alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

Jika Pemerintah Gagal Intervensi, Korona di NTB Mengganas Sampai Agustus

MATARAM-Kasus penularan lokal Covid-19 di NTB terus bertambah. Sementara di sisi lain, seluruh warga NTB juga sedang berpadu cengan waktu. Jika tanpa intervensi memadai dari pemerintah, virus Korona di NTB bisa mengganas hingga Agustus 2020.

Kemarin, satu kasus penularan lokal kembali ditemukan di Kota Mataram. Pasien nomor 109, inisial NI, laki-laki, 72 tahun dinyatakan positif Covid-19 meski tidak pernah ke daerah terjangkit atau kontak dengan pasien positif.

”Ia dirawat di rumah sakit karena sesak, mual, dan muntah,” kata Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi, dalam keterangan persnya, Rabu (22/4) Malam.

Warga Kelurahan Dayan Peken, Kecamatan Ampenan itu kini dirawat di RSUD Mataram dalam kondisi yang terus membaik. Sebelumnya, dua kasus serupa yang tanpa klaster ditemukan di Lombok Barat.

Total tambahan kasus baru, kemarin ada tujuh orang. Dari 62 sampel yang diperiksa, 52 sampel hasilnya negatif, tiga pasien sampel ulangan positif, dan tujuh sampel kasus baru positif Covid-19.

Selain NI, lima pasien baru merupakan pasien klaster Gowa, Sulawesi Selatan, dan satu orang dari klaster Bogor.

Lima orang dari klaster Gowa yakni pasien nomor 110, AK, laki-laki, usia 55 tahun, penduduk Desa Jelantik, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa-Makassar. ”Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Tengah dengan kondisi baik,” kata Gita.

Berikutnya, pasien nomor 111, Tn. SH, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Ia pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Barat dengan kondisi baik.

Pasien nomor 112, an. Tn. R, laki-laki, 30 tahun, penduduk Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Juga pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar.

Dua lainnya juga dari Lombok Barat yakni pasien nomor 114, Tn. MS, laki-laki, usia 36 tahun, penduduk Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan dan pasien nomor 115, Tn. AA, laki-laki, 57 tahun, penduduk Desa Lembah Sembaga, Kecamatan Narmada. ”Kedua pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar,” katanya.

Sementara satu orang klaster Bogor yakni pasien nomor 113, RPL, perempuan, 54 tahun, penduduk Desa Sandik, Kecamatan Batulayar. Ia tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19, tapi punya riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 30. ”Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Patut patuh Patju,” sebutnya.

Dengan adanya tambahan tujuh kasus baru itu, jumlah pasien positif Covid-19 di NTB mencapai 115 orang. ”Sebanyak 11 orang sudah sembuh, empat meninggal dunia, dan 100 orang masih dirawat,” kata ketua pelaksana harian Gugus Tugas NTB itu.

Di sisi lain, tim medis melakukan rapid test terhadap 506 tenaga kesehatan, hasilnya tidak ada yang reaktif. Kemudian 600 ODP/OTG hasilnya 22 orang reaktif, dan 1.299 PPTG perjalanan Gowa Makassar dengan hasil 354 orang  reaktif.

Jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) sudah mencapai 324 orang dengan 193 orang masih dalam pengawasan dan 15 orang PDP meninggal. Untuk orang dalam pemantauan (ODP) jumlahnya 4.610 orang, terdiri dari 879 orang masih dalam pemantauan dan 3.731 orang selesai pemantauan.

Jumlah orang tanpa gejala (OTG) yang kontak dengan pasien positif Covid-19 sebanyak 1.756 orang. Sedangkan pelaku perjalanan tanpa gejala (PPTG) yang pernah ke daerah terjangkit sebanyak 45.020 orang. ”Yang masih menjalani karantina 13.366 orang,” katanya.

 

Adu Cepat

 

Di sisi lain, meningkatnya kasus positif Covid-19 memberi sinyal baik bagi upaya memutus rantai penyebaran virus. ”Covid-19 ini seperti fenomena gunung es, yang muncul di permukaan hanya sebagian kecil dari kasus yang belum diketahui di bawah,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (Unram) dr Hamsu Kadriyan, kemarin (22/4).

Menurutnya, meningkatnya kasus positif Covid-19 di NTB tidak selamanya buruk. Sebab, pemda memiliki kemampuan mendeteksi dan melacak kasus positif lebih banyak lagi. ”Kalau kita tahu di bawah gunung es ini lebih banyak, kita bisa melakukan intervensi yang lebih terukur,” ujarnya.

Mereka yang diketahui positif dan berpotensi terjangkit diisolasi agar tidak menjangkiti orang lain.

Kondisi yang berbahaya terjadi bila peta kasusnya tidak diketahui. Orang yang terinfeksi Covid-19 secara tidak sadar kemudian menularkannya ke orang lain. ”Kondisi ini justru berdampak buruk bagi upaya memutus mata rantai penularan virus,” katanya.

Dengan mengetahui jumlah orang yang terkonfirmasi positif, pemerintah punya peluang melakukan penanganan lebih bagus.

Data-data orang berisiko Covid-19 saat ini sudah dimiliki pemeritah daerah, mulai dari ODP, PDP, OTG dan beberapa istilah lainnya. ”Dari screening ini kita tahu jumlah orang yang reaktif. Dari yang reaktif ini akan dilanjutkan dengan swab yang merupakan metode standar,” lanjutnya.

Dengan demikian dr Hamsu mengimbau warga tidak terlalu panik dengan angka-angka positif yang cenderung meningkat.

Ia menambahkan, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram dan tim ahli sudah melakukan perkiraan atau simulasi dengan metode penyakit menular suceptible, infected, recovery (SIR).

Dengan memperhatikan jumlah kasus positif, pasien yang sudah sembuh, dan jumlah kasus meninggal. Tim dari Fakultas Kedokteran Unram memperkirakan puncak Covid-19 terjadi di bulan Agustus. ”Kalau kita tidak melakukan intervensi dengan baik dan cermat, maka puncaknya betul-betul ketemu di bulan Agustus,” ujarnya.

Tapi jika bisa dicegah, dalam dua bulan atau saat lebaran nanti NTB sudah bebas dari virus Korona. ”Namun Kita harus bekerja sama menuntaskannya,” terangnya.

Dari hasil perhitungan Fakultas Kedokteran Unram dan tim menunjukkan,  jika Covid-19 tanpa mendapat intervensi apapun, bulan Agustus mendatang jumlah kasus Covid-19 diperkirakan mencapai 5.800 lebih kasus.

”Karena itu, mari kita sama-sama mencegah penyakit ini. Jangan takut diperiksa,” imbuhnya.

Salah satu hal yang bisa mempercepat penurunan kasus Covid-19 yaitu dengan mempercepat penemuan kasus. ”Jika tim dapat  menemukan kasus lebih awal maka derajat sakitnya bisa lebih rendah,” jelasnya.  (ili/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Novi dan Dinasti Politik Zulkieflimansyah di Sumbawa

Dewi Noviany membantah keluarganya tengah membangun dinasti politik di NTB. Adik kandung  Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu mengklaim proses pencalonannya telah melalui mekanisme penjaringan parpol yang adil.

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks