alexametrics
Sabtu, 26 September 2020
Sabtu, 26 September 2020

Mengolah Kemajemukan sebagai Modal Sosial

MATARAM-Hubungan antar etnis di Kota Mataram terbilang harmonis. Namun kemajemukan juga bisa menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat.

Untuk menghindari hal tersebut Nusatenggara Centre (NC) menggelar diskusi akhir pekan yang mengangkat tema “Keragaman Etnik sebagai Modal Sosial Kota Mataram”, Minggu (24/2). Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Islam Sekarbela dengan mengadirkan beberapa tokoh adat.

“Kita ingin mencoba mendiskusikan bagaimana agar keragaman etnik tidak menjadi potensi disharmonisasi masyarakat, melainkan mampu menjadi modal sosial bagi kemajuan Kota Mataram,” ucap Kadri selaku Direktur NC dalam sambutannya.

Diskusi itu menghadirkan Mamiq Ari dari Majelis Adat Sasak; Subhan Abdullah yang merupakan ketua Ikatan Keluarga Sumbawa; dan Muhamad Natsir, ketua Kerukunan Adat Bima sebagai pembicara. Peserta diskusi juga diikuti oleh perwakilan masing-masing etnis di NTB. Setiap narasumber menyampaikan sesuai dengan perspektif sukunya masing-masing.

“Kita kesulitan mencari data secara kuantitatif jumlah orang Sasak,” ujar Mamiq Ari mengawali diskusi.

Dia mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) dulu tidak menghendaki pendataan menurut suku bangsa karena dianggap berpotensi mengancam ketahanan bangsa. Ari menyayangkan kekuatan ekonomi masyarakat Sasak sebagai mayoritas di Mataram terbilang lemah. Ini disebabkan kultur wirausaha lebih dominan dimiliki oleh etnis-etnis pendatang, seperti Jawa, Bali, dan Tionghoa dibandingkan masyarakat Sasak sendiri.

Dalam penyampaiannya, Subhan banyak bercerita tentang sejarah etnis Sumbawa. “Dulu masyarakat di Sumbawa diklasifikasikan menjadi tiga kelas, strata pertama bagi keturunan raja, strata kedua untuk masyarakat merdeka, dan strata terakhir adalah para budak/pembantu,” tuturnya.

Dia mengatakan, karakter orang Sumbawa lebih cenderung individualis dalam berusaha. Keberagaman merupakan fitrah Tuhan yang tak mampu dielakkan, dan hal itu memang bukan untuk dihindari melainkan disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karena itu pendidikan multikultural harus selalu didengungkan.

Materi terakhir disampaikan oleh Natsir. Wakil rektor Universitas Mataram tersebut terpilih sebagai ketua kerukunan Bima secara aklamasi pada tahun 2015. “Jumlah warga Bima di Lombok berkisar tiga puluh ribu orang,” ungkapnya.

Natsir menjelaskan toleransi itu bukan sekadar saling menghargai, melainkan sebuah keberterimaan dalam diri individu untuk membiarkan sesuatu berjalan pada garisnya.

Hadir juga Didi Sumardi, Ketua DPRD Kota Mataram. Didi menilai hidup membutuhkan instrumen yang dinamis. Justru jika statis sulit untuk maju.

Menurutnya, suasana kebatinan orang dulu dan sekarang sangat berbeda. Masyarakat sekarang lebih terbuka, elegan, dan toleran. Sebab itulah frekuensi konflik sosial kini sangat minim. (ida/r7/*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Penataan Kawasan Wisata Senggigi Dimulai

Penataan kawasan wisata Senggigi direalisasikan Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat (Lobar). Sayang, dari tujuh proyek dalam perencanaan, hanya lima yang bisa dieksekusi.

LPPOM MUI NTB Target Sertifikasi Halal 125 Usaha Rampung Tahun Ini

”Rinciannya, dari Dinas Perindustrian NTB dan pusat sebanyak 75 usaha, serta Dinas Koperasi Lombok Barat sebanyak 50 usaha,” katanya, kepada Lombok Post, Rabu (23/9/2020).

Solusi BDR Daring, Sekolah Diminta Maksimalkan Peran Guru BK

Jika terkendala akses dan jaringan internet, layanan dilaksanakan dengan pola guru kunjung atau home visit. ”Di sanalah mereka akan bertemu dengan siswa, orang tua, keluarga. Apa permasalahan yang dihadapi, kemudiann dibantu memecahkan masalah,” pungkas Sugeng.

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Dua Sopir Bupati Lotim pun Positif Tertular Covid-19

PELACAKAN kontak erat Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy yang positif terinfeksi Covid-19 masih terus dilakukan. Hingga kemarin, dari kontak erat yang telah menjalani uji usap atau swab, dua orang sopir Bupati Sukiman telah dipastikan positif Covid-19.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks