,” harapnya.

Pihaknya juga sudah melaporkan kondisi itu ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI. ”Kita mundur sebulan dari target semula,” ujarnya.

Bila antigen berikutnya datang tepat waktu dalam kondisi bagus, ia memperkirakan akhir Juli sudah bisa produksi masal. ”Mudahan tidak ada halangan,” harapnya.

Dalam waktu dekat Laboratorium Hepatika akan memproduksi 100 ribu. Jika Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memesan 1 juta alat. Mereka akan memproduksi 500 ribu, sementara 500 ribu lainnya dibuat Laboratorium Prodia.

”Dibagi. Mereka kemarin sudah datang belajar ke sini,” katanya.

Harganya pun jauh lebih murah dibandingkan alat rapid test dari luar, hanya Rp 75 ribu per paket. ”Mereka (Prodia) ikut produksi tapi lisensi sama,” katanya.

Molornya pembuatan RI-GHA tidak hanya merugikan pemerintah, namun juga warga yang harus membayar mahal untuk melakukan rapid test. Sebab, rata-rata biaya rapid test saat ini antara Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu.

Di Laboratorium Hepatika sendiri, biaya rapid test saja hanya Rp 95 ribu, bila ditambah surat keterangan dokter menjadi Rp 125 ribu.

Pantauan Lombok Post, antusiasme warga melakukan rapid test cukup tinggi, baik di Hepatika maupun di lokasi yang dibuka Dinas Kesehatan NTB. Warga melakukan rapid test selain untuk melakukan perjalanan ke luar daerah, juga sebagai syarat untuk bekerja.

Heni Mili misalnya, wanita yang bekerja di klinik tersebut diharuskan rapid test untuk keamanan dirinya. ”Karena kami bertemu dengan banyak pasien juga,” katanya.

Biaya rapid test yang mahal di luar membuat orang banyak datang ke Hepatika. Keharusan rapid test memang menjadi beban terutama mereka yang harus keluar daerah.

Hingga kemarin, jumlah pasien Covid-19 di NTB mencapai 1.260 orang, 836 orag sudah sembuh, meninggal dunia 65 orang, dan 359 orang masih dirawat. Ada tambahan 15 kasus positif baru dan 11 orang sembuh baru.

 

Dibawa ke Pulau Galang

 

Sementara itu, pemerintah memberi atensi tinggi pada daerah yang masih zona hitam dan merah. Bahkan, pemerintah mewacanakan, jika rumah sakit di daerah zona merah dan hitam sudah kewalahan, maka pasien positif Covid-19 di daerah tersebut akan dipindahkan ke Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) yang dibangun pemerintah di Pulau Galang, Provinsi Kepulauan Riau.

RSKI Pulau Galang memang disiapkan sebagai salah satu rumah sakit rujukan untuk mengantisipasi ledakan kasus positif Covid-19. Selasa malam lalu (30/6) Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) menggelar rapat koordinasi tingkat menteri (RTM). Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan, supaya RSKI Pulau Galang dimanfaatkan lebih optimal.

Muhadjir menyatakan optimalisasi RSKI Pulau Galang bisa dengan diisi pasien dari berbagai daerah zona merah hingga hitam. Kemungkinan akan dimulai dari pasien yang ada di Surabaya.

Menurut dia hal tersebut dilakukan apabila kondisi RS tidak ada perbaikan dalam sistem rujukan pasien Covid-19.  ”Kita akan pertimbangkan bersama-sama, ini untuk mengurangi beban RS yang ada di Surabaya khususnya di RSUD dr Soetomo,” ungkapnya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menambahkan, RSKI Pulau Galang hanya untuk pasien yang ringan atau sedang. ”Dengan transportasi yang sudah disiapkan TNI AU,” ujar Muhadjir.

Dia menegaskan pemanfaatan RSKI Pulau Galang nantinya tidak terutup untuk pasien dari Surabaya saja. Pasien lain pun bisa memanfaatkannya seperti pasien yang pulang dari luar negeri atau Pekerja Migran Indonesia (PMI). Bisa juga pasien dari Provinsi Kepri.  ”Memang arahan Presiden tidak harus Surabaya,” ucapnya.

Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Muhadjir meminta kepada Panglima TNI untuk berkoordinasi dengan Pangkogabwilhan II dan Kepala Gugus Tugas terkait teknis dan skenario pemanfaatan RSKI Pulau Galang untuk pasien dari Surabaya. Kemudian, Muhadjir juga meminta kepada Menteri Ketenagakerjaan dan Pemprov Kepri untuk merancang skenario dan kebijakan apabila ada pasien Covid-19 yang akan dirawat di RSKI Pulau Galang.

Meski sudah dirapatkan bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I sebagai pengelola RSKI Pulau Galang belum menerima tembusan. ”Belum ada info yang jelas,” ungkap Perwira Penerangan Kogabwilhan I Kolonel (Mar) Aris Mudian. Dia hanya menyebutkan bahwa pihaknya siap menerima perintah. ”Kami hanya tunggu perintah,” imbuhnya.

Aris menyebutkan, pihaknya akan menunggu arahan dari pemerintah terkait wacana tersebut. ”Kami tunggu langkah lanjut pemerintah,” imbuhnya. Saat ini, RSKI Pulau Galang masih aktif menerima pasien Covid-19. Baik positif maupun PDP dan ODP. Sampai kemarin, jumlah pasien rawat inap di RSKI Pulau Galang sebanyak 82 orang. ”Ada 51 pria dan 31 wanita,” ucap perwira menengah dengan tiga kembang di pundak tersebut.

Dari angka tersebut, 22 pasien positif Covid-19. Sementara itu, 12 pasien lainnya berstatus PDP. Sisanya sebanyak 48 pasien ODP. Dibandingkan Selasa (30/6), jumlah pasien RSKI Pulau Galang bertambah 29 orang. Sejak pertengahan April, rumah sakit tersebut sudah merawat 286 pasien. Di antara para pasien tersebut, 148 pasien positif Covid-19. ”Dirujuk ke rumah sakit lain dua orang, pulau atau isolasi mandiri 202 orang,” terang Aris.

 

Tak Ada yang Meninggal

 

Tidak ada satupun pasien Covid-19 yang ditangani oleh RSKI Pulau Galang meninggal dunia. Kinerja tersebut sempat dipuji oleh menko polhukam saat meninjau rumah sakit tersebut. Meski demikian, data menunjukkan bahwa pasien yang ditangani rumah sakit itu sehari-hari memang masih normal. Tidak ada penumpukan atau pasien membludak. Sehingga masih banyak tempat bisa digunakan di rumah sakit tersebut.

Sementara itu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (GTPPC-19) mencatat bahwa pertambahan pasien masih terus terjadi di rumah sakit-rumah sakit seluruh Indonesia Jubir Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa kapasitas RS secara nasional telah terpakai hingga mencapai 55,59 persen.

Meski demikian, Yuri optimistis bahwa tingkat kesembuhan pasien terus bertambah. Tingkat pertumbuhan nasional tercatat meningkat dari 41,48 persen pada 29 Juni lalu menjadi 43,2 persen kemarin.

Menurut Yuri, angka tersebut memang lebih rendah dibanding catatan global yakni 54,23 persen, akan tetapi ada beberapa provinsi di Indonesia yang melampaui rata-rata bahkan di atas 70 persen. “Kalau kemudian kita teliti lebih lanjut pada tiap provinsi, maka sebenarnya ada 18 Provinsi yang memiliki persentase kesembuhan diatas angka rata-rata dunia, diatas 54,23 persen. Bahkan 13 provinsi memiliki persentase kesembuhan di atas 70 persen,” katanya.

Menurut Yuri, kesembuhan tersebut dicapai setelah tiap-tiap wilayah provinsi menemukan kasus COVID-19 secara dini dan melakukan penanganan secara cepat. “Kesembuhan ini bisa dicapai, karena memang secara dini kita bisa menemukan kasus COVID-19 terkonfirmasi dengan gejala ringan sedang yang segera kita tangani di Rumah Sakit,” jelas Yuri.

GTPPC-19 mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per hari Rabu (1/7) kemarin adalah 1.385 orang sehingga totalnya menjadi 57.770 orang.  Pasien sembuh bertambah 789 orang menjadi total 24.806 orang. ”Selanjutnya untuk kasus meninggal menjadi 2.876 dengan penambahan 58 orang,” kata Jubir Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto kemarin.

Yuri melaporkan, DKI Jakarta mencatatkan 217 kasus baru dan 168 kasus sembuh. Jawa Timur melaporkan 185 kasus baru dan 187 sembuh. Kemudian Jawa Tengah melaporkan 173 kasus baru dengan 100 sembuh. Maluku Utara melaporkan penambahan 147 kasus dengan 7 sembuh. Sulawesi Selatan 130 kasus dengan 52 sembuh. (ili/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Masuk Destinasi Wisata Terpopuler Asia 2020, Lombok Siap Mendunia

”Kalau masuk di ranking dunia artinya kita adalah destinasi yang memang layak untuk dikunjungi,” kata Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB Awanadi Aswinabawa, Rabu (5/8/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks