alexametrics
Minggu, 9 Agustus 2020
Minggu, 9 Agustus 2020

Penanganan Satu Pasien Korona di NTB Rp 146 Juta, Kok Mahal?

MATARAM-Komisi V DPRD NTB meminta Dinas Kesehatan NTB menyampaikan kepada publik rincian penggunaan anggaran penanganan pasien Korona. “Kita dengar satu pasien itu Rp 146 juta, itu rinciannya seperti apa?” kata Anggota Komisi V DPRD NTB H Buhari Muslim,  (30/6) lalu.

Rincian harus disampaikan untuk menjawab keragu-raguan dan asumsi liar yang berkembang di tengah masyarakat. Jangan sampai anggaran penanganan yang super mahal ternyata tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Bohari mempertanyakan pula, apakah semua pasien dipukul rata biaya Rp 146 juta. “Atau ada kriterianya, separah apa penyakitKorona yang dibiayai segitu?” imbuhnya.

Dia curiga jangan-jangan penyakit Korona ada level atau tingkat keparahannya. Mengingat kondisi pasien bervariasi di lapangan.

Mulai dari yang sakit parah hingga meninggal sampai terlihat segar-bugar. “Setiap kita panggil kesehatan selalu kesulitan menjelaskan masalah keuangan, kita akan panggil lagi agar bisa merincikan,” ulasnya.

Sepanjang yang diketahui politisi NasDem itu, obat atau vaksin Korona belum ditemukan. Sehingga para pasien selama ini hanya diberi vitamin untuk menjaga kebugaran tubuh. “Tidak semua pasien kan butuh ventilator,” ulasnya.

Lantas dia mempertanyakan vitamin jenis apa yang dibeli sampai dalam 14 hari menghabiskan Rp 146 Juta. “Yang saya tahu ada vitamin buatan Amerika itu paling mahal dan top harganya Rp 400 ribu, kalau vitamin lokal paling harganya Rp 25 ribu,” ujarnya.

Berikutnya untuk tempat isolasi tidak semua menggunakan hotel. “Kalau yang pakai hotel paling mahal harga sehari sekitar Rp 500 ribu,” terangnya.

Memang adapula pembelian Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan, masker, penutup wajah, sepatu bot, sampai baju hazmat sekali pakai. “Tetapi kan ada juga sumbangan dari berbagai instansi dan NGO, jangan sampai itu di klaim dibayar, itu pengaturannya seperti apa?” cetusnya.

Semua harus dirinci menjawab keragu-raguan masyarakat. Sehingga persoalan klir dan tidak ada syak-wasangka di balik ramainya pembahasan Pandemi Covid-19 ini.

Anggota Komisi V lainnya Akhdiansyah menghitung perhari sekitar Rp 10 juta dihabiskan untuk penanganan pasien korona. “Anggarannya satu pasien Rp 146 juta,” ujarnya.

Politisi PKB itu pun sepakat agar Dinas Kesehatan NTB menjelaskan pada publik rincian penggunaan anggaran. “Sekalipun APD sekali pakai dan ada honor di sana, saya rasa memang harus dijelaskan agar jelas dan terang,” pintanya. (zad/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

TGB Dukung Mohan, Bang Zul Jagokan Selly di Mataram

Jika Bang Zul (panggilan akrab H Zulkieflimansyah) mendukung pasangan Hj Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan (paket Salaman). Maka tidak dengan TGB. Pria yang berkuasa selama 10 tahun di NTB itu memilih mendukung pasangan H Mohan Roliskana-TGH Mujibburahman (pasangan Harum).

Zona Merah, Pembelajaran Tatap Muka di Mataram Terlalu Berisiko

Pemkot Mataram belum bisa menerapkan pembelajaran tatap muka di sekolah. Karena kegiatan ini dinilai terlalu berisiko di tengah mewabahnya Covid-19 di Kota Mataram. “Pembelajaran tatap muka di sekolah belum bisa kita lakukan,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram HL Fatwir Uzali pada Lombok Post, Jumat (7/8)

Senin, Gerindra Janjikan SK Dukungan untuk Makmur-Ahda

Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mataram HL Makmur Said-H Badruttamam Ahda (Muda) belum memegang SK dukungan. Baik dari Partai Gerindra maupun PKB.

Inovasi Pengusaha Kuliner Mataram Gaet Pengunjung di Masa Pandemi

IKON KULINER IBU KOTA: Karyawan warung Sate Rembiga Hj Sinnaseh menyiapkan pesanan pelanggan, Kamis malam.( DIDIT/LOMBOK POST)

Sekolah Tutup Pendataan Pemilih Pemula di Mataram Terhambat

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Mataram kesulitan mendata warga  berusia 17 tahun atau pemilih pemula pada Pilkada Kota Mataram 9 Desember mendatang. Alasannya, karena sampai saat ini belum ada proses belajar mengajar tatap muka dilakukan sekolah.

Satu Tenaga Kesehatan Positif Korona Sejumlah Ruang RSUD Bima Ditutup

Tenaga Kesehatan (Nakes) yang bertugas di RSUD Bima ternyata sudah ada yang terpapar Covid-19.  Informasi yang berhasil dihimpun, ada sembilan yang terdiri dari Nakes dan pegawai RSUD Bima yang terpapar.

Paling Sering Dibaca

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dugaan Mahasiswi Unram Dibunuh Menguat

Penyidik terus mengumpulkan bukti mengungkap penyebab kematian gadis berinisial LNS (inisial, Red). Sejauh ini, polisi belum mengungkap penyebab pasti kematian gadis yang baru diterima S2 Fakultas Hukum Unram.
Enable Notifications.    Ok No thanks