alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan wawancara sama BNPB,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, kemarin (11/5).

Dalam laporan hasil investigasi Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) bersama majalah mingguan Tempo menyebut, tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya yakni Biozek, VivaDiag, dan Wondfo.

Meski demikian, dr Eka meminta warga tidak khawatir. Tim medis menggunakan metode yang bisa dipertanggungjawabkan. ”Insya Allah, kami memeriksa tidak dari darah tetes tetapi dari darah serum,” katanya.

Dengan metode itu, darah diambil dan diproses menjadi serum, baru diuji. ”Angka pemeriksaan rapid test dengan darah serum ini lebih baik dibandingkan dengan darah tetes,” terangnya.

Pantauan Lombok Post, dalam uji cepat terhadap pedagang di Pasar Mandalika, petugas medis menggunakan alat bermerek VivaDiag. ”Alat ini kami terima dari provinsi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi.

Dalam tes cepat itu, petugas berpakaian lengkap keliling di Pasar Mandalika. Mereka mencari orang-orang yang pernah berinteraksi dengan salah satu pedagang yang meninggal karena Covid-19. Petugas mengambil sampel darah pedagang satu per satu, terutama di sekitar lapak milik pedagang ikan kering yang meninggal.

Sampel darah kemudian dibawa ke ruang kepala pasar, di sana dua orang petugas berpakaian lengkap memproses sampel darah dengan metode sentrifugasi. Darah dimasukkan ke dalam mesin sentrifugal dan diputar untuk memisahkan serum dan darahnya. Setelah itu, sampel dites menggunakan alat bermerek VivaDiag.

Hasilnya, dari 23 sampel yang diperiksa, dua orang reaktif. ”Kami sudah minta untuk istirahat dulu, karantina mandiri salama 14 hari,” kata Usman.

Selanjutnya, Dinas Kesehatan Mataram berkoordinasi dengan RSUD untuk dilakukan uji swab agar hasilnya akurat. ”Selama karantina, kedua pedagang yang reaktif akan dipantau,” katanya.

Terkait akurasi alat tes cepat, Usman menjelaskan, penggunaan alat tes mengacu pada beberapa hal. Antara lain, adanya rekomenasi dari BNPB dan ahli patologi. ”Kemudian apakah barang itu tersedia di pasaran atau tidak?” katanya.

Pertimbangan lainnya, kalau dalam pemakaiannya alat itu menggunakan darah tetes, mereka tidak akan menggunakannya. ”Kita pakai darah serum istilahnya itu, supaya lebih valid,” jelasnya.

Dalam tes cepat kemarin, mereka menggunakan darah serum sehingga secara medis lebih akurat. Meski mereknya VivaDiag atau Wondfo, ia tidak terlalu mempersoalkan.

Pada kotak alat tes itu tertulis merek VivaDiag, didistribusikan PT Kirana Jaya Lestari. Dalam laporan Tempo, PT Kirana mendatangkan 900 ribu alat tes itu dari perusahaan China, VivaChek Biotech Hangzhou Co Ltd. Pihak perusahaan disebut sudah menarik VivaDiag bernomor 3097 dari seluruh fasilitas kesehatan. Selain itu perusahaan juga sedang menginvestigasi kasus tersebut.

Sementara alat bermerek Wondfo Biotech diproduksi di Guangzhou, China. Pantauan Lombok Post, alat bermerek Wondfo ini digunakan untuk rapid test seluruh staf khusus dan pekerja di lingkungan pendopo gubernur dan wakil gubernur NTB, 15 April lalu.

Terkait itu, Kadikes NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi menambahkan, mereka tidak menjadikan hasil rapid test sebagai alat diagnostik, tapi hanya untuk screening kelompok besar yang berisiko. ”Sesuai SOP di NTB, yang kontak erat langsung uji swab,” jelasnya.

Sedangkan mereka yang tidak kontak erat jalani rapid test terlebih dahulu. ”Kalau reaktif baru uji swab,” terangnya.

Hasanudin, salah seorang kuli pasar yang jalani tes mengaku lebih tenang setelah dites. Ia sendiri tidak mengingat apakah pernah kontak dengan pedagang yang meninggal atau tidak. ”Saya jarang-jarang ke sini (tempat jualan), saya di luar saja, karena kita tidak sempat untuk duduk-duduk,” katanya.

Sebagai gambaran, hingga kemarin, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 758 orang, dengan perincian 430 orang masih dalam pengawasan, 328 orang sembuh, dan 16 orang PDP meninggal. Untuk orang dalam pemantauan (ODP) jumlahnya 5.260 orang, terdiri dari 451 orang masih dalam pemantauan dan 4.809 orang selesai pemantauan.

Sementara itu, jumlah orang tanpa gejala (OTG) yaitu orang yang kontak dengan pasien positif Covid-19 namun tanpa gejala sebanyak 4.123 orang. Mereka terdiri dari 2.034 orang masih dalam pemantauan dan 2.089 orang selesai pemantauan.

Sedangkan pelaku perjalanan tanpa gejala (PPTG) yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 sebanyak 56.053 orang. Masih menjalani karantina 5.616 orang, dan selesai karantina 50.437 orang.  (ili/r2)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks