alexametrics
Senin, 27 Juni 2022
Senin, 27 Juni 2022

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan wawancara sama BNPB,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, kemarin (11/5).

Dalam laporan hasil investigasi Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) bersama majalah mingguan Tempo menyebut, tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya yakni Biozek, VivaDiag, dan Wondfo.

Meski demikian, dr Eka meminta warga tidak khawatir. Tim medis menggunakan metode yang bisa dipertanggungjawabkan. ”Insya Allah, kami memeriksa tidak dari darah tetes tetapi dari darah serum,” katanya.

Dengan metode itu, darah diambil dan diproses menjadi serum, baru diuji. ”Angka pemeriksaan rapid test dengan darah serum ini lebih baik dibandingkan dengan darah tetes,” terangnya.

Pantauan Lombok Post, dalam uji cepat terhadap pedagang di Pasar Mandalika, petugas medis menggunakan alat bermerek VivaDiag. ”Alat ini kami terima dari provinsi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi.

Dalam tes cepat itu, petugas berpakaian lengkap keliling di Pasar Mandalika. Mereka mencari orang-orang yang pernah berinteraksi dengan salah satu pedagang yang meninggal karena Covid-19. Petugas mengambil sampel darah pedagang satu per satu, terutama di sekitar lapak milik pedagang ikan kering yang meninggal.

Sampel darah kemudian dibawa ke ruang kepala pasar, di sana dua orang petugas berpakaian lengkap memproses sampel darah dengan metode sentrifugasi. Darah dimasukkan ke dalam mesin sentrifugal dan diputar untuk memisahkan serum dan darahnya. Setelah itu, sampel dites menggunakan alat bermerek VivaDiag.

Baca Juga :  Kejar Ketertinggalan dari Daerah Lain dengan Inovasi

Hasilnya, dari 23 sampel yang diperiksa, dua orang reaktif. ”Kami sudah minta untuk istirahat dulu, karantina mandiri salama 14 hari,” kata Usman.

Selanjutnya, Dinas Kesehatan Mataram berkoordinasi dengan RSUD untuk dilakukan uji swab agar hasilnya akurat. ”Selama karantina, kedua pedagang yang reaktif akan dipantau,” katanya.

Terkait akurasi alat tes cepat, Usman menjelaskan, penggunaan alat tes mengacu pada beberapa hal. Antara lain, adanya rekomenasi dari BNPB dan ahli patologi. ”Kemudian apakah barang itu tersedia di pasaran atau tidak?” katanya.

Pertimbangan lainnya, kalau dalam pemakaiannya alat itu menggunakan darah tetes, mereka tidak akan menggunakannya. ”Kita pakai darah serum istilahnya itu, supaya lebih valid,” jelasnya.

Dalam tes cepat kemarin, mereka menggunakan darah serum sehingga secara medis lebih akurat. Meski mereknya VivaDiag atau Wondfo, ia tidak terlalu mempersoalkan.

Pada kotak alat tes itu tertulis merek VivaDiag, didistribusikan PT Kirana Jaya Lestari. Dalam laporan Tempo, PT Kirana mendatangkan 900 ribu alat tes itu dari perusahaan China, VivaChek Biotech Hangzhou Co Ltd. Pihak perusahaan disebut sudah menarik VivaDiag bernomor 3097 dari seluruh fasilitas kesehatan. Selain itu perusahaan juga sedang menginvestigasi kasus tersebut.

Sementara alat bermerek Wondfo Biotech diproduksi di Guangzhou, China. Pantauan Lombok Post, alat bermerek Wondfo ini digunakan untuk rapid test seluruh staf khusus dan pekerja di lingkungan pendopo gubernur dan wakil gubernur NTB, 15 April lalu.

Baca Juga :  Gubernur Kantongi Dua Nama Calon Kepala Biro

Terkait itu, Kadikes NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi menambahkan, mereka tidak menjadikan hasil rapid test sebagai alat diagnostik, tapi hanya untuk screening kelompok besar yang berisiko. ”Sesuai SOP di NTB, yang kontak erat langsung uji swab,” jelasnya.

Sedangkan mereka yang tidak kontak erat jalani rapid test terlebih dahulu. ”Kalau reaktif baru uji swab,” terangnya.

Hasanudin, salah seorang kuli pasar yang jalani tes mengaku lebih tenang setelah dites. Ia sendiri tidak mengingat apakah pernah kontak dengan pedagang yang meninggal atau tidak. ”Saya jarang-jarang ke sini (tempat jualan), saya di luar saja, karena kita tidak sempat untuk duduk-duduk,” katanya.

Sebagai gambaran, hingga kemarin, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 758 orang, dengan perincian 430 orang masih dalam pengawasan, 328 orang sembuh, dan 16 orang PDP meninggal. Untuk orang dalam pemantauan (ODP) jumlahnya 5.260 orang, terdiri dari 451 orang masih dalam pemantauan dan 4.809 orang selesai pemantauan.

Sementara itu, jumlah orang tanpa gejala (OTG) yaitu orang yang kontak dengan pasien positif Covid-19 namun tanpa gejala sebanyak 4.123 orang. Mereka terdiri dari 2.034 orang masih dalam pemantauan dan 2.089 orang selesai pemantauan.

Sedangkan pelaku perjalanan tanpa gejala (PPTG) yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 sebanyak 56.053 orang. Masih menjalani karantina 5.616 orang, dan selesai karantina 50.437 orang.  (ili/r2)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/