alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

Siap-siap, Pemudik di NTB Dihadang di Enam Titik, Ini Lokasinya

MATARAM-Masa larangan mudik pada periode Idul Fitri 1442 H dimulai hari ini (6/5) sejak pukul 00.00 Wita tengah malam tadi hingga 17 Mei mendatang. Ketegasan pemerintah dalam menegakkan aturan akan diuji dalam beberapa hari kedepan. Di NTB, total ada enam titik penyekatan untuk mengantisipasi mereka yang mudik dari dan ke wilayah Bumi Gora.

”Pos penyekatan yang sekaligus jadi pos pengamanan kita dirikan di bandara dan pelabuhan. Ada di enam titik,” kata Karo Ops Polda NTB Kombes Pol Imam Thobroni, kemarin (5/5).

Pos tersebut didirikan di Lombok International Airport. Kemudian di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur, Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat, Pelabuhan Sape, Kota Bima, dan di Bangsal Gili Trawangan, Lombok Utara.

”Di bandara kita antisipasi pemudik yang datang dari daerah lain. Seperti wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia. Kita pertebal personel pada pos penyekatan,” jelasnya.

Di Pelabuhan Lembar dan Gili Trawangan mengantisipasi adanya pemudik dari wilayah Bali dan Jawa yang menggunakan jalur laut.  Sedangkan, di wilayah Poto Tano mengantisipasi adanya pemudik dari wilayah timur dan tengah. ”Seperti, wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur,” terangnya.

Pelabuhan Kayangan dan Poto Tano dijaga untuk mengantisipasi adanya pemudik dari Pulau Lombok ke Pulau Sumbawa, maupun sebaliknya. Sebab, Pemerintah telah memutuskan, pemudik dari Pulau Lombok tidak diperbolehkan menyeberang ke Pulau Sumbawa. Begitu  juga sebaliknya, pemudik dari Pulau Sumbawa tidak boleh masuk ke Pulau Lombok.

”Meskipun kedua pulau masih wilayah NTB, dua pulau tidak masuk dalam aglomerasi,” terangnya.

Aglomerasi di NTB dibatasi antar pulau.  Masyarakat bisa mudik apabila ke kabupaten/kota yang masih dalam satu pulau. Misalnya, orang Mataram mau ke Lobar atau Loteng masih diperbolehkan, karena masih satu pulau. Tetapi,  tetap mematuhi protokol kesehatan.

Diharapkan, tim Satgas Covid-19 di tingkat kelurahan juga harus tetap memantau para pemudik yang memiliki gejala terpapar Covid-19. ”Kalau ada gejala harus mengisolasi mandiri,” kata dia.

Imam mengatakan, penjagaan di pintu masuk akan dijaga ketat selmaa 24 jam. Personel secara bergantian melakukan pemantauan. Polda NTB dan Korem 162/WB menurunkan 1.645 personel yang tergabung dalam Operasi Ketupat Rinjani 2021.

 

Antisipasi Jalur Tikus

 

Di sisi lain, geografis wilayah NTB yang  berpulau membuat para pemudik mencari akal. Yaitu, jalur tikus. Karen aitu, semua jalan tikus untuk masuk ke NTB juga dipastikan akan tetap dipantau.

Personel juga tetap dikerahkan untuk memantau beberapa tempat yang berpotensi dijadikan sebagai jalur tikus tersebut. Dalam hal ini, menjadi tugas Ditpolairud. Mulai 6 hingga 17 Mei, petugas Polairud melakukan patroli mengantisipasi pemudik yang menggunakan jalur tersebut.

Sementara itu, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Istiono menyampaikan, pengawasan dan pengendalian kebijakan peniadaan mudik dilakukan di lebih dari 383 titik penyekatan.

”Petugas gabungan di lapangan akan menerapkan aturan ini dengan tegas namun tetap humanis,” katanya.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengungkapkan dari pihaknya bersama dengan tim gabungan dari instansi terkait akan melakukan penyekatan di beberapa titik dan membangun Posko Lapangan Pengendalian Transportasi Lebaran.

Ia mengimbau bagi masyarakat yang ingin melanjutkan perjalanan non mudik agar dapat mempersiapkan dokumen perjalanan yang diperlukan dengan baik.  ”Apabila tidak dapat menunjukkan dokumen yang dipersyaratkan, dengan sangat terpaksa, akan kami putar balik untuk melengkapi dokumen dimaksud,” jelasnya.

Sesuai arahan Menhub, Posko Lapangan Pengendalian Transportasi Lebaran dilakukan di wilayah  Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah yang antara lain berada di Jalan Nasional Pos Gerem, UPPKB Cikande, Tanjung Pura, GT Cikopo, Lingkar Nagreg, GT Pejagan, Pangkalan Angkutan Barang Kecipir, dan GT Kalikangkung.

Budi mengingatkan, waktu pertama kali bertugas harus bersikap tegas. Ini menunjukkan apa yang dilakukan pemerintah sesuai dengan yang ada dalam regulasi. Namun harus tetap fleksibel dan humanis jangan sampai menimbulkan kegaduhan dengan masyarakat. ”Karena ada beberapa kebijakan juga dari pemerintah daerah yang mungkin harus dipertimbangkan saat melakukan pengawasan di daerah,” ujarnya.

Sementara itu, pada H-1 larangan mudik kemarin, arus pemudik yang berangkat lebih awal juga tidak terlalu meningkat secara signifikan. Sekretaris Jenderal DPP Organda Ateng Aryono mengatakan bahwa arus penumpang yang menggunakan angkutan umum jalan mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan.

”Sekitar 15 sampai 20 persen saja. Yang terpantau banyak itu malah penggunaan mobil pribadi. Orang yang keluar jakarta lumayan banyak, tapi proporsinya lebih banyak mobil pribadi daripada angkutan umum,” ujar Ateng, saat dihubungi kemarin.

Soal kebijakan pemasangan stiker khusus di bus AKAP dan AJAP yang akan beroperasi pada masa larangan mudik lebaran, Organda menilai bahwa kebijakan ini merupakan langkah solutif. ”Angkutan umum jalan jadi bisa ikut mengakomodasi orang berkepentingan yang bepergian dalam masa larangan. Selain opsi kereta api dan pesawat, angkutan bus juga tersedia,” bebernya.

Seperti diinformasikan sebelumnya, Kementerian Perhubungan mengizinkan beberapa kendaraan bus untuk tetap beroperasi selama larangan mudik lebaran. Namun kendaraan bus ini diperuntukan untuk mengangkut masyarakat atau golongan dalam kategori pengecualian yang boleh berpergian ke luar kota.

Terkait stiker khusus tersebut, Ateng menyebut bahwa pemerintah menyediakan kuota khusus bagi PO bus dan dapat diajukan via online tanpa biaya alias gratis.  Ateng menegaskan stiker khusus itu mempermudah monitoring petugas di lapangan dalam mengendalikan transportasi saat larangan mudik berlangsung. ”Sejauh ini anggota tidak terkendala dalam pengajuan. Tidak ada kendala juga soal kuota,” katanya.

Di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta kemarin juga tidak penuh penumpang. Antrean terjadi pada saat pengecekan syarat perjalanan. Itu pun terjadi sesekali.

Manajemen bandara memasang himbauan 3M di banyak titik. Kursi tunggu pun diberi jarak dengan tanda silang. Pengunjung mematuhi dengan aturan jaga jarak. Kursi yang disilang dengan plester warna kuning, yang artinya tak boleh diduduki, digunakan untuk meletakkan barang.

Koran ini juga memantau Terminal 2 kedatangan. Taksi daring sempat kehabisan mobil sehingga antrian mengular. Di tempat menunggu bus juga tidak sepi. Kursi-kursi banyak yang terisi. Bus-bus yang mengantarkan penumpang ke kabupaten/kota sekitar Jakarta diminati.

Bobo dan Ewok, penumpang dari Bangka, sudah sejak siang menunggu travel ke Subang. Mereka resah karena mobil tak kunjung datang. Pengemudi juga tak bisa memastikan kapan sampai Bandara Soekarno Hatta. “Saya datang dari jam 10. Dia (Bobo) siang baru nyusul,” kata Ewok.

Momen Lebaran ini memang sengaja mereka gunakan untuk berkunjung ke saudara di Subang. Karena waktunya panjang, mereka sekalian akan naik Gunung Salak. “Pulangnya (ke Bangka) nunggu selesai larangan pemerintah,” ucap Ewok.

Pemandangan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta terlihat lebih sepi dari Terminal 2. Tidak banyak orang di tempat makan maupun duduk-duduk di kursi tunggu di terminal internasional ini.  “Terminal 1 sudah tak digunakan lagi sejak pandemi,” kata Branch Communication Bandara Soekarno Hatta Holik Muardi kemarin.

Lebih lanjut Holik menyatakan selama tujuh hari terakhir jumlah penumpang sekitar 40 ribu hingga 60 ribu orang tiap harinya. Ini tak jauh beda dengan jumlah penumpang pada hari biasa di masa Covid-19. “Pergerakan penumpang fluktuatif,” ungkapnya. Sementara untuk penerbangan internasional ada 25 pesawat yang take off maupun landing.

 

Pantauan Udara TNI AU

 

Dari udara, TNI AU melalui Indonesia Flying Club (IFC) mengerahkan dua unit pesawat Cessna untuk membantu PT Jasa Marga memantau arus mudik tahun ini. Kedua pesawat tersebut akan berpatroli mulai Rabu (6/5) sampai Senin (17/5). Kemarin para pengawak dua pesawat tersebut melakukan briefing patroli di Lapangan Terbang, Pondok Cabe. Aspotdirga KSAU Marsekal MudaTNI Kusworo menyatakan bahwa kedua pesawat itu akan berpatroli di sepanjang jalur Jakarta sampai Sragen.

Kusworo menyebut, pihaknya membagi spot pemantauan udara menjadi dua area. “Mulai dari Pondok Cabe – Cirebon dan Cirebon Sragen,” kata dia. Total personel yang dilibatkan oleh TNI AU melalui IFC sebanyak 17 penerbang. Mereka juga dibantu oleh 15 personel pendukung. Seluruhnya akan bertugas secara bergantian untuk membantu PT Jasa Marga memantau situasi dan kondisi terkini di jalur mudik dari udara. Dengan begitu, langkah-langkah strategis diharapkan bisa lebih cepat mereka ambil.

Project Director Jasamarga Tol Road Command Center (JMTC) Raddy R. Lukman menyatakan bahwa disamping patroli udara, keberadaan personel bantuan dari TNI AU juga bisa disiagakan untuk penanggulangan kondisi darurat. Selain kerja sama dengan TNI AU, PT Jasa Marga juga sudah bekerja sama dengan Basarnas. “Kami menggelar simulasi di Tol Cipali dan Tol Jagorawi tentang pelaksanaan penanganan apabila terjadi accident, sekaligus menguji kemampuan Tim Satgas Jasamarga Siaga,” jelas Raddy.

Sementara itu, Pusat Polisi Militer TNI AL (Puspomal) juga sudah melakukan gelar pasukan terkait antisipasi mudik. Gelar pasukan tersebut mereka laksanakan sesuai dengan kebijakan pemerintah yang melarang seluruh ASN, TNI, dan Polri mudik. Komandan Puspomal Laksamana Muda TNI Nazali Lempo menyatakan bahwa instansinya ingin memastikan kebijakan pemerintah dilaksanakan oleh seluruh jajaran Angkatan Laut.

Nazali menegaskan, itu penting lantaran larangan mudik dikeluarkan pemerintah tidak lain demi menekan laju penyebaran Covid-19. “Prajurit Pomal harus siap sedia dalam rangka melaksanakan perintah dari satuan untuk membantu pemerintah dalam upaya pencegahan dan pengendalian meluasnya Covid-19,” imbuhnya. Karena itu, dia menegaskan kembali tidak boleh ada personel TNI AL yang mudik. “Seluruh prajurit agar tidak melaksanakan mudik lebaran sesuai instruksi pimpinan,” tambahnya. (arl/JPG/r6)

 

Titik Penyekatan Mudik di NTB

 

BANDARA INTERNASIONAL LOMBOK

Antisipasi pemudik yang datang dari daerah lain. Seperti wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia.

 

PELABUHAN LEMBAR DAN GILI TRAWANGAN

Antisipasi pemudik dari wilayah Bali dan Jawa yang menggunakan jalur laut.

 

WILAYAH POTO TANO

Antisipasi pemudik dari wilayah timur dan tengah seperti wilayah Sulawesi dan NTT.

 

PELABUHAN KAYANGAN DAN POTO TANO

Ansitipasi pemudik dari Pulau Lombok ke Pulau Sumbawa dan sebaliknya.

 

Sumber: Polda NTB

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks