alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Ciptakan Enterpreneur, NTB Dipilih Jadi Pilot Project New PLUT

PLUT Jangan sampai Jadi Sarang Burung!

MATARAM-Provinsi NTB, bersama Lampung dan Bali menjadi pilot project New PLUT (Pusat Layanan Usaha Terbaru), yang digagas Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Teten Masduki. ”Supaya usaha mikro kita bisa naik kelas, menjadi menengah dan besar,” kata Teten di Mataram, kemarin (27/1).

Teten ingin PLUT sebagai center of excellent bagi UMKM. Coworking space atau ruang kerja bersama untuk anak-anak muda kreatif yang menjadi entrepreneur. ”Jangan justru jadi sarang burung walet. Kegiatan kosong, karena tidak tenaga konsultan, tenaga desainer,” ujarnya.

PLUT tidak boleh hanya sebagai tempat untuk mengkurasi produk, memperbaiki packaging maupun branding. Harus bisa melakukan pendampingan. Sebagai lokasi konsultasi bagi pelaku usaha yang kesulitan menjalankan bisnisnya.

Ia mengatakan, kebanyakan UMKM tidak memiliki rencana bisnis. Sehingga menyebabkan kesulitan untuk pengembangan usahanya. Hingga sulit menarik investor maupun perbankan.

Dengan New PLUT, Teten ingin mengubah pendekatan untuk UMKM, yang selama ini dilakukan BUMN. Ia menilai BUMN gagal membuat UMKM naik kelas. Puluhan tahun struktur ekonomi Indonesia didominasi usaha mikro, hingga 99,6 persen, yang omzetnya berada di bawah Rp 2 miliar.

Baca Juga :  Semua Pejabat Pemprov NTB Sudah Lapor LHKPN, Ini Harta Gubernur dan Wagub

Melalui PLUT, tidak ada lagi pelatihan, yang dijalankan hanya untuk memenuhi formalitas maupun program dari OPD. Pendekatannya diubah dengan inkubasi bisnis, bekerjasama dengan pihak kampus dan swasta. Mana UMKM yang memiliki potensi pasar kuat, akan didampingi untuk menjadi semakin besar.

”Supaya ada efek juga untuk eskpor kita. Yang subsistem, untuk kebutuhan harian, itu low touch saja,” sebut Teten.

PLUT di NTB, yang berada di bawah Dinas KUKM NTB, harus mulai mendampingi anak-anak muda berpendidikan, yang memiliki usaha. Konsep coworking space harus dipraktikkan dan diwujudkan.

”PLUT harus jadi tempat nongkrong yang enak. Dinamis, hidup, menjadi inspirasi UMKM untuk berkembang. Tempat bertemunya orang kreatif,” jelasnya.

Agar keberadaan PLUT bisa dirasakan UMKM, Teten meminta pengelolaannya dilakukan profesional. Harus ada tenaga konsultasi, yang benar-benar mengerti luar dalam dunia bisnis.

”Soal ini, PLUT harus ada anggaran untuk menghire profesional. Atau lakukan kolaborasi,” sebut Teten.

Baca Juga :  Mendagri Minta Pemprov NTB Lakukan Tes Acak Covid di Pelabuhan

Apa yang diprogramkan Teten untuk PLUT di NTB harus direspons cepat Pemprov. Apalagi dalam pertemuan kemarin, PLUT rupanya minim SDM. Hanya ada tujuh orang yang bekerja untuk melakukan pendampingan hingga pembinaan untuk seluruh UMKM di NTB.

Kepala Dinas KUKM NTB Ahmad Masyhuri mengatakan, redesign PLUT akan dilakukan. Memperbaiki apa-apa yang menjadi kekurangan. ”Sekarang kita reparasi. Yang bingung dengan gaji, semua kita perbaiki,” katanya.

Perubahan tersebut diharapkan bisa membuat PLUT lebih berkembang. Menjadi semacam klinik untuk UMKM. ”Nanti akan ada business matching hingga forum bisnis juga. Yang pasti pendampingan penuh akan dilakukan,” janji Masyhuri.

NTB sebenarnya sudah memiliki model program seperti apa yang digagas Teten melalui PLUT. Yakni inkubasi bisnis di STIPark Banyumulek. Namun, kata Masyhuri, apa yang ada di STIPark dengan PLUT, akan berbeda. Sehingga keduanya bisa tetap melakukan kolaborasi dan saling menopang.

”Kalau STIPark lebih kepada memunculkan produk baru yang sifatnya ke industri,” tandasnya. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/