alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Korona Masih Mengancam, Sekolah di NTB Belum Boleh Dibuka

MATARAM-Memaksa membuka sekolah saat kasus Covid-19 di NTB masih terus meninggi dipastikan akan mendatangkan risiko yang besar. Karena itu, meski sistem belaja di rumah atau sistem belajar daring belum maksimal, anak-anak peserta didik belajar dari rumah adalah pilihan terbaik untuk NTB.

“Kebijakan membuka sekolah untuk saat ini berisiko tinggi. Di NTB belum ada daerah zona hijau,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, kemarin.

Dia menjelaskan, kriteria daerah yang boleh membuka sekolah sudah diatur jelas. Dan karenanya tidak ada daerah yang bisa melakukannya saat ini. Karena itu, meski sistem belajar daring tidak maksimal, menurut Eka itu lebih baik dibandingkan lebih banyak anak lagi yang terjangkit virus.

“Betul kurang maksimal, tapi kalau kasus anak meledak lagi ntar semua ribut. Anak itu kan kelompok rentan,” katanya.

Meski demikian, Pemprov akan melihat terus perkembangan kasus Covid-19. Tahun ajaran baru kata Nurhandini akan dimulai Juli mendatang. “Kita lihat perkembangan sampai Juli nanti,” katanya.

Belum maksimalnya sistem belajar daring diakui Anggota Komisi V DPRD NTB Akhdiansyah.  Temuan pihaknya di lapangan kata politisi PKB ini menunjukkan banyak siswa di daerah terpencil seperti di kawasan Dompu-Bima kesulitan akses internet. Sinyal internet di daerah itu masih lemah. “Kamudian kuota untuk belajar secara daring juga terbatas,” katanya.

Dalam pembelajaran daring itu, Dikbud menggunakan aplikasi khusus. Tapi tidak semua siswa mengakses dengan baik. “Ini menjadi masalah yang harus dituntaskan,” tegasnya.

Dengan keterbatasan itu, ada opsi lain yang rencananya dipilih Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB yakni sistem pembelajaran Senin-Selasa. “Dimana siswa masuk belajar dua hari secara bergantian,” katanya, usai  mendengar pendapat Dikbud NTB, kemarin.

Dalam dua hari belajar itu, lanjut Akhdiansyah, siswa belajar penuh sepanjang hari. Sehingga ada konsekuensi sekolah harus menyiapkan konsumsi dan anggaran. Menurutnya, rencana itu perlu dipertimbangkan dengan matang. “Ini juga tidak menjamin anak tidak tertular, meski di sekolah steril kita tidak bisa jamin aman di jalan,” ujarnya.

Karenanya, menurut komisi V, yang terpenting saat ini Dikbud memaksimalkan sistem yang ada agar transfer ilmu pengetahuan itu tetap berjalan.

 

Sudah Siapkan Opsi

 

Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan pada Lombok Post, kemarin memastikan bahwa Dinas Dikbud NTB terus melakukan evaluasi pembelajaran setiap pekan. Jika sewaktu-waktu terjadi perubahan keadaan, pada Juli mendatang, yang merupakan jadwal Tahun Ajaran Baru 2020/2021 atau hanya untuk persiapan kenormalan baru (new normal).

Secara umum memang NTB saat ini kata dia masuk wilayah zona merah. Tapi, Aidy percaya masih ada wilayah di NTB yang sama sekali tidak terpapar virus Korona. Ia menyontohkan seperti di wilayah KLU, tidak semua sekolah jenjang SMA di KLU terpapar virus Korona. Misalnya di Kecamatan Bayan. Di Kabupaten Lombok Barat, ada wilayah Sekotong. Di Kabuaten Dompu, ada wilayah Tambora, atau di wilayah Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa.

“Semua daerah tidak terpapar, kalau terus kita berlakukan BDR, maka anak-anak dan masyarakat pasti akan susah karena belum terbiasa. Tidak seperti di Mataram, ada fasilitas,” kata dia.

Maka Aidy menyebutkan pihaknya kini sedang menyiapkan skenario di titik-titik tertentu di NTB yang bebas virus Korona agar bisa membuka sekolah dengan menerapkan pembelajaran tatap muka.

Skenario yang disiapkan pihaknya kata Aidy yakni dengan menerapkan sistem shift atau blok.  Dipastikan dalam sistem ini, Dinas Dikbud NTB akan menerapkan secara ketat protokol kesehatan pencegahan pandemi Covid-19.

“Karena kita juga tidak ingin disebut sebagai klaster sekolah sebagai sebagai klaster baru,” tegasnya.

Kendati demikian data secara rinci mana saja daerah yang sama sekali belum terpapar virus Korona di NTB, harus dikoordinasikan pihaknya lebih lanjut bersama Satgas Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19 Pemprov NTB.

Selain itu, koordinasi diperkuat bersama Dinas Kesehatan NTB untuk mengetahui berapa jumlah pasti anak-anak di NTB yang sudah terpapar virus Korona dan berada di wilayah mana saja.

“Ini yang harus kami tahu juga, karena kami akan susun kebijakan untuk itu,” jelasnya.

Aidy menerangkan, pihaknya sudah menyiapkan dua opsi yakni jika kasus positif Covid-19 di NTB masih meningkat atau sewaktu-waktu memberlakukan kenormalan baru. Jika kasus Covid masih tinggi, maka pihaknya menyiapkan Standar Operasional Prosedur Belajar Dari Rumah (BDR) seri kedua yang mulai diterapkan pada tahun ajaran baru.

“Kalau ini pelarangan membuka sekolah masih berlaku di NTB sampai Desember, kita siapkan SOP-nya,” kata dia.

Terkait standarisasi, Dinas Dikbud NTB akan berkoordinasi ke pihak-pihak terkait di daerah. Seperti Kepala Kantor Cabang Dinas, pengawas, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum tentang bentuk ideal dari pengalaman BDR tahap I yang telah diterapkan pada peserta didik selama tiga bulan belakangan ini.

“Tentu dari situ, kita lakukan perbaikan dan pembenahan dari kesulitan atau permasalahan yang timbul selama pemberlakuannya selama ini,” jelasnya.

Untuk opsi kedua, setelah pemetaan zona hijau di dalam wilayah NTB oleh Satgas Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19 Pemprov NTB, Dinas Dikbud NTB juga menyiapkan SOP yang memungkinkan penerapan sistem shift atau blok.

Untuk sistem blok kelas Aidy menyontohkan, siswa kelas IX tersebar di enam kelas. Dibagi dua kelas yakni Kelas X-A dan B pada Senin dan Selasa, kelas X-C dan D pada Rabu dan Kamis dan kelas X-E dan F masuk sekolah pada Jumat dan Sabtu. Begitu juga untuk kelas XI, jika terbagi dalam tiga kelas. Caranya, kelas XI-A masuk sekolah pada senin dan selasa, kelas XI-B bisa belajar di Rabu dan Kamis, terakhir kelas XI-C bersekolah pada Jumat dan Sabtu.

Opsi lain dengan memblok mata pelajaran. Bisa saja kelas X dan XI masuk dalam waktu yang bersamaan. Tetapi di atur berdasarkan rumpun mata pelajaran yang disesuaikan dengan peminatan siswa. Misalnya, peminatan IPA masuk sekolah pada Senin dan Selasa, peminatan IPS juga masuk sekolah pada Rabu dan Kamis, dan peminatan Bahasa diatur masuk sekolah pada Jumat dan Sabtu.

“Kalau dipisahkan begitu, kan sedikit jadinya, sehingga memudahkan guru mengatur jadwal mengajar di atur, agar tidak berkerumun ke sekolah,” kata Aidy.

Sehingga dalam pekan ini, Dinas Dikbud NTB juga akan berdiskusi dengan Kanwil Kemenag NTB. Mengambil dan memutuskan kebijakan penting ini, harus mempertimbangkan satuan pendidikan yang berada di bawah naungan Kemenag.

“Apalagi saat ini, sudah banyak orang tua yang menginginkan anak-anak mereka, kembali masuk pondok pesantren, ini yang harus segera kita sikapi,” kata dia.

Dari semua itu, pihaknya juga tentu akan mengacu pada, keputusan bersama Kemendikbud, Kemenag, Kemenkes dan Kemendagri, tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran padatahun ajaran dan tahun akademik baru di masa pandemi Covid-19.

“Dalam panduan itu, ada aturan-aturan yang harus segera diharmonisasikan, agar daerah tahu bagaimana cara penerapan di sekolah,” tandasnya.

 

Tak Akan Gegabah

 

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali mengatakan, saat ini sekolah di Mataram hanya dibuka untuk kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru yang sudah dimulai 15 Juni lalu.

“Hanya untuk PPDB dan kami tekankan dilarang sekali lagi dilarang membawa anak ke sekolah,” tegasnya.

Sedangkan, terkait keputusan membuka sekolah untuk KBM secara langsung, sebenarnya Disdik Kota Mataram berkeinginan bisa dilakukan pada 13 Juli bertepatan dengan jadwal Tahun Ajaran Baru 2020/2021. Namun, pihaknya tentu cepat-cepat mengurungkan niat. Karena Kota Mataram merupakan wilayah yang paling banyak terpapar positif Covid-19. Otomatis sulit mendapatkan izin dari Satgas Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19 Kota Mataram.

“Kami harus meminta ijin ke mereka dulu,” jelas dia.

Dirinya juga tidak ingin mengambil risiko terlalu besar. Jika dipaksakan, maka berdampak pada timbulnya klaster baru. Apalagi pihaknya berhadapan dengan anak-anak yang perlu usaha ekstra, untuk beradaptasi di tengah pandemi Covid-19. Terlebih, pihaknya juga dihadapkan pada kenyataan jenuhnya kegiatan BDR yang membuat anak-anak sekolah terutama SD, sangat merindukan teman sebaya. Tentu akan banyak sekali interaksi langsung di sekolah jika pada masa seperti ini kembali dibuka.

“Coba kita terapkan, paling patuhnya sehari aja. Besok sudah mereka lari-lari, tukar-tukaran masker, belum lagi nanti setelah pulang sekolah, ini yang harus kami pikirkan,” kata jelasnya.

Meski kondisi seperti itu, Disdik Kota Mataram belum mengambil sikap apakah sekolah tetap ditutup atau BDR secara daring maupun konvensional terus diterapkan pada tahun ajaran baru nanti. Pihaknya ingin melihat perkembangan kasus positif Covid-19.

“Kami belum putuskan sikap, karena masih melihat perkembangan, mudah-mudahan dalam sebulan ini ada perubahan ya, dari merah ke hijau,” harap Fatwir.

 

Pasien Meninggal Meningkat

 

Sementara itu, hingga kemarin, jumlah pasien positif Covid-19 di  NTB mencapai 978 orang, dengan perincian 656 orang sudah sembuh, 41 meninggal dunia, serta 281 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Ada penambahan 21 kasus baru terkonfirmasi positif,  31 tambahan sembuh baru, dan satu kasus kematian baru.

Data itu menunjukkan, meski pasien sembuh semakin banyak namun jumlah yang meninggal meningkat signifikan dalam beberapa minggu terakhir. (yun/ili/r6)

 

Sekolah di Bumi Gora

(SD-SMP-SMA Sederajat)

 

MATARAM

  • Sekolah Negeri, 193 Unit
  • Sekolah Swasta, 77 UNIT

 

LOMBOK BARAT

  • Sekolah Negeri, 426 Unit
  • Sekolah Swasta, 97 Unit

 

LOMBOK TENGAH

  • Sekolah Negeri, 701 Unit
  • Sekolah Swasta, 217 Unit

 

LOMBOK TIMUR            

  • Sekolah Negeri , 804 Unit
  • Sekolah Swasta, 352 Unit

 

LOMBOK UTARA

  • Sekolah Negeri, 191 Unit
  • Sekolah Swasta, 31 Unit

 

SUMBAWA BARAT

  • Sekolah Negeri, 132 Unit
  • Sekolah Swasta, 22 Unit

 

SUMBAWA

  • Sekolah Negeri, 487 unit
  • Sekolah Swasta, 41 Unit

 

DOMPU

  • Sekolah Negeri, 288 Unit
  • Sekolah Swasta, 49 Unit

BIMA

  • Sekolah Negeri, 571 Unit
  • Sekolah Swasta, 83 Unit

 

KOTA BIMA

  • Sekolah Negeri, 97 Unit
  • Sekolah Swasta, 36 Unit

 

Sumber: Dikbud NTB

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mataram Bisa Tiru Depok, Tak Pakai Masker Denda Rp 200 Ribu

Pemkot Mataram merespons kritikan Wakil Gubernur NTB. Kemarin, tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, dan Polri melakukan penertiban di pagi buta. Sasarannya, para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan.

Kuliah ke Luar Daerah, Warga Mataram Harus Bebas Korona

Warga Kota Mataram yang kuliah di luar daerah cukup banyak. Kemarin kata dia, sekitar 50 mahasiswa mengajukan permintaan melakukan rapid test. Dari jumlah tersebut tidak ada yang hasilnya reaktif.

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Di Kediri Lobar, Ibu Rumah Tangga Diduga Jual Narkoba

WM, 28 tahun, warga asal Kediri Selatan ditangkap Satres Narkoba Polres Lobar. Ia bersama kedua rekannya MA dan MU diduga menjadi penjual dan penyalahguna narkotika jenis sabu. Bahkan, WM alias Dewi ini diketahui sebagai penjual obat penenang tanpa izin pihak instansi kesehatan.

Pariwisata Lesu, Pengusaha Travel Lombok Bertahan lewat Promo

Agen travel perjalanan wisata terus berupaya bertahan dalam ketidakpastian Pandemi Korona. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak akibat turunnya kunjungan wisatawan. ”Kami upayakan tetap bangkit seiring dengan penerapan new normal yang sedang digaungkan,” kata Kukuh Laro, pemilik Duta Lombok Transport.

Berdayakan UMKM Lokal, Bappeda NTB Tunggu Pergub

Pergub Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga kini belum rampung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB masih menunggu kelanjutan masukan dan revisi dari gubernur. ”Sampai hari ini (kemarin,Red) kita belum terima. Jika sudah ada, akan langsung kita jadikan landasan dalam memberdayakan UKM/IKM,” kata Kepala Bappeda NTB Amry Rakhman, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks