alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Lomba Kampung Sehat Lahirkan Biogas di Desa Gontoran Lobar

Lomba Kampung Sehat mendorong masyarakat lebih inovatif di masa pandemi Covid-19. Mau bukti? Datanglah ke Desa Gontoran, Lombok Barat. Di masa pandemi, warga setempat justru membuat terobosan dengan membangun instalasi biogas untuk masyarakat. Bahan utamanya adalah kotoran sapi dari kandang kumpul. Inilah bukti, di balik pandemi, ada berkah bagi mereka yang menolak menyerah.

——————————————————–

 

ORANG bilang kandang kumpul sebagai tempat jorok, bau, dan tidak sehat. Tetapi, stigma itu diubah Kelompok Ternak Harapan, Desa Gontoran, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Di sana, kotoran ternak justru menjadi berkah. Kotoran sapi dari kandang kumpul diubah menjadi biogas dan tenaga listrik.

”Biogas ini kemudian disalurkan ke kompor gas untuk kebutuhan memasak,” kata Kades Gontoran Salihin pada Lombok Post.

Dari tempat pengolahan biogas, dipasang pipa untuk penyaluran. Untuk sementara saat ini disalurkan ke ke dapur umum yang disiapkan Pemerintah Desa setempat. Hal itu dimanfaatkan untuk memasak kebutuhan bagi masyarakat Desa Gontoran yang terdampak Covid-19.

”Prioritas terutama untuk warga kami yang menjalani karantina mandiri. Kita disini kan memiliki ruang karantina sendiri,” kata dia.

Dapur umum itu juga digunakan untuk memasak kebutuhan makanan dan minum bagi petugas ronda di desa. Karena, semenjak adanya pandemi Covid-19, desa mesti waspada. Dan karenanya desa pun memberlakukan jam malam.

”Kita memiliki tim keamanan dengan disuport Babinsa dan Babinkamtibmas,” jelasnya.

Pengembangan penggunaan biogas itu masih dibicarakan di Desa. Rencananya, ke depan biogas tersebut harus bisa dinikmati seluruh masyarakat Desa Gontoran. ”Kita sudah bahas ini di Musrendes (Musyawarah Rencana Desa),” katanya.

Pengembangannya sudah menjadi program prioritas desa. Hanya saja, saat ini belum bisa terealisasi karena recofusing anggaran untuk penanganan Covid-19. ”Ya, apa yang kita bisa kembangkan untuk biogas baru sebatas dapur umum dulu,” ujarnya.

Agus Rahmat Hidayat, warga yang terlibat langsung dalam instalasi biogas ini mengemukakan, munculnya inovasi ini karena adanya keluhan masyarakat terkait keberadaan kandang kumpul. Kelompok ternak juga bingung akan membuang kotoran kemana.

”Makanya kita coba membuat kotoran sapi ini berharga bagi masyarakat,” kata Agus.

Masa pandemi Covid-19 dimana warga memiliki banyak waktu di rumah memunculkan ide-ide segar. Awalnya, kotoran sapi tersebut dibuat menjadi pupuk kompos. Hal itu dilakukan untuk menopang pertanian dan perkebunan di desa tersebut. Produksi pupuk kompos tersebut kemudian dijual kepada para petani di desa.

Tetapi seiring berjalannya waktu, warga menyadari bahwa membuat pupuk kompos saja belum cukup. Adanya Lomba Kampung Sehat yang diinisiasi Kapolda NTB irjen Pol Muhammad Iqbal membuat warga desa pun kian bergairah bersemangat. Agus kemudian merancang proses pembuatan biogas.”Saya rancang dan usulkan ke desa. Alhamdulillah disetujui,”  kata lelaki lulusan magister npertanian tersebut.

Untuk bisa menjadi gas, kotoran sapi yang masih basah dituang ke dalam bak penampungan yang telah dirancang khusus. Lalu dicampur dengan air secukupnya. Kotoran tersebut kemudian diaduk hingga menyatu dengan air.

Air yang sudah bercampur kotoran itu kemudian dimasukkan ke dalam bak penampung yang kedap udara. Selanjutnya, diurai di dalam bak penampung hingga menjadi gas. ”Gas itu pun di salurkan ke pipa penyalur menuju alat pengukur yang sudah dirancang,” ungkapnya.

Alat pengukur itu mirip seperti termometer pengukur suhu tubuh. Jika alat pengukur itu menunjukkan angka 50, berarti  biogas masih ada. ”Kalau termometer itu berada di angka nol. Kita harus ulang lagi dari awal. Dan bak penampungan harus dikuras terlebih dahulu,” ucapnya.

Kini, setelah menemukan jalan keluar, para peternak tak perlu pusing lagi kemana akan membuang kotoran ternaknya. Warga Desa Gontoran telah membuktikan, di balik Pandemi Covid-19, ada berkah bagi mereka yang menolak menyerah. Bagaimana dengan desa Anda? (arl/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks