alexametrics
Selasa, 11 Agustus 2020
Selasa, 11 Agustus 2020

Ini Dia Benih Kuripan, Bibit Unggulan dari Desa Kuripan

Pandemi Covid-19 tak membuat stabilitas pangan di Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat, goyah. Sebaliknya, Desa Kuripan mampu menjadi penyuplai benih tanaman hortikultara. Juga meningkatkan kreativitas warganya untuk memanfaatkan limpah sampah plastik.

————

 

DI DESA yang berbatasan dengan Kabupaten Lombok Tengah ini, para petaninya tak pernah pusing soal kebutuhan benih. Di setiap musim tanam, benih-benih itu diproduksi sendiri. Menggunakan cara pertanian modern pula.

”Kita pakai hidroponik. Ada juga yang organik,” kata Kades Kuripan Hasbi.

Benih-benih ini dikenal dengan nama Benih Kuripan. Ditumbuhkembangkan di semacam green house. Difokuskan untuk tanaman sayuran. Seperti cabai, mentimun, bayam, sawi, hingga selada. ”Tidak perlu membeli bibit pabrikan. Ini hasilnya lebih-lebih benih unggulan,” ujarnya.

Soal Benih Kuripan ini, disebut Hasbi sudah terkenal di kalangan petani. Bukan saja dimanfaatkan untuk petani di Desa Kuripan dan sejumlah daerah di Lobar. Benih Kuripan bahkan sampai dijual untuk petani-petani di wilayah Lombok Timur. Penjualannya secara daring. Melalui platform media sosial.

Benih Kuripan sudah teruji keunggulannya. Ini pula yang menjadi sebab, banyak petani dari luar Lobar mengambil Benih Kuripan. Kata Hasbi, benih ini tinggal ditanam dan dirawat saja. Hingga besar dan panen.

”Jadi tidak ada istilah petani ini susah cari benih. Apalagi sampai cerita gagal panen,” tuturnya.

Pembenihan dilakukan di Dusun Karang Rumah dan Dusun Monto. Tetapi, untuk cara tanam modern, dilakukan di sembilan dusun di Desa Kuripan. Warga memanfaatkan pekarangan mereka untuk bercocok tanam.

Hasbi menyebut, tidak semua warga berprofesi sebagai petani. Apalagi memiliki sawah berpetak-petak. Karena itu, penerapan pertanian modern, dengan memanfaatkan lahan sempit, dilakukan sebagian warga.

”Ini bagian dari ketahanan pangan kita. Benihnya kan sudah ada di desa, jadi tinggal beli saja terus tanam di rumah,” kata Hasbi.

Usaha pembenihan berdampak ekonomi untuk masyarakat. Beberapa masyarakat dipekerjakan untuk mengurus benih. Dengan upah per orangnya mencapai Rp 400 ribu. Dibayarkan setiap minggu.

Di green house, ketersediaan benih setiap harinya mencapai angka 2.000. ”Dijualnya per satu tempat benih itu, mungkin isinya 50 bibit. Kalau harganya bisa sampai Rp 75 ribu,” ujarnya.

Potensi gagal panen yang bisa diminimalisasi hingga ketersediaan bibit, membuat petani dan masyarakat sibuk. Mereka aktif berkegiatan. Tentunya dengan tetap mematuhi protokol pencegahan covid.

”Malah bisa jadi obat kan kalau di sawah terus. Kena matahari, berkeringat,” katanya.

 

Satgas Khusus

 

Hasbi mengatakan, Pemdes Kuripan tetap concern terhadap pandemi. Dari awal mereka sudah membentuk satgas khusus untuk penanganan Covid. Lebih dulu jika dibandingkan dengan satgas yang dibentuk pemkab.

Keberadaan satgas berdampak signifikan. Ketika awal pandemi hingga tiga bulan setelahnya, tak ada kasus positif Covid. Kasus pertama justru muncul di masa transisi new normal. ”Total sampai sekarang kita ada empat orang positif. Tapi, yang dua orang itu tidak di sini tinggalnya. Mereka hanya KTP Desa Kuripan saja,” jelas Hasbi.

Bagi sebagian orang, pandemi membatasi pergerakan. Membuat lesu pereknomian. Tapi, ini tidak berlaku di Desa Kuripan. Sebanyak 14 UKM mereka mulai menggeliat. Memproduksi barang seni dengan nilai ekonomis. Hasil kreasi tangan ibu-ibu dan pemudanya.

Barang-barang ini kebanyakan dibuat dari sampah plastik. Juga kayu dan batok kelapa. Hasbi mengatakan, sampah plastik diubah menjadi bunga hias. Dijual di kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 55 ribu.

”Di masa Covid ini kan mereka banyak mengisi waktu di rumah. Nah, di sana itu kretivitasnya muncul. Makanya sekarang terus kita genjot,” tutur Hasbi.

Pemanfaatan sampah plastik tidak saja untuk barang-barang seni. Pemdes Kuripan sudah memikirkan langkah progresif lainnya. Menukar sampah plastik dengan beras.

Di setiap dusun akan didirikan bank sampah. Sekarang ini, bank sampah baru ada di satu dusun saja, di Karang Rumah. Delapan dusun lainnya masih berproses. Bank sampah nanti akan bekerja dengan BUMDes.

”Tiga kilogram sampah plastik, bisa ditukar dengan satu kilogram beras. Jadi masyarakat juga ikut terlibat untuk menciptakan kampung sehat,” tandas Hasbi. (dit/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kapal Tenggelam di Tarakan, Satu Polisi Asal Lombok Tengah Meninggal

Kabar duka datang dari Ditpolairud Polda NTB. Satu anggotanya yang sedang bawah kendali operasi (BKO) di Ditpolairud Polda Kalimantan Utara (Kaltara) meninggal dunia.

Penjualan Mobil Toyota di NTB Masih Stagnan, Avanza Paling Diminati

”Dibanding saat kondisi normal, penjualan mobil baru pulih di angka 40-50 persennya saja. Kondisi ini bisa dibilang masih jauh dari situasi penjualan saat normal dulu,” kata Kepala Cabang Krida Toyota NTB Samsuri Prawiro Hakki, kepada Lombok Post, Senin (10/8/2020).

Data Kemiskinan NTB Belepotan, Verifikasi dan Validasi Sangat Lambat

Verifikasi dan validasi data kemiskinan atau data terpadu kesejahteraan sosial (DTSK) di NTB rupanya masih lambat. Hingga kemarin, baru lima daerah yang melaporkan hasil verifikasi dan validasi DTSK tersebut. Dari lima daerah itu, progres tiga daerah belum sampai 50 persen.

Kurikulum Darurat, Materi Belajar Siswa Dipangkas Hingga 70 Persen

LAMA DINANTI, Kurikulum darurat secara resmi telah diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pada kurikulum ini, banyak materi yang dipangkas bahkan lebih dari separo.

Lale Sileng, Figur Pemimpin Perempuan Kaya Pengalaman Birokrasi

Kenyang pengalaman di dunia birokrasi, Hj Lale Prayatni punya modal mumpuni untuk memimpin daerah. Urusan mengelola birokrasi, anggaran, hingga perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, sudah lekat dengan kesehariannya. ”Sudah khatam saya soal itu,” kata Prayatni.

Harga Emas Naik, Aktivitas Pegadaian di Mataram Ikut Melonjak

Kondisi ini membuat jumlah penggadai yang mendatangi PT Pegadaian (Persero) terus bertambah. ”Dalam sehari, cabang atau unit besar yang ada di Mataram, biasa melayani lebih dari 50 orang nasabah. Kalau unit kecil sekitar 30-40 saja,” kata Suciati Triastuti, Asisten Manager Pegadaian Kota Mataram kepada Lombok Post, Senin (10/8/2020).

Paling Sering Dibaca

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Cucu Bupati Pertama Loteng Siap Mengabdi untuk Lombok Tengah

Menjadi satu-satu sosok perempuan, Hj Lale Prayatni percaya diri maju menjadi calon bupati Lombok Tengah. Birokrat perempuan ini ingin membawa perubahan bagi Lombok Tengah ke arah lebih baik. ”Saya terpanggil untuk mengabdi di kampung halaman saya,” kata Hj Lale Prayatni, Minggu (9/8).

Digerebek Polisi, Doyok dan Tutik Gagal Nyabu di Karang Bagu

Terduga pengedar sabu berinisial H alias Doyok ditangkap tim khusus (Timsus) Ditresnarkoba Polda NTB. Dia diringkus bersama seorang perempuan berinisial HT alias Tutik, Jumat sore (7/8) lalu.

Lale Sileng Pilih Yusuf Saleh Sebagai Wakil di Pilbup Loteng

Lale Prayatni memutuskan untuk menggandeng HM Yusuf Saleh. “Ya,” kata Lale singkat saat dihubungi, Minggu (9/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks