alexametrics
Sabtu, 20 Agustus 2022
Sabtu, 20 Agustus 2022

Penyuntikan Vaksin PMK Dimulai Hari Ini, Provinsi NTB Dijatah 2.400 Dosis

MATARAM-Pemprov NTB akhirnya mendapat bantuan vaksin untuk mengatasi penyakit mulut dan kuku (PMK). ”Sudah datang sekitar 2.400 dosis. Datang kemarin Kamis,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Ahmad Nur Aulia, Jumat (24/6).

Aulia menyebut, vaksin PMK yang dialokasikan untuk NTB sebenarnya berjumlah 4.000 dosis. Namun, untuk tahap pertama baru diberikan 2.400 dosis. Yang nantinya harus sudah tuntas disuntikkan paling lama 29 Juni.

”Kami dapat informasi, dari pertemuan melalui Zoom, itu data 5.000 dosis (vaksin untuk NTB). Ya Alhamdulillah kalau memang ditambah,” ujarnya.

Penyuntikan vaksin akan dimulai hari ini. Setelah apel siaga yang akan dipimpin Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah. Disnakkeswan akan memaksimalkan waktu hingga 29 Juni, sebagai target penyuntikan vaksin PMK.

Untuk saat ini, vaksin PMK yang diberikan pemerintah pusat, jumlahnya masih sangat sedikit. Jika dibandingkan dengan jumlah populasi hewan ternak yang rentan terkena PMK.

Dari data Disnakkeswan NTB, jumlah hewan ternak rentan PMK, seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi mencapai 950.551 ekor di Pulau Lombok. Dan sekitar 565 ribu ekor di antaranya merupakan hewan ternak sapi.

Baca Juga :  Pemerintah Optimistis Akhir Tahun PMK Sudah Nol Kasus Baru

Aulia menyadari keterbatasan itu. Sehingga vaksin PMK yang ada saat ini akan dimaksimalkan. ”Idealnya kan semuanya (hewan rentan PMK) divaksin, sementara kami baru dapat 2.400 (dosis), itu akan kami maksimalkan,” tuturnya.

Mengenai distribusi vaksin, Disnakkeswan berencana menggunakan pola persentase, berdasarkan jumlah populasi hewan ternak di Pulau Lombok. Sebagai upaya penanganan darurat peyebaran PMK.

Kata Aulia, ia menyadari jika seluruh kabupaten/kota di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, pasti membutuhkan vaksin PMK. Terutama di wilayah dengan kasus PMK tertinggi, seperti Lombok Timur dan Lombok Tengah.

”Makanya nanti kami diskusikan dulu dengan kabupaten/kota, untuk teknis distribusinya. Kalau dari dinas, ingin gunakan pertimbangan jumlah populasi. Nanti kami tawarkan,” jelas Aulia.

Kabid Kesehatan Hewan di Disnakkeswan NTB drh Muslih, vaksinasi diberikan kepada hewan ternak yang sehat. Sehingga sebelum penyuntikan, dokter hewan akan melihat kondisi sapi. Menentukan apakah layak atau tidak untuk divaksinasi. ”Harus dipastikan sehat. Setelah itu bisa diberikan vaksin,” kata Muslih.

Baca Juga :  Senggigi Butuh Badan Pengelola

Kata Muslih selama pelaksanaan vaksinasi PMK hingga 29 Juni nanti, ada tim medis dan paramedis yang turut mendampingi peternak. Sekaligus memantau efek dari vaksin yang disuntikkan.

Pendampingan dari petugas medis juga diperlukan untuk sosialisasi vaksin PMK. Mengantisipasi ada peternak yang enggan jika hewan ternaknya disuntuk vaksin.

Di Disnakkeswan NTB sendiri terdapat 68 orang yang tergabung di tim medis dan 130 orang paramedis. Jika dibutuhkan, Disnakkeswan akan meminta tambahan personel dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) NTB; Balai Karantina Pertanian; hingga akademisi dari universitas di NTB.

”Petugas kan harus izin juga dari pemilik ternak. Mungkin ada yang tidak mau, itu nanti yang disosialisasikan,” ujarnya.

Menurut Muslih, kesadaran peternak untuk menerima vaksin sangat dibutuhkan di tengah kondisi semakin tingginya kasus PMK di Pulau Lombok. ”Partisipasi peternak juga perlu,” harap Muslih. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/