alexametrics
Sabtu, 18 September 2021
Sabtu, 18 September 2021

Pandemi di NTB Membaik, Positivity Rate Kian Rendah

JAKARTA—Dalam beberapa hari terakhir, tingkat kepositifan kasus konfirmasi positif Covid-19 (positivity rate) hingga mencapai angka 3 persen. Angka ini jauh lebih baik dari standar WHO yakni 5 persen.

Per 12 September kemarin, Satgas Covid-19 mencatat bahwa positivity rate harian mencapai 3,05 persen. Sementara dalam interval mingguan, pada periode 5 hingga 11 September 2021, positivity rate tercatat 4,23 persen. Sementara pada saat yang sama, sepekan terakhir, positivity rate di NTB mencapai 2,3 persen. Artinya, angka kepositifan konsisten berada di bawah 5 persen selama seminggu terakhir.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut, saat ini terjadi tren penurunan kasus di kawasan Afrika, Asia Tenggara dan Mediterania Timur. Sementara kawasan benua Amerika justru mengalami kenaikan kasus. ”Kita bersyukur Indonesia salah satu negara yang terus mengalami tren penurunan” ujarnya.

WHO mencatat, kasus Covid-19 secara global telah mencapai 223 juta dan angka kematian sudah melebihi 4,6 juta orang. Jumlah kasus baru relatif stabil dalam satu bulan terakhir.

Dalam beberapa hari terakhir, lanjut Retno, positivity rate nasional berhasil turun di bawah angka 5 persen yang merupakan ambang batas WHO. Padahal pada Juli 2021 lalu, positivity rate hampir mendekati 40 persen

Retno menyebut, menurut WHO, negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi mengalami pemutusan korelasi antara kenaikan kasus dengan tingkat kematian. Artinya meskipun terjadi lonjakan kasus namun tidak diikuti dengan kenaikan rawat inap dan juga kematian.  ”Hal ini membuktikan bahwa vaksin bekerja,” jelasnya.

Namun, dia mengingatkan masih banyak tantangan yang harus dilalui sebelum ‘peperangan’ ini dapat dimenangkan. Menlu memastikan mesin diplomasi Indonesia akan terus bergerak dengan kecepatan penuh agar kebutuhan vaksin nasional dapat terpenuhi. Dengan tetap menyuarakan akses yang adil terhadap vaksin untuk semua negara.

Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan bahwa menurut catatan Satgas, Indonesia telah mengalami penurunan kasus hingga 74 persen dari puncak kasus yang terjadi sebelumnya.

Meski demikian ia mengingatkan bahwa kewaspadaan harus selalu dijaga, mengingat perkembangan virus Covid-19 masih cukup dinamis. Virus ini menurut Wiku seperti halnya semua virus, memiliki sifat alami untuk mengalami perubahan terus-menerus. ”Virus akan terus bermutasi selama virus masih ada di tengah masyarakat, baik pada skala lokal maupun global,” jelasnya.

Pada 7 September 2021, BPOM telah memberikan EUA kepada Vaksin Janssen dan vaksin Convidecia yang dikembangkan CanSino Biological Inc. dan Beijing Institute of Biotechnology. Vaksin Janssen dan Covidecia menjadi ke-8 dan ke-9 yang telah mendapatkan EUA dari Badan POM pada tahun ini.

Kedua vaksin tersebut menyusul tujuh vaksin lain yang telah mendapatkan EUA lebih awal, yaitu Sinovac, Vaksin COVID-19 Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, dan Sputnik V.

 

Vaksinasi Terus Dikebut

 

Terkait vaksinasi, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono meminta agar pemerintah daerah bisa ngebut. Dalam dua bulan terakhir, vaksin Covid-19 yang diterima Indonesia sudah cukup banyak. Bahkan kedatangan vaksin terus berlangsung hingga Desember.

Jika dihitung dari awal kedatangan vaksin hingga tahap ke 56 yang datang pada Sabtu lalu (11/9), Indonesia telah memiliki 232 juta dosis vaksin. ”Bulan ini harapannya bisa menyuntikan 2 juta dosis vaksin perhari,” ungkap Dante.

Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah vaksinasi untuk lansia. Dante meminta pemerintah daerah memiliki trobosan terkait hal ini. ”Kami juga perlu dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar tidak ada yang tertinggal dalam program vaksinasi ini,” ungkapnya.

Selain itu, Dante meminta agar masyarakat tidak memilih vaksin apa yang digunakan. Menurutnya, vaksin terbaik adalah vaksin yang ada saat ini. Jika menunda vaksinasi akan berdampak lebih parah pada kondisi tubuh jika terkena Covid-19. ”Ada ribuan anak yang kehilangan orang tuanya karena Covid-19,” katanya.

Lalu terkait jumlah kasus aktif dan angka kematian akibat Covid-19 yang menurun di Indonesia tidak boleh disikapi dengan sembrono. Masyarakat tetap diminta waspada dengan lonjakan kasus Covid-19. Caranya dengan mematuhi protokol kesehatan. ”Untuk itu kita harus mematuhi kebijakan protokol kesehatan yang sudah dikeluarkan pemerintah karena bertujuan untuk kebaikan kita bersama,” ucap dokter spesialis penyakit dalam itu. Menurutnya, kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) untuk menanggulangi agar Indonesia tidak terjadi lonjakan kasus.

Ketua Umum Komunitas Indonesia Lawan Libas Corona Virus Disease-19 (KILLCOVID19) Adharta Ongkosaputra menyebutkan, salah satu daerah yang vaksinasinya masih minim adalah Flores. Pihaknya ikut turun di Desa Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). ’’Kemarin (Jumat, Red) ada 350 orang yang divaksin. Ini masih piloting,’’ kata Adharta.

Rencananya, pada Selasan (14/9) esok, vaksinasi dilakukan lagi dengan sasaran lebih banyak. Yakni, mencapai 1.500 orang. ’’Kami pilih Flores karena belum banyak warganya yang divaksin,’’ ujarnya. Selain itu, Flores merupakan wilayah di NTT dengan jumlah penduduk yang sangat banyak dan area wilayahnya luas.

Di sejumlah daerah di luar Jawa dan Bali, tingkat vaksinasinya memang belum tinggi. Menurut dia, pemerintah bisa jadi masih berfokus menuntaskan vaksinasi Covid-19 di Jawa dan Bali. Karena itu, pihaknya berharap elemen masyarakat lainnya ikut membantu vaksinasi Covid-19 untuk wilayah luar Jawa dan Bali.

Sementara itu, pemerintah terus berupaya mencukupi kebutuhan vaksin Covid-19 untuk seluruh Indonesia. Kiriman vaksin Covid-19 dari luar negeri terus masuk ke Indonesia. Misalnya, pada Rabu (8/9) sebanyak 500 ribu dosis vaksin AstraZeneca tiba.

Wiku Adisasmito menuturkan, kedatangan vaksin tersebut merupakan upaya pemerintah meningkatkan ketersediaan vaksin di dalam negeri. ’’Dengan demikian, program vaksinasi dapat berjalan secara merata di Indonesia,’’ katanya.

Dalam beberapa waktu mendatang, lanjut dia, pemerintah kembali menerima vaksin. Salah satunya, vaksin Covid-19 merek Pfizer sebanyak 639.990 dosis. Kemudian, dua kloter kedatangan vaksin AstraZeneca masing-masing 615 ribu dosis dan 358.700 dosis. Selain itu, vaksin merek Johnson & Johnson akan masuk ke Indonesia.

Wiku mengapresiasi keikutsertaan masyarakat dalam program vaksinasi. Termasuk elemen masyarakat yang ikut membuka layanan vaksinasi.

 

Antisipasi Varian Baru

 

Terpisah, Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi angkat bicara tentang kasus positif di Surabaya yang disebut-sebut terpapar Covid-19 varian Mu karena gejala yang tidak biasa. Salah satunya, CT value sangat rendah meski sudah dirawat dua pekan.

Nadia menjelaskan, temuan itu belum bisa dipastikan karena masih harus menunggu pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) di Universitas Airlangga (Unair). Selain itu, penentuan jenis varian SARS-CoV-2 tidak bisa hanya mengandalkan CT value dari pemeriksaan PCR. ”Dari pemeriksaan WGS, kita bisa memetakan mutasi-mutasi yang terjadi dan mencocokkan dengan primer varian yang terkait,” terangnya.

Dia mengungkapkan, saat ini Kemenkes telah menganalisis lebih dari 5.000 sampel WGS dari 33 provinsi. Sekitar 2.000 sampel di antaranya dilaporkan merupakan varian Delta. Belum ada satu pun kasus infeksi dari varian Mu. ”Kami juga memantau semua varian yang muncul, baik itu varian Alfa, Beta, Gamma, dan Delta, maupun varian lokal di Indonesia,” tegasnya.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meninjau Rumah Sakit Lapangan (RSL) Covid-19 Puskesmas Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, kemarin. Di sana dia mengecek fasilitas laboratorium tes cepat molekuler (TCM) hingga ketersediaan obat-obatan untuk penanganan pasien Covid-19.

Menurut dia, keberadaan RSL yang dibangun atas inisiatif bupati Madiun sejak Juli itu memberikan dampak yang baik dalam penanganan pasien Covid-19. Selain itu, Muhadjir mengapresiasi pelayanan di RSL Puskesmas Balerejo yang telah memiliki laboratorium TCM. Laboratorium itu juga diharapkan digunakan untuk penanganan pasien tuberkulosis (TB), khususnya untuk pelacakan pasien TB. (tau/lyn/wan/mia/c14/fal/JPG/r6)

 

Daerah dengan Angka Kepositifan Rendah

 

MALUKU

0,5 Persen

MALUKU UTARA

0,6 Persen

DKI JAKARTA

0,8 Persen

BANTEN

1,2 Persen

KEPULAUAN RIAU

1,4 Persen

SULAWESI TENGGARA

1,5 Persen

JAWA BARAT

1,8 Persen

BENGKULU

1,9 Persen

PAPUA BARAT

1,8 Persen

JAWA TIMUR

2,0 Persen

PAPUA

2,1 Persen

NTB

2,3 Persen

NTT

2,8 Persen

 

Keterangan:

  • Provinsi lainnya berada di atas 3 persen.
  • Positivity rate tertinggi ada di Kalimantan Utara dengan 12,1 Persen

 

Sumber: Kementerian Kesehatan

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks