alexametrics
Selasa, 1 Desember 2020
Selasa, 1 Desember 2020

Nyaris Menikah, DP3AP2KB NTB Kirim Dua Anak ke Ponpes

MATARAM-Nyaris menikah di bawah umur, dua anak dimasukkan ke Pondok Pesantren Subulussalam, Gerunung, Praya, Lombok Tengah. Keduanya dari Kabupaten Lombok Utara.

“Dua anak ini kami serahkan ke pengasuh Ponpes untuk melanjutkan pendidikan. Mereka sudah kami belas (pisah) sehingga tidak jadi menikah,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTB Hj Husnanidiaty Nurdin usai menyerahkan dua anak tersebut ke pengasuh ponpes, Senin (12/10/2020).

Selama di ponpes, keduanya akan menjadi santri dan mendapat pendidikan layak tanpa biaya. ”Kami hanya menyediakan tempat tidur dan kebutuhan sehari-hari mereka,” ujarnya.

Keduanya, bersedia menjadi santri karena merasa malu balik ke rumah orang tuanya setelah dilarikan calon suaminya. Mereka sebelumnya ditempatkan di rumah singgah. ”Selama di penampungan mereka didampingi para psikolog,” jelasnya.

Upaya tersebut, kata Husnanidiaty, dilakukan sebagai upaya untuk mencegah anak-anak di NTB menikah di usia anak. Awalnya kedua anak tersebut dilarikan calon suami untuk dinikahi. ”Mereka ini masih SMP, makanya kami pisahkan dulu,” ujarnya.

Mengingat maraknya pernikahan usia anak di NTB, khususnya pada masa pandemi Covid-19, upaya-upaya cepat harus diambil pemerintah. “Kita tidak ingin anak-anak kita kehilangan masa depan karena buru-buru menikah,” jelasnya.

Pemisahan anak yang dibawa lari calon suami menjadi cara paling efektif mencehah kasus pernikahan anak. ”Begitu ada ribu-ribut anak dibawa lari, pemda kabupaten bergerak menangani,” katanya.

Dalam proses pemisahan, kata Eny, pemerintah bernegosiasi dan membangun komunikasi yang baik dengan pihak keluarga. Setelah itu anak-anak tersebut, khususnya perempuan di bawa ke penampungan untuk diberikan bimbingan psikolgi.

”Di sana kami berikan pemahaman bahwa mereka masih punya masa depan cerah, dan anak-anak itu mau tidak menikah,” jelasnya.

Karena itu, keberadaan rumah singgah atau balai perlindungan perempuan dan anak di masing-masing kabupaten/kota sangat penting. ”Daerah yang tidak punya penampungan limpahkan ke pemprov,” ujarnya.

Pola itu berhasil mencegah anak-anak menikah dini. Dalam beberapa bulan terakhir pemerintah menggagalkan 43 kasus anak menikah di bawah umur. ”Kasus-kasus ini baru di wilayah Pulau Lombok yang kita tangani,” katanya.

Ia memperkirakan, jumlah anak yang menikah di bawah umur masih jauh lebih banyak. Sayangnya, banyak kasus tidak berani dilaporkan warga. ”Keluarga takut melapor karena bisa dipidana,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian Majelis Adat Sasak (MAS) H Lalu Bayu Windia mengatakan, dari sisi hukum adat anak-anak yang belum dewasa boleh dipisahkan saat mereka hendak kawin. ”Mereka yang belum dewasa secara biologis dan psikologis bisa dilerai,” katanya. (ili/r5)

 

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kolaborasi dan Pemasaran Digital Bantu Dongkrak Produk Produk Lokal

Delapan bulan lebih pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Situasi ini tidak hanya  berpengaruh pada sektor kesehatan, tapi juga dunia usaha. Meski kondisi sulit, beberapa UMKM masih mampu bertahan bahkan berkembang dengan sejumlah inovasi. Profesional, kolaborasi dengan berbagai pihak dan pemanfaatan teknologi digital jadi jurus yang banyak dipakai para UMKM lokal dalam mendongkrak penjualan produk-produk mereka.

Kisruh Aset Pemprov di Trawangan, Kejati Diminta Telusuri Aliran Dana

”Informasi dari kami banyak, Kejati juga banyak yang sudah didapatkan,” kata Koordinator Wilayah III KPK Aida Ratna Zulaiha.

Ekspor Ditutup, Ratusan Ribu BBL di NTB Tertahan di Penampungan

”Satu bulan saja tidak ada kejelasan, pasti ekspor ilegal terjadi. Barang yang tertahan sekarang itu kan duit semua,” kata Ketua Dewan Pembina Lombok Lobster Association (LLA) Mahnan Rasuli, Minggu (29/11/2020).

UMKM Lokal Bisa Pamer Produk di NTB Mall Offline

”Ini potensi pasar baru yang menjanjikan untuk menjual produk lokal,” ujar Fathurrahman, kepala Dinas Perdagangan NTB.

Guru Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan, Dikbud Lobar Masih Berhitung

”Iya, kami telah menerima arahan dari Pak bupati dan sedang kami tindak lanjuti,” kata Sekretaris Dinas Dikbud Lobar Khairuddin, pada Lombok Post, Minggu (29/11/2020).

Sumo Sale Nissan, Diskon Terbesar di Tahun 2020

"Promo diskon Sumo Sale ini untuk All New Nissan Livina promonya sampai akhir tahun," kata Branch Head Indomobil Nissan Sandubaya Ryo Hadiyanto pada Lombok Post, Minggu (29/11/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Kisah Sukses Juragan Lobster NTB : Sekali Panen Rp 1 Miliar

Budi daya lobster sungguh menjanjikan. Inilah hikayat mereka-mereka yang hidupnya berbalik 180 derajat karena lobster. Sekali panen, ratusan juta hingga Rp 1 miliar bisa...

Selamat! Ini Pemenang Simpedes BRI Periode 1 Tahun 2020

”Mudah-mudahan dengan acara ini, nasabah BRI semakin loyal, semakin berkembang, dan semakin semarak bertransaksi,” tuturnya.

Bantuan Subsidi Upah, Guru Honorer dapat Rp1,8 Juta

Pemerintah memperluas sasaran penerima Bantuan Subsidi Upah (BSU). Kali ini, giliran tenaga pendidik dan guru non-PNS yang akan mendapat bantuan hibah sebesar Rp 1,8 juta. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyebutkan, bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan ekonomi para dosen, guru, dan tenaga kependidikan non-PNS yang selama ini ikut terdampak pandemi COVID-19.
Enable Notifications    OK No thanks