alexametrics
Rabu, 15 Juli 2020
Rabu, 15 Juli 2020

Korona Tak Kunjung Usai, Ketahanan Ekonomi NTB Terancam

BERDIAM di rumah dinilai bukan lagi solusi untuk NTB. Sebab, pandemi Covid-19 benar-benar memukul perekonomian NTB. Jika tidak diantisipasi dengan tepat, ketahanan ekonomi Bumi Gora pun terancam.

”Semua sektor mengalami penurunan (permintaan),” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Suntono, usai memaparkan hasil kajiannya di kantor gubernur NTB, kemarin (15/6).

Dalam simulasi shock yang dilakukan BPS terhadap sektor industri dan pariwisata, terjadi penurunan permintaan cukup parah. Misalnya sektor pariwisata, sepinya industri pariwisata membuat permintaan mobil, sepeda motor, dan reparasi turun dari 16,18–73,40 persen. Demikian juga permintaan perdagangan eceran dan besar turun antara 25 hingga 75 persen.

Pemintaan angkutan darat turun antara 20,62 hingga 82,31 persen, permintaan angkutan udara turun antara 26,59 hingga 80,26 persen. Permintaan penyediaan makanan dan minuman turun dari 25-75 persen.

Begitu juga sektor industri, terjadi penurunan permintaan cukup besar di industri pengolahan antara 32,6 hingga 80,8 persen, kemudian permintaan industri kulit turun antara 36,3 hingga 83,8 persen. Permintaan industri kayu, barang dari kayu, gabus, dan barang anyaman dari bambu antara 15,2 hingga 71,4 persen.

Dalam simulasi shock itu, BPS juga menghitung terjadi penurunan jumlah orang bekerja di NTB. Dari 2.387.036 orang bekerja tahun 2019,  terjadi penurunan penduduk bekerja antara 184 ribu hingga 387 ribu orang di bidang industri dan pariwisata.

Suntono menjelaskan, shock di sektor pariwisata mengurangi jumlah orang bekerja 56 ribu hingga 172 ribu orang, lebih rendah dibandingkan shock sektor industri sebesar 128 ribu hingga 215 ribu orang. ”Industri memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja,” jelasnya.

Hal itu menunjukkan, bila Covid-19 berdampak pada kegiatan industri maka  menimbulkan pengangguran yang lebih besar.

Selain itu, pandemi Covid-19 juga menyebabkan penurunan nilai tambah atau PDRB atas dasar harga berlaku sektor industri dan pariwisata menjadi minus 5,4 hingga 12,23.

Ia menyebut, terdapat selisih cukup besar pengaruh penurunan PDRB sektor pariwisata dan industri. Hal itu menunjukkan, industri pengolahan memberikan pengaruh besar terhadap perekonomian NTB.   ”Industri pengolahan menjadi leading sector, sektor penyerap tenaga kerja terbesar kedua, dan sektor dengan jumlah usaha terbanyak kedua di NTB,” katanya.

Meski demikian, sektor pariwisata merupakan sektor yang berpotensi mendorong perekonomian NTB. Sebab dia merupakan gabungan usaha perdagangan, transportasi, penyedia akomodasi, serta penyedia makan-minum. ”Ke depan sektor ini dapat mendorong perekonomian NTB lebih cepat,” ujarnya.

BPS meminta pemerintah daerah membuat perencanaan jangka pendek dan jangka panjang untuk menggiatkan perekonomian masyarakat. ”Sehingga ketergantungan terhdap JPS dapat dikurangi,” katanya.

Menyikapi hal itu, Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi mengatakan, penjelasan BPS menjadi peringatan bagi Pemprov agar mengambil langkah cepat menyelamatkan ekonomi daerah.

Program JPS Gemilang, kata Gita, cukup membantu menahan laju keterpurukan ekonomi saat ini. Sebab, ratusan pelaku usaha lokal dilibatkan. ”Apa yang dilakukan Pemprov melalui JPS gemilang sudah on the good track, tidak menjerembabkan keterpurukan ekonomi ini ke dalam ceruk yang lebih dalam,” katanya.

Karena itu, yang dibutuhkan saat ini upaya bersama-sama mengakhiri penularan virus Korona. ”Tinggal sekarang kita, Covid-19 selesai, momentum reborn itu kita menunggu,” katanya.

Tapi bila penularan Covid-19 masih terus terjadi, maka sumber daya yang dimiliki NTB ke depan akan habis untuk menangani Covid-19 saja.

Dengan perekonomian yang memburuk, Pemprov mulai membolehkan masyarakat beraktivitas, bekerja agar tetap produktif. Dengan syarat menjalankan protokol Covid-19.

”Bersembunyi terlalu lama tanpa income, baik keluarga, daerah, maupun negara akan melemahkan ketahanan ekonomi,” katanya.

Karenanya, ia menyerukan untuk mulai bersahabat dengan Covid-19. ”Silakan berativitas tetapi protokol Covid-19 dikedepankan,” imbuhnya.

Meski demikian, ia tetap membantah kalau NTB sudah mulai menerapkan new normal. ”Kita menyongsong, berkomporomi, bersahabat dengan Covid-19 sekarang,” katanya.

Warga hanya diminta disiplin menerapkan protokol Covid-19, setelah selesai Covid semua akan bangkit. Jika NTB bebas Covid-19, orang akan datang berwisata. Begitu pariwisata bangkit sektor lain akan bergerak.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah sependapat dengan hasil kajian BPS NTB. ”Untuk menjaga agar ekonomi kita tidak kolaps, program-program strategis dan potensial  akan terus dimaksimalkan. Termasuk menggenjot program industrialisasi,” katanya.

Untuk stimulus ekonomi, pihaknya telah menyediakan anggaran Rp 100 miliar dari Rp 500 miliar dana penanganan Covid-19. ”Kebijakan stimulus ekonomi tersebut akan terus berlanjut usai skema bantuan berakhir bulan Juli ini,” kata Asisten II Setda NTB H Ridwan Syah. (ili/r6)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Lomba Kampung Sehat Bawa Berkah untuk Warga

Lomba kampung sehat di Lombok Tengah ternyata membawa keberkahan bagi warga. “Salah satunya, keberkahan perputaran ekonomi,” ujar Kapolsek Pringgarata AKP Suherdi, Senin (13/7).

Katanya Gak Boleh, Kok Ritel Modern di Lotim Makin Menjamur?

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Lotim memberikan lampu hijau bagi para investor yang hendak berinvestasi. Termasuk kehadiran ritel modern yang oleh beberapa pihak dianggap membunuh pedagang kecil. “Lotim ini zona hijau untuk berinvestasi,” kata  Kepala DPMPTSP Muksin pada Lombok Post, Senin (13/7).

Yuk.. Beli Sayur Segar di Embung Bengkel, Praya : Bisa Petik Sendiri!

Petani dan Pemerintah Kelurahan Leneng, Kecamatan Praya Lombok Tengah, mencoba meniru budi daya sayur di Sembalun, Lombok Timur. Berikut ulasannya.

Sempat Bebas Korona, Lombok Utara “Merah” Lagi

Sempat zero case (nol kasus) positif Covid-19, pertahanan KLU dalam melawan virus Korona jebol lagi. Dari rilis yang dikeluarkan gugus tugas tertanggal 13 Juli, ada dua pasien positif yang tengah dirawat, dan satu orang meninggal dunia.

Polemik di Tanjung Bias, BPN Sarankan Pemdes Senteluk Gugat ke PTUN

Polemik sempadan Pantai Tanjung Bias yang belakangan diketahui memiliki sertifikat lahan milik pribadi belum menemui titik terang. Permintaan pemerintah desa agar Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lombok Barat (Lobar) membatalkan sertifikat lahan tersebut belum bisa terpenuhi.

Warga Lobar Boleh Ikuti Pemakaman Pasien Korona, Ini Syaratnya

Kasus pemulangan paksa jenazah pasien Covid-19 kian marak. Yang terbaru kasus warga Desa Mekarsari yang memulangkan paksa jenazah pasien Covid-19 di RSUD Kota Mataram.

Paling Sering Dibaca

Usai Pemakaman, Kades Sigerongan Lobar dan Lima Warga Lainnya Reaktif

Aktivitas di Kantor Desa Sigerongan lumpuh. Menyusul hasil rapid test kepala desa dan sejumlah warganya reaktif. Selama 14 hari ke depan, pelayanan di kantor desa ditiadakan sementara.

Ikuti Mataram, Lobar Berlakukan Jam Malam

erkembangan pandemi Covid-19 di Lombok Barat (Lobar) semakin mengkhawatirkan. Kasus positif yang mencapai 300 lebih, menjadi atensi penuh Polres Lobar dalam melakukan upaya pencegahan penularan.

Liburan di Sungai Dodokan Lobar, Bayar Rp 5 Ribu Wisata Sampai Puas

Orang kreatif bisa membuat peluangnya sendiri. Itulah yang dilakukan Siali, warga Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Ia membuat Sungai Dodokan jadi spot wisata baru di Lombok Barat (Lobar).

Tertangkap, Buron Pembunuh Polisi di Sumbawa Ditembak

Pelarian RH alias Bim terhenti pada Minggu pagi kemarin. Tersangka kasus penganiayaan yang menewaskan Uji Siswanto, Kanit Reskrim Polsek Utan tertangkap.

Korona NTB Masih Parah, Sekolah Hanya Bisa Dibuka di Kota Bima

Ketentuannya, kegiatan di sekolah pada tahun ajaran baru hanya diperbolehkan untuk daerah zona hijau. Karena itu, manakala ada pemerintah daerah yang nekat membuka sekolah non zona hijau. pemerintah pusat memastikan akan memberi sanksi.
Enable Notifications.    Ok No thanks