alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Dewan Minta Pemprov NTB Benahi Data Penerima Bantuan JPS Gemilang

MATARAM–Raker Komisi V DPRD NTB dengan para pemangku kepentingan terkait penyaluran JPS Gemilang, Rabu (22/4) kemarin berlangsung penuh dinamika. Anggota Komisi V DPRD NTB HL Budi Suryata mengungkapkan masih ada data yang tumpang-tindih di lapangan. “Padahal data seharusnya valid,” kata politisi PDIP itu.

Hasil sisir data sementara pihaknya, banyak penerima JPS Gemilang yang akan tidak tepat sasaran karena tumpang tindihnya data. Seperti kasus penerima PKH dimasukkan lagi dalam penerima JPS. Ada pula yang sudah meninggal dunia, sampai ada yang secara ekonomi sebenarnya tak layak mendapat bantuan. “Ternyata sekarang kondisi ekonominya mampu,” katanya.

Dia mengingatkan, jika tumpang-tindih itu masih terjadi, maka hal tersebut bisa membuat kepercayaan masyarakat rutuh pada pemerintah.

Di sisi lain, Budi juga meminta Dinas Kesehatan NTB segera menyiapkan rumah transit bagi petugas medis. Hal tersebut menjadi harapan dari petugas medis seperti dokter dan perawat. Sebab, mereka tidak ingin jadi carrier bagi keluarganya sehingga butuh rumah transit selama kerja lawan pandemi ini.

H Bohari Muslim, anggota Komisi V DPRD NTB lainnya pun mempertanyakan keputusan pemeritah memilih telur dalam paket JPS Gemilang. Meningat daya tahan telur paling banter dua pekan. “Setelah itu bisa busuk,” katanya.

Padahal, hingga kemarin, paket JPS Gemilang sebagian besar masih tertahan di kabuaten/kota. Politisi NasDem itu khawatir ragam persoalan yang kini muncul membuat paket itu turus molor pendistribusiannya. “Jangan-jangan setelah sampai di masyarakat telurunya sudah busuk,” katanya mengingatkan.

Belum lagi telur berpotensi mendatangkan penyakit baru bagi masyarakat. “Selain covid-19 warga bisa kena budun (bisul),” celetuknya.

Bohari mengungkapkan alasan mengapa masyarakat akan mudah terserang bisul. Hal ini karena suka-tidak suka masyarakat dituntut menghabiskan telur dulu sebelum logistik yang lain. “Daripada telur busuk, masyarakat pasti pilih untuk menghabiskan lebih dahulu,” ujarnya.

Karena itu, dia menyarankan sebelum telur terdistribusi, lebih dahulu diberi vaksin. Mengindari warga terkena penyakit bisul. “Tapi ini pasti menimbulkan anggaran lagi nanti,” katanya lagi. Selain telur, Bohari menyoriti klaim pemprov memberdayakan IKM/UMKM untuk menyiapkan minyak goreng. Harga minyak goreng kelapa yang dibeli pemerintah sebesar Rp 33 ribu dinilai tidak masuk akal karena terlalu murah.

Dalam hitungannya, satu liter minyak goreng butuh 10-12 butir kelapa. Jika satu kelapa dihargai Rp 6-7 ribu, maka untuk bahan saja IKM/UMKM butuh biaya Rp 60-70 ribu. Padahal harga Rp 60-70 ribu baru untuk biaya bahan. Belum biaya produksi.

Sehingga kata dia, harga minyak goreng lokal idealnya Rp 80 ribu ke atas. Namun sebaliknya biaya Rp 33 ribu untuk beli minyak goreng curah atau pabrikan dinilai terlalu mahal. Ketidaksesuaian harga ini memancing kecurigaan beragam di tengah masyarakat. “Jangan-jangan itu minyak oplosan?” celetuknya.

Bohari mengingatkan pemerintah tidak main-main dalam penggunaan dana bencana. “Jangan sampai kita dibedil aparat atau di penjara seumur hidup karena perbuatan kita memainkan dana bencana,” ingatnya.

Sementara itu Akhdiansyah, anggota Komisi V DPRD NTB dari fraksi PKB mengingatkan jangan sampai proses validasi data yang dilakukan Dinas Sosial telah mengeluarkan anggaran daerah hasilnya cuma data lama.

Ketidakakuratan data membuat masyarakat akhirnya berpikir liar. “Jangan-jangan menggunakan instrumen yang sama untuk PKH,” sindirnya.

Padahal dana menanggulangi bencana ini telah disiapkan Rp 160 miliar. Dan sebanyak Rp 80 miliar untuk JPS. “Tapi validasi data saja tidak selesai?” herannya.

Anggaran besar untuk penanganan Korona di NTB juga kata Akhdiansyah perlu diperjelas peruntukannya. “Saya dapat keluhan sekadar kopipun untuk petugas kesehatan tidak ada yang anterin. Ini dana Rp 160 miliar ke mana?” katanya.(ili/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Masuk Destinasi Wisata Terpopuler Asia 2020, Lombok Siap Mendunia

”Kalau masuk di ranking dunia artinya kita adalah destinasi yang memang layak untuk dikunjungi,” kata Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB Awanadi Aswinabawa, Rabu (5/8/2020).

Buntut Penutupan Savana Propok, TNGR Perketat Pemeriksaan Pengunjung

”Dengan penutupan ini semua akan lihat, kalau berbuat begitu pasti akan ditutup,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady, Rabu (5/8/2020).

Kasus Sewa Lahan Desa Sesela, Penyidik Perdalam Keterangan Saksi

Berkas penyidikan kasus dugaan korupsi penyewaan lahan untuk pembangunan tower tahun 2018 masih dilengkapi. Sejumlah saksi diperiksa maraton untuk melengkapi berkas penyidikan. ”Yang sudah kita periksa baru Ketua RT dan ada juga dari BPD (Badan Permusyawaratan Desa),” kata Kajari Mataram Yusuf, Rabu (5/8).

Efek Pandemi, Omzet Penjual Perlengkapan Sekolah di Mataram Merosot

”Tak hanya buku paket dan buku tulis saja. Hampir seluruh jenis peralatan sekolah alami penurunan penjualan. Bahkan menjalar ke barang-barang peralatan kantor,” katanya.  

Totalitas dalam Melindungi Hak Pilih

SALAH satu asas penting dalam pelaksanaan pemilu/pemilihan adalah asas jujur. Kata jujur ini tidak hanya muncul sebagai asas penyelenggaraan pemilu/pemilihan, namun juga hadir sebagai prinsip dalam penyelenggaraannya. Setiap kata yang disebut berulang-ulang apalagi untuk dua fondasi yang penting (asas-prinsip) maka kata itu menunjukkan derajatnya yang tinggi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Ungkap Dugaan Pembunuhan LNS, Polres Mataram Periksa 13 Saksi

Penemuan jasad LNS, 23 tahun dalam posisi tergantung di dalam sebuah rumah di di perumahan BTN Royal, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram menyisakan tanda tanya. Penyidik Polresta Mataram  memeriksa sejumlah saksi secara maraton.
Enable Notifications.    Ok No thanks