alexametrics
Minggu, 12 Juli 2020
Minggu, 12 Juli 2020

Desa Sekotong Barat Melawan Covid 19 : Kedepankan Pencegahan Korona di Destinasi Wisata

Masa transisi new normal acap dianggap sebagai kondisi normal. Akibatnya, masyarakat abai pada protokoler kesehatan Covid-19. Namun, hal itu tidak berlaku di Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Pengelola tetap membuka destinasi wisata. Tapi dengan menjaganya terbebas dari virus Korona.

——————————-

 

MUNGKIN sebagian orang beranggapan jika semakin pinggirian suatu wilayah, penerapan protokoler kesehatan pencegahan Covid-19 akan diabaikan. Khususnya yang ada di desa-desa yang jauh dari perkotaan. Anggapan tersebut terbantahkan. Buktinya, sejumlah desa di wilayah Kecamatan Sekotong begitu patuh menerapkan protokoler kesehatan. Khususnya di tempat wisata.

Di Desa Sekotong Barat misalnya. Sejumlah gili yang ada di desa ini menerapkan aturan ketat pencegahan penularan Covid-19 di kawasan wisata. Mulai dari Gili Nanggu, Gili Sudak, hingga Gili Kedis. Tanpa protokoler Covid-19, wisatawan tak boleh mendatangi tempat ini.

Dengan protokol kesehatan tersebut, maka destinasi wisata di sana pun sudah membuka diri. Menerima wisatawan. Domestik terutama. Sehingga desa-desa pun punya dua nilai tambah. Kesehatan tetap terjaga, sementara ekonomi juga tetap berdenyut.

Di setiap pintu dermaga menuju gili yang ada di Sekotong Barat, petugas berjaga ketat. Salah satunya di Dermaga Tawun. Mulai dari petugas Dinas Perhubungan yang ada di Pelabuhan, Bhabinkamtibmas, Bhabinsa, hingga masyarakat pelaku wisata ikut terlibat. Semua pengunjung yang hendak menyeberang dengan tujuan beberapa gili yang ada di Desa Sekotong Barat harus mengikuti protokoler kesehatan.

“Kami sudah sepakat untuk menerapkan aturan ini. Tidak berani kami langgar,” jelas Hendra, salah seorang pemilik perahu yang akan menyeberangkan wisatawan ke sejumlah gili di desa tersebut.

Wisatawan yang datang dicek kelengkapan maskernya. Jika tidak memakai masker, mereka tak akan dilayani. Pengunjung terlebih dulu diminta membeli masker dari warung atau retail modern terdekat. Setelah menggunakan masker, baru mereka dilayani membeli tiket penyeberangan.

Biaya tiket penyeberangan ke Gili Nanggu Rp 250 ribu orang. Untuk touring ke tiga gili yakni Nanggu, Kedis dan Sudak ada tambahan biaya Rp 10 ribu. Sehingga total harga tiket Rp 260 ribu per perahu. Tiga gili itu lokasinya memang berdekatan.

Karena Covid-19, perahu yang normalnya bisa mengangkut sepuluh penumpang, kini hanya boleh angkut separo penumpang. Agar penumpang tetap menjaga jarak dalam perahu.

Di setiap tempat pusat keramaian juga diberlakukan hal yang sama. Baik di pasar maupun tempat ibadah. “Kami sudah sosialisasi untuk itu,” kata Camat Sekotong Lalu Pardita Utama pada Lombok Post.

Pemerintah kecamatan dan desa juga mengumpulkan semua pelaku wisata. Di setiap pantai dan gili yang banyak dikunjungi wisatawan, wajib menyiapkan sarana cuci tangan. Hal itu sudah sepakati. Penyemprotan cairan disinfektan juga dilakukan berkala.

Wisatawan yang hendak menginap pun, mereka harus dilengkapi dengan surat keterangan hasil rapid test atau keterangan sehat dari fasilitas kesehatan. Baik Puskesmas maupun rumah sakit. Pengelola penginapan dikatakannya tak ingin mengambil risiko membiarkan wisatawan menginap tanpa memastikan mereka bebas Covid-19.

Atas kiprah mereka menjaga dan mensterilisasi destinasi wisata dari virus Korona itu, kini, tiga desa di Kecamatan Sekotong pun sudah ditunjuk Polres Lobar untuk mengikuti Lomba Kampung Sehat yang digelar Polda NTB. Selain Sekotong Barat, dua desa lainnya adalah Desa Cendi Manik dan Sekotong Tengah.

Pekan lalu, Lomba Kampung Sehat pun telah dilaunching di Desa Sekotong Tengah oleh Wakil Bupati Lombok Barat Hj Sumiatun dan Kapolres Lombok Barat AKBP Bagus Satriyo Wibowo.

“Lomba Kampung Sehat ini akan mampu mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik,” kata Kapolres.(ton/r6)

Lawan Pandemi, Jaga Destinasi

  • Menjaga dan mensterilkan destinasi wisata tiga gili di Kecamatan Sekotong dari virus Korona.
  • Tak pakai masker, wisatawan tak akan dilayani fasilitas penyeberangan.
  • Kapasitas perahu penyeberangan maksimal 50 persen dari kursi tersedia.
  • Begitu tiba di destinasi wisata, wisatawan wajib mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Destinasi wisata disemprot disinfektan secara berkala.
  • Di pusat-pusat keramaian, wisatawan wajib menjaga jarak. Ada petugas khusus yang memantau hal ini.
  • Wisatawan yang akan menginap wajib membawa surat keterangan negatif Covid-19.

 

Sumber: Diolah Lombok Post

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dewan Mataram Sorot Kualitas Makanan untuk Pasien Korona

Pansus pengawasan covid DPRD Kota Mataram mengkritisi penanganan pasien di Wisma Nusantara (Wisnu). ”Pas kunjungan ke sana, kita tanyakan beberapa hal. Salah satunya soal makanan,” kata Ketua Pansus Abdurrachman,

Ke Praya Tak Pakai Masker, Siap-siap Dihukum Push Up

Menurunnya kesadaran warga menggunakan masker membuat jajaran Polres Lombok Tengah menggelar razia. “Kami sasar pasar-pasar dan pusat pertokoan di wilayah Praya,” kata Kasatnarkoba Polres Loteng Iptu Hizkia Siagian, Jumat (10/7).

JPS Gemilang III Segera Disalurkan, Mudah-mudahan Tepat Sasaran

antuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang tahap III segera disalurkan. Gubernur NTB H Zulkieflimansyah meminta penyaluran JPS yang terakhir ini dilakukan tanpa cela.

Pemerintah Janji Bantu UMKM NTB Terdampak Korona, Ini Syaratnya

encairan bantuan Rp 800 triliun bagi UMKM dan IKM masih menunggu petujuk pemerintah pusat. ”Kita tunggu petunjuk teknisnya dari kementerian koperasi UKM,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB Wirajaya Kusuma, Jumat (10/7

Kompak Lawan Korona, Kelurahan Cakra Timur Bertahan di Zona Hijau

Kelurahan Cakranegara Timur patut dicontoh. Saat keluarahan lain di Kota Mataram zona merah Covid-19, justru Cakra Timur berada pada zona hijau. Strategi para pemimpin di wilayah ini membuat virus Korona tak berani mendekat. Apa resepnya?

Berkurban di Masa Korona, Ini Fatwa MUI

Jumat (10/7) malam Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terbaru bernomor 36/2020 tentang salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. MUI di antaranya meminta kegiatan penyembelihan tidak tekonsentrasi pada saat Idul Adha saja.

Paling Sering Dibaca

Diserang Penjahat, Perwira Polisi di Sumbawa Meninggal Dunia

IPDA Uji Siswanto, Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsek Utan, Sumbawa gugur dalam bertugas. Ayah tiga anak ini diserang oleh seorang terlapor berinisial RH alias Bim kasus pengancaman. Korban diserang, setelah mendamaikan warga dengan terduga pelaku.

Duka di Lombok Utara, Suami Tewas Tergantung, Istri Tergeletak di Ranjang

Warga Dusun Sumur Jiri, Desa Santong Mulia, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, geger. Pasangan suami istri (pasutri) berinisial S, 25 tahun dan R, 20 tahun ditemukan tewas di dalam rumahnya, Minggu malam (5/7).

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Pakai Narkoba, Satu Anggota Polisi Ditangkap di Mataram

Tim Subdit II Ditresnarkoba Polda NTB menangkap jaringan narkoba di salah satu hotel di mataram dua pekan lalu. Sebanyak empat orang berinsial E, LA, AD, dan SL. “E adalah polisi aktif, LA dan AD pecatan polisi, SL warga sipil,” kata Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, kemarin (10/7).

PKS Berpeluang Kocok Ulang Figur di Pilbup Lombok Tengah

Peta kekuatan politik Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) di Lombok Tengah (Loteng) tampak berimbang. Ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan PKS bekerja sama dengan Olat Maras Institute (OMI).
Enable Notifications.    Ok No thanks