alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Cegah Penyebaran PMK, Hewan Ternak Dilarang Keluar Masuk Lombok

MATARAM-Pemprov NTB menutup pintu keluar masuk bagi hewan ternak di Pulau Lombok. Keputusan ini diambil setelah adanya sejumlah sapi terjangkit penyakit mulut dan kaki (PMK) di Lombok Timur (Lotim) dan Lombok Tengah (Loteng).

”Ini bentuk kewaspadaan kita supaya PMK tidak meluas,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Khairul Akbar, Jumat (13/5).

Khairul mengatakan, tim dari Balai Besar Veteriner Denpasar memberi atensi terhadap kasus PMK di Pulau Lombok. Tim kemudian turun untuk mengambil 10 sampel darah dan ingus sapi di Desa Aikmel, Lotim serta Desa Kelebuh, Loteng.

Sampel lalu dibawa ke Denpasar untuk diuji di laboratorium. ”Hasilnya, dari 10 sampel, 9 dinyatakan positif PMK. 4 di Loteng dan sisanya di Lotim,” ungkapnya.

Jumlah sapi yang terjangkit PMK telah mencapai ratusan ekor. Tidak saja di Desa Kelebuh dan Desa Aikmel. Tapi juga telah merembet ke desa-desa lain di wilayah Loteng. Per 10 Mei Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mencatat ada 185 ekor sapi kena PMK.

Sapi terjangkit PMK terbanyak berada di Lombok Tengah, tersebar di tiga desa dengan jumlah 150 ekor. Adapun di Lotim, sebanyak 35 ekor. Disnakkeswan sejauh ini terus melakukan pendataan di lapangan untuk memastikan berapa jumlah hewan ternak yang terjangkit PMK.

Baca Juga :  Sudah 904 Ekor Sapi Terjangkit, PMK di Loteng Kian Meluas

Khairul mengatakan, setelah mengetahui hasil uji yang menyatakan sejumlah sapi terkena PMK, dinas telah mengambil langkah preventif. Agar penyakit ini tidak semakin meluas, hewan ternak di wilayah yang terjangkit PMK dilakukan isolasi.

”Kandangnya juga disemprot dengan disinfektan,” sebut Khairul.

Selain isolasi dan penyemprotan, Disnakkeswan juga memutuskan tidak ada hewan ternak yang keluar masuk Pulau Lombok. Pasar ternak juga diminta untuk tutup selama 14 hari. Kebijakan ini akan diperkuat dengan surat edaran yang ditujukan ke kepala daerah di Pulau Lombok.

Penutupan ini bakal membawa dampak pada stok daging sapi di Pulau Lombok. Apalagi jika diberlakukan dalam waktu lama, mengingat sekitar 1,5 bulan lagi masuk Idul Adha. Yang tentunya akan membutuhkan sapi dalam jumlah banyak.

Kondisi tersebut, kata Khairul, akan dikoordinasikan lebih lanjut bersama dinas kabupaten/kota di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait berapa lama kebijakan penutupan lalu lintas hewan ternak di Pulau Lombok bakal diberlakukan.

Baca Juga :  Lombok 1839 : Perang Saudara dan Persaingan Tanjung Karang - Ampenan

”Kita diskusikan lebih lanjut, semoga tidak lama. Sekarang juga sedang diproduksi vaksin PMK,” katanya.

Mengenai asal penyakit ini, Disnakkeswan masih melakukan pendalaman. Namun, Khairul menduga ada tiga faktor yang menyebabkan ratusan sapi di Loteng dan Lotim terjangkit PMK.

Pertama, hewan ternak seperti sapi dan kambing dari Pulau Jawa yang masuk ke Pulau Lombok pada Maret lalu, diduga membawa virus ini. Kedua, kendaraan pengangkut hewan ternak yang masuk ke NTB. Terakhir, datang dari kotoran hasil pencucian daging beku yang berada di NTB. ”Daging beku yang beredar di NTB saat ini asalnya dari India,” sebut Khairul.

Sementara itu, Japar, peternak sapi asal Desa Kelebuh, Loteng, mengeluhkan wabah PMK ini. Belasan ekor sapi miliknya terjangkit. Terlihat pada bagian lidah dan kaki sapi mengalami bengkak. Serta bengkak dan air liur yang terus keluar di bagian mulut.

Ia berharap pemerintah bisa segera mengatasi wabah ini. ”Pertama satu ekor yang kena. Sekarang semua terjangkit,” kata Japar. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/