alexametrics
Selasa, 16 Agustus 2022
Selasa, 16 Agustus 2022

Siapkan Empat Lokasi, NTB Halal Industrial Park Segera Terwujud

MATARAM-Selangkah lagi, NTB Halal Industrial Park (HIP) bakal terwujud. Pembahasan draf peraturan gubernur yang akan memayungi terbentuknya kawasan industri halal yang terintegrasi ini sudah memasuki tahap finalisasi.

“Masukan dari semua pihak terkait, sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan peraturan gubernur tentang roadmap NTB HIP ini,” kata Kepala Dinas Perindustrian NTB Hj Nuryanti saat konsultasi publik ke-2 di Prime Park Hotel, Rabu (18/5).

Menurutnya, program industrialisasi yang bertujuan mempercepat pembangunan Provinsi NTB membutuhkan berbagai terobosan. Salah satunya membentuk kawasan industri yang terintegrasi dan berbasis UMKM. Karena itu, Dinas Perindustrian NTB selaku pelaksana program tersebut berupaya maksimal untuk segera menuntaskan peraturan sebagai payung hukumnya.

Untuk tahap awal, kawasan industri halal akan dibangun di empat lokasi. Yakni di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, dan Bima. Masing-masing lokasi akan disiapkan lahan. Luasnya sekitar 5 hektare yang akan menggunakan lahan milik pemerintah. “Pemerintah menyiapkan lahan dan fasilitas lainnya. Masyarakat termasuk UMKM nantinya tinggal memanfaatkan saja,” jelasnya.

Baca Juga :  Gubernur NTB Goda Pertamina untuk Jadi Sponsor MXGP

Menurut Nuryanti, pembangunan kawasan industri ini salah satu langkah untuk mempercepat program industrialisasi. Di kawasan ini nantinya tidak saja membangun atau membesarkan produk industri. Namun juga meliputi SDM pekerja dan manajemen industri. Termasuk entitas bisnis dan infrastrukturnya.

Program industrialisasi tersebut diyakini bakal sukses karena didukung potensi yang ada di Provinsi NTB. Misalnya tersedianya bahan baku di sektor perikanan, perkebunan, dan peternakan. Sistem logistik berupa transportasi, telekomunikasi, dan pergudangan juga relatif tersedia.

Selain itu, NTB yang menjadi sorotan dunia karena gelaran MotoGP dan WSBK, bisa dijadikan sarana promosi. Belum lagi potensi sektor pariwisata dengan banyaknya kunjungan wisatawan yang akan menjadi pasar potensial. Ditambah lagi NTB diapit KEK Labuan Bajo dan Bali.

“Potensi tersebut akan sangat mendukung terbentuknya kawasan industri yang menghasilkan produk halal yang sekaligus diintegrasikan dengan sektor pariwisata,” katanya.

Sementara itu, sumbangan sektor industri terhadap PDRB NTB masih tergolong kecil. Yakni 4 persen pada 2020-2021. Berdasarkan klasifikasi usaha, UMKM di NTB masih didominasi usaha mikro dan kecil. Berdasarkan data Dinas Koperasi, tahun 2021 jumlah UMKM sekitar 103.284. Terdiri atas 86.922 (84 persen) usaha mikro, 15.119 (14 persen) usaha kecil, dan 1.243 (1,2 persen) usaha menengah.

Baca Juga :  PSI Kritik Program Industrialisasi Zul-Rohmi

Jumlah investasi di sektor industri ini juga cenderung menurun. Baik untuk modal dalam negeri maupun modal asing. Karna itu, perlu dibangun kawasan industri berbasis ekosistem industri yang di dalamnya meliputi produk, perusahaan, SDM, dan jejaring ekosistem kawasan industri.

Selain itu, saat ini konsep industri halal sedang menjadi tren dunia. Hal ini dipicu kesadaran masyarakat, termasuk di Indonesia yang cenderung mengonsumsi produk halal. Anehnya, menurut data State of the Global Islamic Economy 2020/2021, dari lima negara pengekspor produk halal terbesar di dunia, tidak satupun negara muslim. Kelima negera tersebut yakni, Amerika Serikat, India, Brazil, Prancis, dan Rusia. (lil/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/