alexametrics
Kamis, 24 September 2020
Kamis, 24 September 2020

NTB Waspada, Penularan Korona Terdeteksi di Usaha Rumahan

MATARAM-Penularan virus Korona di NTB kian tidak terkendali. Transmisi lokal kian merajalela. Hampir tidak ada ruang yang bebas dari penularan virus. Bahkan rumah pun mulai tidak aman. Terutama bagi mereka yang membuka usaha di rumah.

”Kami punya kasus yang punya usaha di rumah dan usahanya cukup laris, banyak pembeli datang tapi dampaknya satu keluarga positif Covid-19,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, dalam keterangan pers tim gugus tugas Covid-19 NTB, Minggu (2/8).

Karena itu, ia meminta warga yang memiliki usaha di rumah lebih berhati-hati. Sebab, membuka usaha di rumah juga punya risiko tertular. Meski tetap di rumah, tapi banyak orang yang tidak diketahui riwayat kesehatannya datang ke rumah. Itulah yang membuat potensi penularan menjadi tinggi.

Satu keluarga pemilik usaha rumahan, lanjut Eka, kini masih mendapat perawatan. Untungnya mereka sudah menunjukkan perbaikan. ”Ada yang isolasi mandiri dan ada yang dirawat di rumah sakit,” katanya.

Belajar dari kasus itu, warga yang punya usaha rumahan disarankan menjauhkan orang berisiko tinggi kontak dengan orang luar. ”Sehingga risiko tertular bisa diminimalkan,” katanya.

Demikian pula dengan warga yang bekerja di perkantoran. ”Harus dipastikan ruang tempat kerja punya sirkulasi udara bagus,” imbuhnya.

Hingga kemarin, jumlah kasus Covid-19 di NTB tembus 2.150 orang. Terdiri dari pasien sembuh 1.325 orang, 119 orang meninggal dunia, dan 706 orang masih dalam perawatan.

Tambahan kasus baru pun masih tinggi. Jika hari Sabtu lalu 50 orang, Ahad kemarin terdampat 35 kasus baru dengan dua orang meninggal asal Lombok Barat.

Satu pasien meninggal S, laki-laki 69 tahun, penduduk Desa Duman, Kecamatan Lingsar. Ia meninggal tanpa penyakit penyerta atau komorbid. Kemudian pasien H, perempuan, usia 44 tahun, penduduk Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, ia memiliki penyakit komorbid berupa diabetes.

”Pasien meninggal dunia di NTB sudah 5,5 persen dari semua kasus di NTB,” katanya.

Dengan kondisi saat ini, ia mengimbau semua pihak mau patuh pada protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus. Sebab, virus Korona semakin banyak memakan korban jiwa tanpa pandang bulu.

”Banyak tokoh kita kini hilang karena Covid,” katanya.

Kasus terbaru, Ketua Majelis Adat Sasak (MAS) H Lalu Mudjitahid meninggal karena Covid-19. Sebelumnya Lalu Mariyun, hakim senior asal NTB juga meninggal karena Covid-19. Kasus-kasus itu menurutnya harus membuat warga sadar dengan bahaya yang tengah dihadapi. Tidak ada yang kebal dari virus tersebut.

Memang banyak orang positif Covid-19 tanpa gejala ditemukan. Mereka memang tidak sakit dan menganggap enteng penyakit itu. ”Tapi mereka menulari orang tua kita, anak-anak kita yang berisiko tinggi,” ujarnya.

Direktur RSUD NTB dr H Lalu Hamzi Fikri menyebut, tidak hanya perkantoran, klaster keluarga kini perlu mendapat perhatian serius. Artinya penularan dalam satu keluarga sudah semakin banyak ditemukan.

”Saya pikir ini perlu menjadi catatan serius kita bersama,” ujarnya.

 

Kerahkan Mahasiswa

 

Sementara itu, dari Jakarta, kampanye adaptasi kebiasaan baru (AKB) di tengah pendemi Covid-19 melibatkan sejumlah elemen mahasiswa. Diantaranya dengan menggandeng mahasiswa melalui program Relawan Covid-19 Nasional (Recon) Kemendikbud. Para mahasiswa diajak untuk kampanye 31 Hari Tantangan Siap Adaptasi.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendikbud Aris Junaidi menuturkan mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan bisa menjadi penggerak di masa AKB saat ini. Sehingga masyarakat bisa lebih memahami bagaimana penerapan AKB dalam kehidupan sehari-harinya.

Menurut Aris, kolaborasi mahasiswa, perguruan tinggi, serta pemerintah daerah diharapkan bisa mengedukasi masyarakat. ’’Bersama masyarakat bisa disiplin menerapkan AKB,’’ katanya kemarin (2/8). Aris menegaskan kedisiplinan itu merupakan kunci menekan lanju pandemi Covid-19 serta meningkatkan kesehatan masyarakat.

Sesditjen Ditjen Dikti Kemendikbud Paristiyanti kampanye gerakan 31 Hari Tantangan Siap Adaptasi itu akan melibatkan 15 ribuan relawan. ’’Mereka memiliki beragam latar belakang,’’ jelasnya. Ada mahasiswa program studi kesehatan dan non kesehatan. Selain itu juga ada tenaga medis professional serta masyarakat umum yang memiliki kepedulian kepada kesehatan masyarakat.

Paris menjelaskan kampenye atau edukasi itu dilakukan secara offline maupun online. Dimulai dengan orang-orang terdekat di sekitar para relawan. Seperti anggota keluarga, tetangga, pengurus tempat ibadah, dan lainnya. Dia mengingatkan relawan yang melakukan edukasi secara offline harus menerapkan protokol kesehatan. Sebab mereka menjadi contoh serta menjamin keselamatan relawan. Seperti menggunakan masker, jaga jarak sekitar 2 meter, dan sejenisnya.

Menurut dia program kampanye 31 Hari Tantangan Siap Adaptasi itu tidak hanya untuk relawan Recon yang sudah terdaftar. Tetapi masyarakat secara umum juga bisa ikut berpartisipasi. Sehingga nantinya setiap relawan yang terlibat berpartisipasi menjadi edukator untuk sesama.

Paris berharap dengan kampanye itu, semakin banyak masyarakat yang lebih sadar pentingnya protokol kesehatan. Kemudian juga lebih siap menjalani adaptasi kegiatan sehari-hari di masa pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Dia berpesan kepada para relawan supaya bisa menjadi teman diskusi dan agen edukasi bagi masyarakat.

’’Modal para relawan dalam melakukan kegiatan edukasi adalah hati yang tulus,’’ paparnya. Selain itu juga semangat untuk membantu sesama. Paris mengatakan di masa pandemi seperti sekarang ini, upaya gotong royong dan sukarela menjadi kunci untuk melewati masa pandemi. Paris juga mengatakan bagi masyarakat bisa melakukan skrining mandiri dan pendampingan kesehatan dari relawan Recon melalui website relawan.kemdikbud.go.id.

Seperti diketahui sampai saat ini kasus Covid-19 masih tinggi. Data pemerintah kemarin menyebutkan kasus baru Covid-19 mencapai 1.519 kasus. Sehingga total kasus konfirmasi Covid-19 ada 111.455 kasus. Dengan jumlah kasus sembuh baru ada 1.056 orang. Jumlah kasus sembuh masih belum konsisten. Lebih sering jumlah kasus baru lebih banyak ketimbang jumlah sembuh baru. Sedangkan jumlah meninggal baru ada 43 orang dan total kematian ada 5.236 kasus. (ili/JPG/r6)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Hasil Survei Indikator, Elektabilitas HARUM Paling Tinggi

“Pak Mohan Roliskana hingga sejauh ini paling potensial menang dalam pemilihan mendatang,” ujar  Wakil Ketua DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia dalam pemaparan yang dilakukan secara online dari DPP Golkar Jakarta, (18/9) lalu.

Polisi Pantau Kampanye Hitam di Pilwali Mataram

Pelaksanaan Pilkada di Kota Mataram mendapat atensi penuh pihak TNI-Polri. Polresta Mataram dan Kodim 1606 Lobar telah melakukan pemetaan potensi konflik dan mencegah secara dini beberapa konflik yang biasa terjadi pada masa Pilkada.

Trailer Film MOHAN Bikin Baper

Kreativitas sineas Kota Mataram terasa bergairah. Ditandai dengan garapan film bergenre drama romantic berjudul ‘Mohan’ yang disutradai Trish Pradana. Film yang direncanakan berdurasi sekitar 35 menit ini mengisahkan perjalanan asmara Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskan dengan istrinya Hj Kinastri Roliskana. Film Mohan dijadwalkan mulai tayang Bulan Oktober mendatang.

Pasangan Calon Harus Memberi Perhatian pada DPT

PESERTA pemilihan yaitu Pasangan Calon harus menunjukkan perhatian lebih pada seluruh tahapan yang ada, bukan hanya pada saat pendaftaran calon atau pada pemungutan suara saja. Salah satu tahapan yang sangat menentukan ialah tahapan Penyusunan dan Pemutakhiran Daftar Pemilih atau cukup disebut dengan penyusunan DPT.

Pendataan Bantuan Kuota Internet untuk Siswa Guru dan Mahasiswa Kacau

Hari pertama penyaluran bantuan subsidi kuota internet untuk siswa, guru, mahasiswa, dan dosen langsung berpolemik. Proses pendataan dan verifikasi nomor ponsel dinilai kacau.

Calon Kepala Daerah Wajib Jadi Influencer Protokol Kesehatan

DPR, pemerintah dan KPU telah memutuskan akan tetap melaksanakan pilkada serentak pada 9 Desember. Para calon kepala daerah (Cakada)  diminta menjadi influencer protokol kesehatan  agar pilkada tidak memunculkan klaster baru Covid-19.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).
Enable Notifications    Ok No thanks