alexametrics
Senin, 18 Januari 2021
Senin, 18 Januari 2021

Virus Korona Masih Ada, Tetap Pakai Masker saat Keluar Rumah

MATARAM-Masih banyak warga yang tidak memakai masker ketika mereka beraktivitas di luar rumah. Untuk itu, Satpol PP NTB terus menggecarkan razia supaya warga disiplin menerapkan protokol kesehatan.

”Masih kita temukan. Bahkan beberapa hari terakhir ada peningkatan pelanggaran,” kata Kasatpol PP NTB Tri Budiprayitno, Minggu (10/1).

Penegakan disiplin terhadap protokol kesehatan, dilakukan Satpol PP beserta jajaran TNI Polri. Lazim dikenal dengan razia masker, yang sudah berjalan sekitar lima bulan. Selama itu, masih ditemukan masyarakat yang melakukan pelanggaran.

Kata Tri, pelanggar yang terjaring kebanyakan tidak memakai masker. Ketika ditanya alasannya, mayoritas dari mereka berdalih lupa membawa. ”Jawabannya begitu semua, sama. Semua ngaku lupa,” ujarnya.

Di samping itu, lanjut Tri, banyak masyarakat yang menganggap virus korona sudah tidak ada. Sehingga mereka dengan enteng mengabaikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus. Anggapan tersebut tentu dinilai Tri salah.

Fakta yang terjadi justru sebaliknya. Terjadi peningkatan angka kasus positif covid di NTB selama hampir satu bulan terakhir. Begitu juga dengan jumlah masyarakat yang meninggal akibat covid. Meski ada juga yang disertai penyakit penyerta atau komorbid.

Data-data yang dihimpun pemerintah, seharusnya bisa menjadi atensi masyarakat. Menjadikan mereka semakin waspada dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Bukan sebaliknya, abai dan membuka potensi penyebaran covid bagi dirinya serta orang lain.

”Petugas di lapangan itu merasakan juga suasana di masyarakat. Banyak yang menganggap ini sudah aman, padahal tidak,” tegas Tri.

Langkah pemerintah mengawal masyarakat agar disiplin menerapkan protokol, dilakukan dengan operasi nonyustisi penegakan perda. Di NTB, kegiatan ini dimulai tepat pada 14 September 2020.

Total masyarakat yang terjaring razia masker mencapai 19.050 orang. Sebanyak 15.003 orang diberi sanksi sosial; 858 mendapat teguran lisan; dan sisanya seabanyak 3.189 diberikan sanksi denda.

Persentase pelanggaran terbanyak terjadi pada September 2020. Meski hanya setengah bulan, petugas menjaring 5.834 orang. Kemudian di Oktober terdapat pelanggar protokol kesehatan sebanyak 6.727 orang.

Dua bulan berikutnya, terjadi penurunan jumlah pelanggar. Di November terdapat 2.903 orang dan Desember 2.892 orang. Sementara di Januari ini, petugas sudah menindak 694 orang, hanya dalam tempo satu pekan. ”Data kita terakhir begitu, ada 694 pelanggar yang ditindak,” ujarnya.

Tri menegaskan, pihaknya akan tetap turun melakukan razia masker. Apalagi, dari survei yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), operasi nonyustisi ini berdampak signifikan. Terhadap kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. ”Pengaruhnya sampai 56 persen,” tutur Tri.

Artinya, lebih dari setengah kepatuhan masyarakat disumbang dari kegiatan razia yang dilakukan Satpol PP bersama TNI Polri. Adapun sisanya dipengaruhi kegiatan sosialisasi dari pemerintah serta kesadaran masing-masing individu. ”Atas dasar itu, upaya penegakan perda ini akan terus kita lakukan,” tegas Tri.

Soal protokol kesehatan ini, berulangkali diimbau Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalillah. Katanya, penggunaan masker, jaga jarang, dan rajin mencuci tangan, merupakan cara paling efektif untuk mencegah penyebaran virus korona.

Protokol kesehatan berlaku pula ketika nanti dilakukan proses vaksinasi. ”Jangan disalahartikan, dengan vaksin justru protokol semakin kendor,” kata Rohmi.

Skenario pemerintah, vaksinasi dilakukan selama lebih daru satu tahun. Dengan proyeksi pelaksanaan yang begitu lama, maka diperlukan kerja sama masyarakat. Untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.

”3M itu wajib kita jalankan. Adanya vaksin ini, jangan dulu diartikan kalau kita lepas dari pandemi. Percuma vaksin, kalau di awal tidak kita imbangi dengan protokol,” ujarnya. (dit/r5)

Berita Terbaru

Enable Notifications   OK No thanks