alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Dorong Pencegahan Stunting Lewat Peningkatan Pemahaman Orang Tua

International Virtual Seminar Contribution on Improving Parents’ Knowledge and Perception of Stunting in West Nusa Tenggara

MATARAM–Stunting yaitu kondisi gagal tumbuh dimana anak terlalu pendek untuk usianya. Hal ini berdampak pada lambatnya perkembangan fisik dan mental anak. Anak yang mengalami stunting akan mengalami perkembangan kognitif yang sangat lambat, lemahnya performa di sekolah, serta memiliki risiko tinggi mengalami penyakit kronis seperti obesitas, hipertensi dan kematian.

Angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 27,7 persen di tahun 2019. Pemeritah menargetkan angka tersebut turun menjadi 19 persen pada tahun 2024. Salah satu kunci keberhasilan pencegahan stunting adalah melalui peningkatan pengetahuan orang tua dan calon orang tua.

Dalam rangka berkontribusi dalam penanganan stunting di Indonesia, BAPPEDA Provinsi NTB bersama Yayasan Widya Karya Rinjani mengadakan “International Virtual Seminar: Contribution on improving Parents’ Knowledge and Perception on Stunting in NTB” pada 27 Agustus 2020.

Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grants Scheme (berupa proyek penelitian yang dipimpin oleh Ida Ayu Sutrisni), Flinders University Australia, KOMPAK NTB, Stikes Mataram, serta Mediasi NTT.

Kegiatan ini merupakan salah satu forum peningkatan kolaborasi dan sinergi antara Pemerintah NTB, peneliti, universitas, NGO, serta pemerhati kesehatan dalam mempercepat penurunan stunting. Kemudian mencari metode yang tepat dalam peningkatan pengetahuan orang tua tentang stunting.

Harapannya adalah program dan kebijakan pemerintah dalam peningkatan pengetahuan orang tua tentang stunting khususnya di provinsi NTB didasari hasil – hasil penelitian dan praktek terbaik, sehingga dapat berjalan secara efektif.

Dalam sambutannya Konsul-Jenderal Australia di Bali Ms. Anthea Griffin, mengatakan bahwa sejak 2014 Pemerintah Australia telah mendukung 188 proyek di bawah Alumni Grant Scheme Program.

“Salah satunya adalah proyek dari Ibu Ida Ayu, yang merupakan contoh nyata kontribusi alumni universitas Australia untuk meningkatkan kualitas kesehatan pada komunitas serta mempromosikan kebijakan public melalui penelitian,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Bapeda, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa angka stunting pada anak di NTB adalah 37,9%, masih di atas rata-rata nasional. Pada RPJMD, ditargetkan angka ini turun menjadi 28,5 di tahun 2023, dan tentunya ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah namun dengan ikhtiar dapat dicapai.

Acara ini sendiri dipandu oleh moderator H. Sastrawan dan Lalu Suryadi. Materi webinar juga tersedia di kanal YouTube (https://www.youtube.com/watch?v=VPgVMTODDAo)

Seminar sesi pertama dipandu H. Sastrawan, membahas penelitan terkini tentang pengetahuan dan persepsi orang tua terhadap stunting dan praktek terbaik dalam usaha peningkatan pengetahuan orang tua. Ida Ayu Sutrisni selaku project leader AGS NTB memaparkan hasil penelitiannya di NTB. Yakni sebagian besar orang tua di NTB tidak tahu apa itu stunting dan tidak menyadari kalau anak mereka mengalami stunting.

Selanjutnya Profesor Lillian Mwanri dari Flinders University, Australia menekankan pentingnya Project Cycle pada proses perencanaan dan implementasi sebuah program serta perlunya evaluasi untuk peningkatan program masa depan.

Sedangkan Zack Petersen dari 1000DaysFund menyampaikan pentingnya memberikan training kepada para kader pada tingkat desa dan penanganan stunting tidak selalu fokus bertemakan peningkatan nutrisi anak karena kadang kala membingungkan para orang tua.

Kemudian sesi kedua dipandu moderator Lalu Suryadi, Kabid BAPPEDA Prov. NTB. Sesi ini membahas program penanganan stunting di NTB maupun di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu implementasi propram unggulan research base policy di NTB. Nantinya rumusan webinar ini akan dijadikan sebagai salah satu referensi dalam rangka penyusunan kebijakan perencanaan pembangunan NTB.

 

Narasumber pertama Hj. Niken Saptarini Widyawati selaku Ketua PKK NTB menyampaikan program revitalisasi posyandu di NTB yang berkaitan erat tujuannya untuk penanganan dan pencegahan stunting. Narasumber kedua dr Nurhandini Eka Dewi, selaku Kadis Kesehatan NTB memaparkan beberapa tantangan dalam pengurangan stunting dan inovasi-inovasi daerah dalam percepatan penurunan angka stunting di NTB.

Narasumber ketiga dr Lina Nurbaiti dari Universitas Mataram menyampaikan pentingnya peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan. Tidak hanya pada ibu tapi juga ayah karena sering terjadi salah persepsi orang tua tentang kesehatan anak di NTB.

Sementara itu pemateri terakhir yaitu Ir. Doddy Izwardy, MA Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan menyampaikan pentingnya peningkatan nutrisi anak melalui produk kelautan dan perikanan yang memiliki nutrisi tinggi.

Acara virtual seminar ini juga menampilkan para penanggap dari akademisi, pemerintah, dan lembaga-lembaga terkait di NT. Diantaranya Ir. H. Rosiady Husaenie Sayuti, selaku Ketua Dewan Riset Daerah NTB. Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Sc Kepala Bappeda NTB, Suryani Eka Wijaya, Ph.D Senior Research Fellow di Amcolabora Institute. Kemudian Irianto, Persatuan Ahli Gizi Indonesia-cabang NTB, dan M.Wahyudi dari KOMPAK NTB

Panitia berharap pelaksanaan seminar serupa dapat terus diadakan sehingga sinergi antara pemerintah, peneliti, dan pemerhati kesehatan dapat terus terjalin untuk membentuk program dan kebijakan percepatan penurunan stunting yang tepat sasaran. (sir)

 

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks