alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

Kian Diminati Wisatawan, Pendakian ke Gunung Rinjani Naik Tiga Kali Lipat

MATARAM-Situasi pandemi covid yang kian melandai, mempengaruhi pendakian di Gunung Rinjani. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), mencatat ada kenaikan tiga kali lipat wisata pendakian untuk tahun 2021 dibandingkan 2020.

”Dari wisatawan domestik dan mancanegara itu ada kenaikan antara 2020 dengan 2021,” kata Kepala Balai TNGR Dedy Asriady, Jumat (8/4).

Di awal masuknya covid di Indonesia pada 2020 lalu, berdampak juga pada jumlah pendakian ke Gunung Rinjani. Tahun itu, hanya ada 7.536 pendaki nusantara yang datang. Adapun pendaki mancanegara anjlok menjadi 103 orang saja. Jauh merosot dibandingkan tahun 2019 yang sebanyak 12.539 orang.

”Ada pengaruh dari pandemi. Banyak terjadi pembatasan, termasuk pendakian juga kan sempat kita tutup,” ujarnya.

Kondisi pendakian sedikit membaik pada 2021. Untuk pendakian domestik, tercatat dilakukan 21.567 orang. Tiga kali lipat jika dibandingkan tahun 2020. Begitu juga dengan pendaki mancanegara, tahun lalu tercatat ada 436 bule yang naik ke Gunung Rinjani.

Baca Juga :  Dinsos NTB Dorong PMI yang Dideportasi dari Malaysia Masuk DTKS

Dedy berharap kondisi tahun ini bisa lebih baik lagi. Pandemi covid bisa terus melandai dan  tidak terjadi lagi pembatasan. Sehingga bisa semakin banyak pendakian yang dilakukan ke Gunung Rinjani. Dengan begitu, perekonomian masyarakat di sekitar kaki Gunung Rinjani bisa terus meningkat.

Lebih lanjut, naiknya jumlah pendakian berbanding lurus dengan jumlah pendaki yang tidak patuh dengan aturan. Selama 2021, ada 5.726 pendaki atau akun yang mendaftar melalui e-Rinjani, telah masuk daftar hitam atau diblacklist.

Kata Dedy, dari ribuan pendaki, hanya 137 orang saja melakukan konfirmasi atas kesalahan yang mereka perbuat. Setelah proses klarifikasi ini, Balai TNGR kemudian memutuskan untuk membuka blokir terhadap 130 orang.

Baca Juga :  Pendakian ke Rinjani Masih Tutup, Pengusaha Diminta Bersabar

”Tujuh orang tidak kita buka blacklistnya. Satu orang itu karena dia pakai dobel akun, menggunakan akun berbeda ketika akunnya dalam posisi terblacklist,” jelasnya.

Ia mengatakan, pendaki yang melakukan konfirmasi setelah masuk daftar hitam, kebanyakan beralasan sakit. Sehingga tidak melapor ketika turun atau melebihi waktu pendakian yang telah ditentukan.

Ada juga yang tidak melapor karena takut terkena denda. Hingga tidak adanya petugas saat pendaki hendak melakukan check out.

”Bahkan ada pendaki bilang, itu dia dapat saran supaya tidak melakukan check out. Itu kan salah. Tetap harus check out, agar membantu petugas,” tandas Dedy. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/