alexametrics
Jumat, 27 November 2020
Jumat, 27 November 2020

Sambut MotoGP, Energi Baru 11 Desa Wisata Bumi Gora

LOMBOK TENGAH-Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar bimbingan teknis bertajuk “Rebound 11 Desa Wisata” di Pulau Lombok. Langkah ini untuk menggairahkan kembali desa wisata dan memastikan bersih, sehat, aman, dan nyaman dikunjungi wisatawan Nusantara maupun mancanegara di tengah pandemi Covid-19.

“Kita kemas dalam bimbingan teknis pengembangan desa wisata di destinasi super prioritas Mandalika,” kata kata Direktur Pengembangan Distinasi Regional II Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wawan Gunawan di sela mengunjungi Desa Wisata Sade, kemarin (6/10).

Sebelas desa wisata yang dimaksud yaitu, Desa Rambitan, Desa Penujak, Desa Sukarara, dan Desa Bilebante di Lombok Tengah. Kemudian, Desa Kembang Kuning, Desa Tetebatu dan Desa Sembalun Selatan di Lombok Timur. Berikut Desa Senaru dan Desa Pemenang Barat di Kabupaten Lombok Utara. Dan Desa Gili Gede dan Desa Mekarsari di Lombok Barat.

Wawan mengatakan, selama Covid-19 menerjang pariwisata yang paling merasakan dampaknya. Kendati demikian, harus dipetik pelajaran berharga dari musibah tersebut. Salah satunya, objek-objek wisata harus berbenah dari sisi kebersihan dan kesehatan.

“Yang kotor kita bersihkan, yang rusak kita perbaiki, dan yang bersih kita jaga kebersihannya,” kata dia.

Atas dasar itu, Kemenparekraf turun gunung menggerakkan, mengajak, mendorong, dan menyadarkan warga.

Kata dia, Kemenparekraf juga pernah menggelar rebound di di Desa Kuta dan Desa Sengkol, tepatnya Pantai Kuta, Pantai Tanjung Aan dan Pantai Gerupuk. Kali ini, kegiatan yang sama digelar di 11 desa wisata.

“Berbicara keindahan objek wisata di daerah kita ini, saya pastikan tidak ada duanya,” kata Wawan.

Hanya saja, percuma indah dan memesona, kalau objek-objek wisatanya tidak sehat dan tidak bersih. Untuk itulah, dalam kesempatan itu, pihaknya secara simbolis menyerahkan bantuan alat kebersihan bagi warga Desa Wisata Sade. Sekaligus bergotong royong membersihkan sampah yang berserakan di pinggir-pinggir jalan, areal parkir, hingga areal rumah adat Desa Wisata Sade.

Tidak berhenti di situ, mereka juga membersihkan kamar-kamar mandi yang diperuntukkan bagi wisatawan. Selain itu, digelar juga diskusi singkat. “Apa yang kita lakukan ini menjadi sejarah dan contoh bagi generasi kita. Bahkan menjadi ladang amal kita,” katanya.

Turut hadir Direktur Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup Kemendes PDTT Dwi Rudi Hartoyo, Ketua Lembaga Kelompok Kreatif Eco Design Songket Alam Loteng Suwini Astuti, Kepala Dinas Pariwisata NTB HL Mohammad Faozal, dan Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Loteng H Nasrun.

“Kalau bersih dan sehat, saya yakin pebalap MotoGP Valentino Rossi akan datang ke Sade ini,” lanjut Wawan. Apalagi sebelumnya, Presiden Joko Widodo pernah berkunjung, sekaligus melaksanakan Salat Jumat.

Di tempat yang sama, Dwi Rudi Hartoyo mengatakan, melalui Keputusan Gubernur, ada 100 desa wisata yang akan dibentuk di NTB. Namun, di Loteng saja sudah berdiri 61 desa wisata. Itu artinya, geliat pemerintah desa dan warga membangun desa, luar biasa.

Ke depan kata dia, anggaran desa akan diberikan ruang selebar-lebarnya guna mendukung pengembangan desa wisata. Kemendes PDTT akan menyiapkan regulasinya. Pengembangan sumber daya manusia juga akan menjadi tanggung jawab Kemendes PDTT. Di tahun 2021 misalnya, sedikitnya 35 desa di Loteng akan menerima program pendidikan dan pelatihan.

“Tujuannya, untuk mempersiapkan diri menghadapi balapan MotoGP. Salah satunya, penguasaan bahasa asing,” katanya.

Karena yang datang bukan saja wisatawan nusantara, tapi wisatawan asing dari berbagai negara. Satu tim balap MotoGP saja kata dia, terdapat 100 orang. Belum tim-tim yang lain. Belum penonton dan belum murni wisatawan yang berlibur.

Dalam pemaparan diskusi, Suwini Astuti mengatakan, kerajinan songket akan menjadi salah satu daya pikat penonton MotoGP. Namun, yang dibuat harus benar-benar dari alam. Benang dan pewarnanya dari alam, bukan dari bahan-bahan kimia.

Produksinya pun harus diperbanyak. Menyesuaikan dengan jumlah pengunjung yang datang ke KEK Mandalika. Dia bersyukur, saat ini para perempuan NTB bisa menghasilkan kerajinan songket yang berkualitas. Mereka sudah memiliki penghasilan tetap, paling rendah sebesar Rp 3,5 juta per bulan. Dulu, tidak ada sama sekali. Kendati demikian, pihaknya berharap Kemenparekraf dan Kemendes PDTT ikut mengintervensi, sehingga lebih maju lagi.

Kadispar NTB HL Mohammad Faozal mengatakan, desa-desa wisata yang akan mengikuti kegiatan rebound, konsepnya sama seperti yang dilaksanakan di Dusun Sade. Tidak tertutup kemungkinan, desa-desa wisata lain di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa akan disasar. Tinggal menunggu waktunya saja.

Satu tujuannya, bersama-sama menghadapi MotoGP dan investasi di KEK Mandalika. (dss/r6)

Rebound 11 Desa Wisata

 

LOMBOK TENGAH

Desa Rambitan, Desa Penujak, Desa Sukarara dan Desa Bilebante

LOMBOK TIMUR

Desa Kembang Kuning, Desa Tetebatu dan Desa Sembalun Selatan

LOMBOK UTARA

Desa Senaru dan Desa Pemenang Barat

LOMBOK BARAT

Desa Gili Gede dan Desa Mekarsari

Sumber: Kemenparekraf

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Rumah Ditandai, Ratusan Penerima PKH Mendadak Mengaku Mampu

Langkah yang dilakukan Dinas Sosial Kota Mataram cukup ampuh untuk memverifikasi data penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Setelah melakukan labelisasi di rumah warga penerima PKH, ratusan warga mendadak menyatakan diri sebagai keluarga mampu alias memutuskan keluar dari program PKH.

Makmur : Warga Mataram Pemilih Cerdas

Kritik terhadap jalannya debat Pilkada Kota Mataram yang telah terlaksana dua kali datang dari sejumlah pihak. Banyak yang menilai debat monoton, datar bahkan ada yang mensinyalir debat sebagai sebuah konspirasi.

Ini Dia Morikai, Masker Wajah dari Daun Kelor Bikin Wajah Kinclong

Nurul Rahmadani begitu kreatif. Perempuan jebolan Agri Bisnis Universtas Mataram ini memanfaatkan daun kelor sebagai bahan kosmetik. Terutama masker wajah.

Peluang Raih Hati Pemilih Mataram di Debat Terakhir

Sejauh ini, beberapa lembaga survei mengunggulkan H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (Harum). Elektabilitas pasangan ini disebut jauh meninggalkan tiga pasangan lain.

HARUM Buka Ruang Kreatif untuk Pemuda MATARAM

Gelombang revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan fundamental pada berbagai tatanan kehidupan global. Hal ini ditandai dengan semakin berkembangnya kreativitas dan inovasi berbasis pemanfaatan teknologi informasi.

JPS Mataram Disalurkan Setelah Pilkada

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh patut mendapat dua jempol. Kebijakannya terkait bpenyaluran bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) tahap enam patut diapresiasi. “Penyaluran JPS tahap keenam akan dilakukan setelah Pilkada Kota Mataram 9 Desember mendatang,” tegas Ahyar, Selasa (25/11).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Kisah Sukses Juragan Lobster NTB : Sekali Panen Rp 1 Miliar

Budi daya lobster sungguh menjanjikan. Inilah hikayat mereka-mereka yang hidupnya berbalik 180 derajat karena lobster. Sekali panen, ratusan juta hingga Rp 1 miliar bisa...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Korona Meningkat, Libur Panjang Akhir Tahun Ini Bisa Dibatalkan

Pemerintah mempertimbangkan untuk memperpendek atau meniadakan sama sekali libur panjang pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun 2020 ini jika penerapan protokol kesehatan pada liburan Maulid Nabi akhir Oktober lalu dianggap tidak efektif.

Akta Kelahiran Anak Kini Bisa Dibuat tanpa Buku Nikah

Akta kelahiran anak kini bisa dibuat tanpa melampirkan buku nikah atau akta nikah orang tua. “Sekarang ada namanya SPTJM (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak) pernikahan sebagai syarat buat akta kelahiran,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kota Mataram Chairul Anwar.
Enable Notifications    OK No thanks