alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Berkunjung ke Berugak Buku di Desa Durian, Lombok Tengah

Budaya literasi masyarakat masih rendah. Tapi kini muncul gerakan-gerakan anak muda yang mengajak warga gemar dan cinta membaca. Seperti Berugak Buku yang dikembangkan Ahmad Jumaili, pemuda di Dusun Paoq Dandaq, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah.

 SIRTUPILLAILI, Lombok Tengah

===========================

Sebuah gazebo (berugak) persegi empat berdiri di tengah sawah. Ukurannya cukup lebar dengan atap terbuat dari ilalang. Di sekelilingnya terdapat taman kecil lengkap dengan kolam ikan. Berbagai jenis bunga, sayuran, dan tanaman obat seperti selada, kunyit hingga pohon mahkota dewa tumbuh di situ.

Dari atas berugak, hamparan sawah nan hijau tersuguh. Tiupan angin sepoi-sepoi sesekali menggelitik. Duhhh… segarnya. Di berugak itu terpasang dua rak panjang berisi buku dan majalah.

Sore itu, saat Lombok Post berkunjung, beberapa orang pelajar tengah berdiskusi sambil membuka buku-buku. Entah dia membahas isi buku atau hal lain. Tapi wajah mereka cukup serius. Di sampingnya, seorang laki-laki bertubuh kurus sedang sibuk membuka-buka buku di rak itu. Ia juga memunguti buku-buku dan majalah yang berserakan di berugak.

Begitulah kesibukan sehari-hari di Berugak Buku itu. Hampir setiap hari, warga dan pelajar memanfaatkan berugak sebagai tempat belajar, membaca dan berdiskusi.

“Sebenarnya ada yang tugas merapikan buku-buku ini setiap hari, tapi karena hari minggu, anak-anak sedang libur,” kata Ahmad Jumaili memulai percakapan.

Ahmad Jumaili adalah pendiri dan pemilik Berugak Buku itu. Nama berugak buku dicetuskannya untuk menamai kegiatan literasi di kampung halamannya.

Dinamakan Berugak Buku karena gazebo atau bale tradisional orang Sasak menjadi basis tempat untuk menyerukan semangat literasi. Baik membaca, menulis, dan berdiskusi. “Kami ingin ajak warga senang membaca,” katanya.

Berugak Buku didirikannya pada tahun 2017. Berawal dari keresahan atas miskinnya literasi masyarakat desa. Diperparah dengan tidak adanya toko buku, maupun perpustakaan di desanya. Akhirnya, Jumaili berinisiatif mengumpulkan buku koleksinya sendiri, kemudian dipinjamkan untuk dibaca orang-orang.

Setahun kemudian, ia berupaya menggalang donasi buku melalui Facebook. Hasilnya tak kurang dari 500 judul buku dengan berbagai disiplin keilmuan berhasil ia kumpulkan.

Semua jenis buku mulai novel, majalah hingga literatur ilmiah mereka terima selama masih bisa dimanfaatkan. “Donasi kita buka seluas-luasnya” tutur Jumaili, yang juga pengelola Yayasan Ponpes Sirajul Huda itu.

Kegiatan literasi di Berugak Buku kini tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga  mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan, workhsop, baca puisi, mendongeng dan kelas inspirasi.

Setiap hari Sabtu, berugak buku memiliki kegiatan akhir pekan yang dijuluki #BBWeekEndForum. Pagi harinya diisi dengan kelas inspirasi dan sorenya diisi dengan diskusi tematik atau apresiasi sastra.

Setiap Sabtu pagi biasanya berugak buku disesaki siswa-siswi sekolah dasar (SD) atau madrasah ibtidaiyah (MI) yang ikut kelas Inspirasi. Pembicaranya adalah praktisi, akademisi, aktivis, penulis, hingga wartawan. Mereka sengaja diundang Berugak Buku untuk berbagi inspirasi kepada mereka soal profesi masing-masing.

Yang unik, berugak buku juga memberikan kesempatan kepada turis-turis luar negeri untuk mengisi kelas ini. Terhitung sudah puluhan turis dari berbagai negara pernah datang ketempat itu, ada yang datang untuk mengisi kelas inspirasi, tapi ada yang datang berwisata sambil belajar pertanian organik.

Dalam kelas inspirasi, selain berbagi cerita soal profesi masing-masing, juga menjadi tempat praktik mengajar sehari. Para bule itu bisa merasakan sensasi menjadi guru seperti para guru madrasah. “Kalo kebetulan bule, kita siapkan penerjemah, sekaligus anak-anak belajar bahasa inggris dan arab,” tutur pria yang akrab disapa Jeli itu.

Dia berharap semakin banyak kegiatan literasi di tempat itu, akan semakin banyak pula warga yang datang membaca. Sehingga budaya membaca semakin kuat di tengah masyarakat. (r5/*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks