alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

152 Tenaga Medis di NTB Tertular Korona, Pelayanan Rumah Sakit Bisa Lumpuh

MATARAM-Rumah sakit bisa lumpuh. Jumlah tenaga medis terjangkit Covid-19 melonjak dua kali lipat. Pekan lalu baru 67 orang. Namun kemarin sudah mencapai 152 orang.

”Ya, itu jumlah sampai hari ini dari 10 rumah sakit dan lima puskesmas,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, pada Lombok Post, kemarin (3/6).

Angka itu merupakan akumulasi sejak kasus tanaga medis muncul awal Mei lalu. Paramedis yang sakit sudah dirawat dengan baik. Beberapa di antaranya sudah sembuh. ”Nakes yang sakit sudah dirawat, contact tracing terus dilakukan,” katanya.

Ke-152 tenaga medis itu terdiri dari dokter, perawat, petugas farmasi, dokter gizi, petugas administrasi, dan cleaning service ruang isolasi. Meski demikian, Kadis Eka enggan menyebut nama-nama rumah sakit dan puskesmas.

Meski banyak tenaga medis terjangkit Covid-19, ia memastikan pelayanan kesehatan, khususnya penanganan Covid-19 belum terganggu. ”Sekarang kami rekrut tenaga perawat dan dokter,” jelasnya.

Eka menyebut, 25 perawat dan dua orang dokter tambahan sudah bekerja. Ditambah dokter internship dari  Kementerian Kesehatan. ”Pelayanan tetap kami optimalkan,” katanya.

Faktanya, pelayanan medis mulai kewalahan. Pelayanan poliklinik banyak ditutup. Seperti di RSUD Praya yang tutup sehari meski kemarin pelayanan dibuka kembali.

Dengan kondisi itu, Kadis Eka kembali mengimbau warga untuk tetap waspada. Mereka yang mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap saja bisa terjangkit, apalagi warga biasa. ”Nakes sudah pakai APD tiga lapis masih bisa terpapar, makanya masyarakat harus disiplin dengan protokol covid,” serunya.

Sementara itu, Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi dalam rilisnya menyebutkan, ada penambahan 20 kasus positif Covid-19 baru di NTB. Dua pasien sembuh dan empat orang meninggal dunia.

Dengan tambahan data itu, total kasus Covid-19 di NTB tembus 705 orang. Pasien yang sembuh 299 orang, jumlah meninggal melonjak menjadi 18 orang, dan yang masih dirawat 399 orang.

”Kasus kematian pasien Covid-19 sebagian besar disertai dengan penyakit tidak menular, seperti penyakit kardiovaskular (hipertensi, jantung), diabetes melitus, atau penyakit paru kronis,” jelasnya.

Karenanya, diharapkan masyarakat yang memiliki penyakit lain menjaga kesehatan, segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. ”Berupaya mencegah agar tidak terinfeksi Covid-19,” imbuhnya.

Supaya tidak tertular, mereka tidak keluar rumah, memakai masker bila harus keluar rumah, melakukan social dan physical distancing, sering cuci tangan, dan tidak merokok.

 

Abaikan Protokol

 

Sementara itu, angka kematian pasien Covid-19 kini merangkak naik. Sebelum lebaran, angka kematian pasien Covid-19 bertahan di angka tujuh kasus, namun beberapa hari terakhir kematian semakin banyak.

Empat pasien Covid-19 meninggal terbaru yakni pasien nomor 431, Tn. YS, laki-laki, usia 61 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram dan pasien nomor 551, Ny. BK, perempuan, usia 60 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram.

Kemudian pasien nomor 688, Ny. K, perempuan, usia 62 tahun, penduduk Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, dan pasien nomor 705, Tn. ME, laki-laki, usia 42 tahun, penduduk Desa Kediri Induk, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat.

Prosesi pemakaman ME, asal Dusun Pelowok Timur, Desa Kediri mendapat sorotan. Jenazahnya tidak dimakamkan dengan protokol Covid-19. ME, yang merupakan guru ngaji dimakamkan pihak keluarga dan warga setampat. Mereka memandikannya dan menyalatkan sebagaimana biasa jenazah yang tidak positif terinfeksi virus Korona.

Anggota TNI/Polri, tim kesehatan penanganan Covid-19 tidak diizinkan mendekati jenazah atau rumah duka. Karena itu, keluarga pasien dan masyarakat setempat harus menjalani rapid test untuk mengantisipasi terjadinya penularan virus Korona.

 

Insentif Belum Cair

 

Sementara itu, insentif bagi tenaga kesehatan masih belum sepenuhnya disalurkan. Verifikasi data menjadi kendala utama. Meskipun demikian, pemerintah memastikan anggarannya sudah siap untuk dicairkan. Tinggal menunggu validasi nama-nama tenaga kesehatan yang akan menerima insentif kemudian langsung dicairkan.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, pada prinsipnya Kemenkeu sudah menetapkan DIPA untuk kemenkes sebesar Rp 5,6 triliun plus Rp 60 miliar untuk santunan kematian. Rp 1,9 triliun di antaranya digunakan untuk membayar insentif tenaga kesehatan di pusat atau swasta. selebihnya, Rp 3.7 triliun untuk tenaga kesehatan di daerah.

Sebagian insentif sudah dicairkan. ’’Data Kementerian Kesehatan, 1.205 tenaga kerja kesehatan yang di pusat sudah mendapatkan pencairannya sebesar 10.450.000,’’ urainya kemarin (3/6). Terutama para nakes yang bertugas di wisma atlet dan pulau Galang.

Saat ini, tuturnya, kemenkes sedang memverifikasi 19 RS dan unit pelaksana teknis yang membawahi para nakesnya. Nilainya mencapai Rp 4,115 miliar. anggarannya sudah dialokasikan, tinggal menunggu eksekusi dari kemenkes. Begitu pula verifikasi untuk 110 RS dan UPT di daerah. Kemenkeu mendorong agar pembayaran bisa dipercepat.

Pihaknya masih menunggu rincian masing-masing RS di daerah. karenma Kemenkes masih perlu memverifikasi data-data para nakes. Hingga saat ini, sudah ada 56 RSUD di daerah yang telah menyampaikan usulan dan sedang diverifikasi Kemenkes. Ketika verifikasi sudah klir, maka insentif bisa langsung dicairkan.

Sementara itu, penyaluran bansos untuk Covid-19 sudah dipastikan bakal diperpanjang sampai Desember dengan sejumlah penyesuaian. Tidak hanya nilainya yang berkurang separo, namun metode penyalurannya juga diubah. Yakni menggunakan sistem penyaluran secara non tunai. Tidak lagi dirupakan bansos sembako.

Ani menuturkan, pihaknya sudah berbicara dengan Mensos mengenai skema penyaluran berikutnya. ’’Apakah menggunakan perbankan, atau kombinasi perbankan dengan Pos,’’ lanjut Ani, sapaan Sri Mulyani. Itu adalah bansos Covid-19 di Jabodetabek dan non-Jabodetabek. Berbeda dengan BLT desa yang sudah berbentuk uang tunai.

Harapannya, bansos tersebut bisa menciptakan permintaan terhadap barang-barang yang kemudian bisa mendukung pemulihan ekonomi. Pihaknya akan berdiskusi lebih lanjut dengan Mensos atau menko PMK untuk memastikan skema modalitas tersebut. (ili/JPG/r6)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mataram Bisa Tiru Depok, Tak Pakai Masker Denda Rp 200 Ribu

Pemkot Mataram merespons kritikan Wakil Gubernur NTB. Kemarin, tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, dan Polri melakukan penertiban di pagi buta. Sasarannya, para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan.

Kuliah ke Luar Daerah, Warga Mataram Harus Bebas Korona

Warga Kota Mataram yang kuliah di luar daerah cukup banyak. Kemarin kata dia, sekitar 50 mahasiswa mengajukan permintaan melakukan rapid test. Dari jumlah tersebut tidak ada yang hasilnya reaktif.

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Di Kediri Lobar, Ibu Rumah Tangga Diduga Jual Narkoba

WM, 28 tahun, warga asal Kediri Selatan ditangkap Satres Narkoba Polres Lobar. Ia bersama kedua rekannya MA dan MU diduga menjadi penjual dan penyalahguna narkotika jenis sabu. Bahkan, WM alias Dewi ini diketahui sebagai penjual obat penenang tanpa izin pihak instansi kesehatan.

Pariwisata Lesu, Pengusaha Travel Lombok Bertahan lewat Promo

Agen travel perjalanan wisata terus berupaya bertahan dalam ketidakpastian Pandemi Korona. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak akibat turunnya kunjungan wisatawan. ”Kami upayakan tetap bangkit seiring dengan penerapan new normal yang sedang digaungkan,” kata Kukuh Laro, pemilik Duta Lombok Transport.

Berdayakan UMKM Lokal, Bappeda NTB Tunggu Pergub

Pergub Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga kini belum rampung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB masih menunggu kelanjutan masukan dan revisi dari gubernur. ”Sampai hari ini (kemarin,Red) kita belum terima. Jika sudah ada, akan langsung kita jadikan landasan dalam memberdayakan UKM/IKM,” kata Kepala Bappeda NTB Amry Rakhman, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks