alexametrics
Sabtu, 20 Agustus 2022
Sabtu, 20 Agustus 2022

Biayanya Terlampau Mahal, Proyek SPAM Regional Lombok Batal Terlaksana

MATARAM-Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Lombok batal terlaksana. Pembiayaan yang terlampau mahal menjadi alasannya. ”Jaringannya panjang, lebih dari 120 kilometer. Sementara pengoperasiannya dengan sistem pompa, ada bahan bakar di sana, mahal,” kata Karo Administrasi Pembangunan Ahmadi.

SPAM Regional Lombok telah dilakukan uji kelayakan tiga tahun lalu. Kemudian dibahas juga di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Hasilnya, pembangunannya dinilai mahal.

Ahmadi menyebut, jika sasaran SPAM regional adalah kalangan pengusaha, proyek tersebut bisa saja dikerjakan. Namun, hajat pembangunannya untuk masyarakat biasa. Terutama mereka yang tinggal di wilayah kering. Sehingga ada kekhawatiran tarif yang ditetapkan tidak bisa dijangkau kalangan rumah tangga.

Baca Juga :  Pemprov NTB Akan Libatkan Lebih dari 100 Ribu UMKM Saat Event MotoGP

Batalnya proyek tersebut telah melalui kajian panjang. Kementerian PUPR juga membahasnya bersama para ahli. Jika dipaksakan untuk dibangun, bisa membebani keuangan negara. Lebih parah lagi, SPAM Regional Lombok tidak bisa dioperasikan dengan maksimal.

”Akhirnya diminta untuk mencari alternatif lain, yang lebih murah dan efektif,” ujarnya.

Salah satu alternatifnya, bisa melalui optimalisasi bendungan. Ahmadi mengatakan, saat ini pemerintah pusat sedang berproses menuntaskan Bendungan Meninting di Lombok Barat. Bendungan ini bisa menambah air baku di dua daerah, yakni Lobar dan Kota Mataram.

Selain itu, melalui skema high level diversion, membagi air dengan dua saluran induk, Bendungan Meninting bisa menambah debit air untuk Bendungan Pandanduri di Lombok Timur. Jalurnya bisa melalui Sungai Meninting di Lombok Barat hingga Kopang, Lombok Tengah. Dengan begitu, kebutuhan air baku untuk kawasan Lombok Timur maupun Lombok Tengah di bagian selatan, bisa terpenuhi.”Biayanya jauh lebih murah ketimbang SPAM regional,” tutur Ahmadi. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/