alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Google Bantu NTB Petakan Emisi dan Potensi Tenaga Surya

GIRI MENANG-Pemprov NTB mendapat kesempatan besar dari Google. Dengan adanya peluncuran Environmental Insight Explorer (EIE), sebuah platform untuk memetakan hingga mengukur emisi gas rumah kaca (GRK).

”Data ini tidak hanya penting bagi pemerintah, tapi juga publik,” kata Gubernur NTB Zulkieflimansyah usai peluncuran EIE di Hotel Seraton, Kamis (21/4).

EIE merupakan platform yang dikembangkan dengan menganalisas data dari hasil pemetaan global Google. Dilakukan secara komprehensif, berdasarkan standar-standar tertentu untuk GRK.

Untuk wilayah Asia Tenggara, Provinsi NTB menjadi lokasi perdana untuk peluncuran EIE. Sehingga total terdapat 328 kota di seluruh dunia, yang sudah termasuk 10 wilayah di NTB, siap menyediakan data emisi melalui EIE, untuk bisa dilihat masyarakat.

Zul mengatakan, selama ini pengecekan kualitas udara masih dilakukan secara manual. Adanya EIE untuk NTB, akan memudahkan pemerintah, tidak saja provinsi tapi juga kabupaten/kota. Yang nantinya bisa membantu pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait emisi.

”Dengan alat itu, bayangkan kita bisa cek kualitas udara di tiap daerah,” sebut Zul.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Dorong Pemanfaatan Energi Surya sebagai Alternatif Energi

Secara umum, EIE memang memberikan akses kepada perencana dan pengambil kebijakan, yakni pemerintah, untuk bisa ikut ambil bagian dalam aksi pengurangan emisi karbon.

Dari data yang direkam Google, emisi dari transportasi di NTB menunjukkan pergerakan cukup baik. terdapat penurunan selama tiga tahun, dimulai dari 2018 yakni sebanyak 3.480.000 ton metrik karbon dioksida ekuivalen (tCO2e) menjadi 2.740.000 tCO2e pada 2019 atau turun 21 persen. Berlanjut di 2020 sebanyak 1.330.000 tCO2e.

Selain soal pengecekan emisi, EIE juga bisa membantu pemetaan mengenai potensi tenaga surya. Sehingga bisa memudahkan investor yang berminat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di wilayah NTB.

”Nanti kan dilihat potensinya seperti apa. Kita bisa petakan dengan mudah, di Bima seperti apa, Lombok Barat gimana, kita bisa dapat data yang akurat dan valid. Jadi ini luar biasa dan hebat,” kata gubernur.

Sementara itu, Head of Government Affairs and Public Policy Google di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan Ryan Rahardjo mengatakan, peluncuran perdana EIE dilakukan 2018 lalu. Dengan memanfaatkan sumber data unik dan kapabilitas pemodelan artificial intelligence (AI).

Baca Juga :  TikTok Kalahkan Google jadi Website yang Paling Banyak Diakses 2021

”Kita ingin membantu pengambil kebijakan setempat, untuk bekerja sekaligus merangsang penelitian baru soal isu dan solusi terkait emisi dan lingkungan,” kata Ryan.

Ryan menyebut, satu dekade terakhir Google berkomitmen membantu lebih dari 500 kota dan pemerintah lokal di dunia, untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 1 gigaton per tahun hingga 2030.

”Kota saat ini menyumpang 70 persen emisi CO2. Di sisi lain, kota bisa menjadi pusat aksi iklim dan memimpin dunia untuk mendukungan pemulihan dan ketahanan,” bebernya.

Peluncuran EIE di NTB dan menjadi yang perdana di Asia Tenggara disambut Ryan dengan antusias. ”Kami percaya EIE menjadi alat penting yang dapat membantu pemerintah, perencana, dan warga mencari solusi untuk mengurangi emisi berbahaya,” tandasnya. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/