alexametrics
Rabu, 30 September 2020
Rabu, 30 September 2020

Dari Karang Bayan, Kerajinan Ketak Jadi Duta NTB ke Mancanegara

Pulau Lombok dikenal dengan beragam kerajinan anyaman. Salah satunya anyaman ketak dari  Karang Bayan, Lisangsar, Lombok Barat. Tak cuma di sini, kerajinan ini bahkan sudah terkenal ke penjuru dunia.

———————————————-

 

PUSAT pembuatan anyaman ketak di Desa Karang Bayan ada di Dusun Peresak Timur.

Menilik sejarahnya, kerajinan ini bermula karena tanaman ketak dianggap sebagai rumput liar yang merusak tanaman lainnya. Biasanya menjulur ke pohon yang lain. Selain itu dianggap juga tidak sehat.

Rumut ketak juga acap disebut tidak berharga. Tapi, tentu itu dulu. Kini justru rumput ini sangat berharga. Karena menjadi bahan utama kerajinan anyaman.  Dari rumput ketak, terlahir aneka kerajinan bernilai tinggi seperti tas, berbagai peralatan rumah tangga seperti alas piring, alas gelas, maupun tempat aksesoris. Layaknya emas, kini rumput ketak banyak dicari sebagai bahan utama kerajinan anyaman.

Awaludin, warga Dusun Peresak Timur yang merupakan salah satu pengrajin ketak mengemukakan, di desanya, kerajinan anyaman ini sudah dimulai sejak tahun 1996. Awaludin lah yang memulai. Dirinya mengajak warga sekitar untuk mulai membuat ketak. Sembari juga belajar untuk memasarkan kerajinan hasil kreasinya.

“Awalnya saya mulai memasarkan di seputaran Mataram. Terus ke Ampenan dan Senggigi setelah tahun 1997,’’ ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, pembeli mulai datang langsung ke Desa Karang Bayan. Tidak hanya warga lokal. Tapi juga dari luar daerah. Seperti Bali dan lainnya yang datang ke Lombok.

Banyak yang memburu ketak di Desa Karang Bayan. Sekarang, pembeli ketak datang dari seluruh penjuru negeri. “Setelah itu mulai dikenal dibanyak daerah. Karena pemasaran kita cukup berhasil,’’ katanya.

Tidak hanya menunggu pembeli yang datang. Awal juga memasarkan produknya melalui media sosial. Pria ini juga menyiapkan katalog untuk memudahkan konsumen jenis kreasi yang diinginkan.

“Cukup banyak pesanan yang kita dapat dari online. Dari berbagai daerah yang memesan. Kita harus manfaatkan teknologi untuk memasarkan,’’ tuturnya.

Menurutnya, membuat kerajinan ketak awalnya cukup sulit. Tapi karena terbiasa, membuat ketak menjadi cukup mudah. Saat ini, agar tidak monoton dan tetap dicari pembeli, model ketak yang dibuat berevolusi mengikuti perkembangan zaman.

“Ada juga pemesan datang membawa model tertentu. Itu yang diminta kita buatkan sesuai pesanan konsumen,’’ katanya.

Untuk bahan baku rumput ketak, sekarang kata Awal tidak sulit ditemukan. Karena banyaknya usaha ketak di Pulau Lombok. Bahan baku ketak sampai dipesan di luar daerah. Untuk harga, satu ikat atau 100 biji rumput ketak dibeli seharga Rp 35 ribu. “Bahan bakunya tetap ada. Sekarang sudah dicampur juga dengan rotan,’’ katanya.

Dibandingkan dengan harga bahan baku dan tingkat kerumitan, harga kerajinan ketak cukup sebanding. Harganya produk juga tergantung model dan tingkat kesulitan. Ketak buatan Awaludin mulai dijual Rp 10 ribu. Bahkan sampai ratusan ribu.

“Ada juga yang jutaan. Tapi itu jarang diproduksi. Karena permintaan ke kita juga  jarang yang mahal-mahal,’’ ungkapnya.

Untuk satu jenis anyaman ketak, waktu pembuatannya tergantung besar kecilnya anyaman. “Paling cepat selesai sehari. Maksimal itu tiga hari. Harga ketak ini cukup sebanding dengan tingkat kesulitannya,’’ bebernya.

Di  tengah pandemi Covid-19 sekarang ini, diakui Awal, pembeli ketak belum normal seperti sebelumnya. Namun pembeli ketak masih tetap ada. Usaha ketak juga masih bisa diandalkan menopang perekonomian warga di tengah pandemi.

“Karena ini usaha kami sejak dari dulu. Sekarang sudah ada puluhan usaha ketak di Desa Karang Bayan. Usaha ketak ini bisa diandalkan dengan situasi sekarang,’’ ungkapnya.

Kini ia berharap pandemi Covid-19 segera berlalu. Dirinya pun mengapresiasi Lomba Kampung Sehat Nurut Tatanan Baru yang digelar Polda NTB. Usaha ketak juga layak dikedepankan dalam menopang perekonomian warga.

“Lomba Kampung Sehat ini sangat positif dan dampaknya dirasakan oleh warga masyarakat,’’ katanya.

Kapolresta Mataram Kombes Pol Guntur Herditrianto mengapreasi bentuk usaha yang dilaksanakan masyarakat. Apalagi di tengah pandemi korona sekarang ini. Kegiatan yang mendukung perekonomian warga masyarakat oleh kepolisian tetap didukung seratus persen.

“Karena ini sangat positif. Ini juga selaras dengan Lomba Kampung Sehat Nurut Tatanan Baru yang diinisiasi Bapak Kapolda NTB,’’ ungkap Guntur. (kus/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

World Tourism Day, Pembangunan Harmoni Manusia dan Alam

PERUBAHAN arah pembangunan menuju pembangunan berkelanjutan saat ini menjadi tema utama dan agenda universal, termasuk dalam pembangunan disektor kepariwisataan. Pembangunan berkelanjutan yang dimaksud yakni menyeimbangkan dan mengintegrasikan antara pertumbuhan ekonomi, sosial dan lingkungan untuk kelangsungan hidup manusia dan bumi (Resolusi Majlis Umum PBB, 2015).

PLN Diskon 75 Persen Tambah Daya Hingga 3 Oktober

PLN NTB terus mendukung upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi. Khususnya bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah dan juga Industri Kecil Menengah. Salah satunya dengan memberikan keringanan Biaya Penyambungan Tambah Daya untuk memberdayakan dan menumbuhkan kegiatan perekonomian UMKM/IKM.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Masih Banyak Masyarakat Yakin Tak Tertular Korona

KESADARAN dan pemahaman masyarakat pada bahaya Covid-19 masih rendah. Hal itu tercermin dari survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Omnibus Law Disahkan, Buruh Ancam Mogok Nasional

Pembahasan RUU Cipta Kerja atau Omnibus Law di DPR yang sudah rampung menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pekerja. Sebab, pekerja akan paling terdampak dengan pasal-pasalnya. Salah satunya soal pemberian pesangon.

Optimisme Najmul – Suardi di Tengah Pandemi

Bencana gempa bumi 2018 dan pandemi Covid-19 membawa ujian berat bagi pariwisata di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Tetapi semangat tidak boleh padam, masa-masa pandemi harus dilalui dengan penuh keteguhan dan ikhtiar yang kokoh.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

Taspen Lindungi JKK JKM Non ASN

PT Taspen kini memberikan jaminan dan perlindungan penuh terhadap pegawai non Aparatur Sipil Negara (ASN)
Enable Notifications    Ok No thanks