alexametrics
Kamis, 11 Agustus 2022
Kamis, 11 Agustus 2022

Kekurangan Petugas Swab, Tracing di NTB Rendah

MATARAM-Jumlah petugas swab di NTB masih belum ideal. Kondisi tersebut mempengaruhi rendahnya tracing atau penelusuran kontak erat pasien positif covid.

Asisten III Setda NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi mengatakan, instruksi gubernur terbaru menyinggung soal tracing. Ditetapkan minimal 20 orang untuk satu pasien positif covid. ”Sudah ditetapkan seperti itu,” kata Eka.

Tracing kontak diimbangi dengan upaya rapid antigen yang selama ini sudah dijalankan satgas. Dengan semakin banyaknya orang yang ditracing, ditambah dengan rapid antigen, bisa semakin cepat untuk mengetahui kepastian apakah mereka positif atau negatif covid.

Dia mengatakan, mereka yang reaktif di rapid antigen, kemudian ditindaklanjuti dengan swab PCR, hasilnya biasanya positif. Seperti pengalaman tes antigen masal sebelumnya. Dari 1.300 orang yang dites, sebanyak satu persen atau 13 orang reaktif. Setelah di swab PCR, seluruhnya dinyatakan positif covid. ”Spesifitasnya antigen kan 97 persen. Jadi lebih akurat,” tuturnya.

Baca Juga :  Dukung Zero Waste untuk NTB Gemilang, Telkom NTB Bersihkan Rinjani

Hanya saja, upaya tracing belum bisa maksimal. Petugas tracing sekaligus yang melakukan rapid antigen di lapangan masih minim. Terutama di Pulau Sumbawa.

Kata Eka, untuk Pulau Lombok sudah cukup banyak. Apalagi sebelumnya sudah dilatih tambahan petugas swab di lapangan.

”Di Lombok itu di setiap puskesmas sudah ada dua tambahannya, untuk petugas swab,” kata Eka.

Berbeda dengan Lombok, kondisi di Pulau Sumbawa masih belum ideal. Eka menyebut baru dua kabupaten saja, yaknis Sumbawa dan Dompu, yang keberadaan petugas swabnya cukup ideal.

”Idealnya itu satu desa ada satu petugas swab. Jadi kalau tracing serentak, tinggal dibantu sama yang dari puskesmas,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr H Lalu Hamzi Fikri mengatakan, rendahnya hasil tracing kontak erat, dipengaruhi juga situasi psikologi masyarakat. Melihat petugas tracing turun mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap atau baju hazmat.

Baca Juga :  Wagub NTB Minta Muslimat NWDI Berbuat yang Riil dan Aktual

”Jadi ada muncul ketakutan di masyarakat melihat petugas pakai hazmat,” kata Fikri.

Fikri menerangkan, baju hazmat merupakan standar dalam penanganan kesehatan di saat pandemi. Guna memberi perlindungan terhadap petugas kesehatan, saat bertugas di lapangan.

Namun, dengan melihat kondisi psikologis masyarakat, Dikes mempertimbangkan untuk meminta nakes tidak lagi menggunakan hazmat. Khusus ketika turun melakukan tracing.

”Hazmat ini kan bentuk kewaspadaan, tapi yang kita tracing ini kan belum tentu positif. Jadi ada perubahan strategi di lapangan,” tuturnya.

Nantinya, petugas tetap mengenakan alat pelindung diri berupa masker dan faceshield. Pendekatan ini, disebut Fikri lebih soft. Mudah diterima masyarakat dan tidak menimbulkan ketakutan.

”Kita sudah koordinasi dengan Dikes kabupaten/kota dan rumah sakit juga. Nanti implementasinya di puskesmas. Ini supaya target tracing kita, 20 orang itu, bisa tercapai di lapangan,” tandas Fikri. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/