alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

New Normal, Kesempatan Emas NTB Kembangkan Wisata Alam

MATARAM—Pemerintah memperkirakan akan terjadi perubahan perilaku wisatawan pada masa adaptasi kebiasaan baru new normal di tengah pandemi Covid-19. Wisatawan akan cenderung menghindari tempat wisata keramaian.

Maka dari itu, obyek wisata alam diperkirakan akan menjadi pilihan utama di era adaptasi kebiasaan baru saat ini. Asisten Deputi Infrastruktur Pengembangan Wilayah, Kedeputian Bidang Infrastruktur dan Transportasi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Djoko Hartoyo mengatakan, pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terpukul akibat covid-19.

Penerapan kebijakan physical distancing memengaruhi kebiasaan berwisata masyarakat. Sehingga wisatawan akan berhati-hati dan lebih menghindari tempat wisata yang ramai. “Tempat wisata outdoor dan wisata alam (adventure) diperkirakan akan segera booming setelah pandemi Korona berakhir,” jelasnya kemarin (26/6)

Selain itu, Djoko memprediksi wisatawan akan lebih memilih melakukan perjalanan jarak dekat atau dengan waktu tempuh yang singkat. Karenanya jumlah wisatawan domestik akan meningkat. Dari segi usia, wisatawan yang berusia muda atau millenial traveler akan melakukan perjalanan wisata terlebih dahulu.

Karenanya, Djoko mengatakan, industri pariwisata nasional harus bersiap dan berbenah diri menyongsong tren perubahan di sektor pariwisata paska covid-19 ini. Di antaranya menerapkan protokol kesehatan secara ketat di destinasi-destinasi wisata.

“Para pelaku di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif perlu mengubah pendekatan dan strategi pemasaran dan kegiatan pariwisata. Seperti menerapkan protokol pesehatan, mematuhi protokol transportasi dan keamanan, hingga meningkatkan kebersihan di area wisata,” kata Asdep Djoko.

Menghadapi new normal, Asdep Djoko mendorong agar para pelaku di sektor wisata melakukan strategi promosi yang berbeda. Seperti menawarkan paket wisata baru dengan menonjolkan local content melibatkan komunitas dan dinas pariwisata, menjual tiket secara online, hingga meningkatkan infrastruktur digital dan menguatkan SDM.

Sejalan dengan itu, lanjut Djoko, pemerintah juga berencana akan memperluas stimulus konsumsi untuk kelas menengah ke atas. Stimulus tersebut di antaranya akan dikucurkan dalam bentuk bantuan langsung bagi para pekerja pariwisata yang terdampak, diskon tiket pesawat ke destinasi wisata serta insentif pajak hotel atau restoran.

Alokasi anggaran yang telah disiapkan adalah sekitar Rp 3,8 triliun. Ada juga penguatan dukungan sektor pariwisata seperti voucher makanan secara online dengan alokasi anggaran hingga Rp. 25 triliun. “Perluasan ini dilakukan paling lambat pada kuartal III-2020 setelah ekonomi pulih dari pandemi,” ucapnya.

 

Aman di Zona Kuning

 

Sementara itu, kawasan wisata alam dan konservasi di NTB tergolong zona kuning atau risiko rendah penularan Covid-19. Sehingga disebut sudah aman dibuka bagi para wisatawan.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Nasional Prof Wiku Adisasmito, dalam rapat pembukaan sektor pariwisata secara terbatas, melalui telekonferensi bersama Kemenko Polhukam Mahfud MD, kemarin (26/6). Sekda NTB HL Gita Ariadi mengikuti teleconferensi tersebut.

Prof Wiku menyebut beberapa contoh kawasan wisata di NTB. Taman nasional dan wisata alam NTB yang masuk zona kuning yakni Gunung Rinjani dan Gunung Tambora. Sedangan kawasan konservasi perairan daerah (KKPD) meliputi KKPD Pulau Keramat, Bedil Temudog, Sumbawa, KKPD Pesisir Penyu Luyuk Sumbawa, KKPD Balu dan Tatar Sepang, Sumbawa Barat, dan KKPD Gili Banta Bima.

Sedangkan kawasan konservasi yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meliputi Pulau Moyo dan TWA Pulau Satonda. ”Kategori zona ini akan selalu diupdate seminggu sekali. NTB harus mempersiapkan diri sebaik mungkin,” kata Sekda HL Gita Ariadi.

Dalam rapat itu, Menko Polhukam Mahfud memaparkan, dibukanya sektor pariwisata secara terbatas merupakan simbol perubahan menuju tatanan hidup baru di Indonesia.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pemerintah memutuskan upaya melawan covid-19 bersamaan dengan upaya mengerakkan roda perekonomian. ”Meski ekonomi kembali digerakkan namun upaya melawan Covid-19 harus tetap dijalankan,” katanya.

Setiap daerah punya cara sendiri sesuai sumber daya masing-masing untuk memulihkan perekonomian. Sedangkan untuk melawan Covid-19 protokol kesehatannya sama. Sehingga masyarakat diminta tidak panik dan tetap displin.

”Kepanikan adalah separuh dari penyakit, sedangkan ketenangan itu adalah separuh dari obat, dan kesabaran adalah pintu menuju kesembuhan. Itu rumus bapak kedokteran Ibnu Sina,” jelas Mahfud.

 

Minim Risiko

 

Sementara itu, Wakil Menparekraf Angela Tanoesoedibjo dalam telekonferensi itu mengatakan, risiko wisata alam relatif rendah, namun sebelum pembukaan seluruh pihak harus meninjau bagaimana penanganan kasus Covid-19 di daerah tersebut. ”Apakah daerah tersebut cukup kondusif dan bagaimana kesiapan masyarakat menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya.

Jangan sampai, ketika daerah tidak siap tapi sudah membuka kawasan wisata, justru bisa meningkatkan kasus. Dampaknya pariwisata ditutup kembali dan kehilangan kepercayaan. ”Kalau kita tidak hati-hati maka dampaknya akan lebih buruk lagi bagi sektor pariwisata,” pesannya.

Terpisah, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady menjelaskan, hari ini mereka rencananya akan melakukan sosialisasi rencana pembukaan pendakian di Sembalun, Lombok Timur.

Sesuai jadwal, tanggal 27 Juni hingga 6 Juli mereka akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Pengumuman dan pembukaan destinasi wisata 7 Juli. ”Tahapannya kan besok (hari ini) sosialisasi, edukasi dan simulasi sampai tanggal 6 Juli,” katanya.

Pembukaan dilakukan setelah keluarnya keputusan Dirjen KSDAE, gubernur NTB, bupati Lombok Timur, Lombok Tengah, dan bupati Lombok Utara. ”Waktu bisa berubah atau masih tentatif,” jelasnya.

Penyiapan destinasi wisata sendiri sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Mereka juga sudah membuatkan SOP pendakian yang disepakati dengan banyak pihak.

Berdasarkan peta penularan yang dirilis Tim Gugus Tugas NTB, Pulau Sumbawa sudah kuning dengan Kota Bima zona hijau. Sedangkan di Pulau Lombok, Kota Mataram dan Lombok Barat masih zona merah atau risiko penularan tinggi. Lombok Timur dan Lombok Tengah masih orange atau risiko sedang, dan Lombok Utara zona kuning atau risiko rendah.

Meski demikian, hingga 25 Juni, jumlah kasus Covid-19 di NTB sudah mencapai 1.163 orang, dengan perincian 785 orang sudah sembuh, 52 orang meninggal dunia, serta 326 orang masih dirawat. Kemarin, tambahan 21 orang kasus baru terkonfirmasi positif, lima sembuh baru, dan satu kasus kematian baru. (ili/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mataram Bisa Tiru Depok, Tak Pakai Masker Denda Rp 200 Ribu

Pemkot Mataram merespons kritikan Wakil Gubernur NTB. Kemarin, tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, dan Polri melakukan penertiban di pagi buta. Sasarannya, para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan.

Kuliah ke Luar Daerah, Warga Mataram Harus Bebas Korona

Warga Kota Mataram yang kuliah di luar daerah cukup banyak. Kemarin kata dia, sekitar 50 mahasiswa mengajukan permintaan melakukan rapid test. Dari jumlah tersebut tidak ada yang hasilnya reaktif.

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Di Kediri Lobar, Ibu Rumah Tangga Diduga Jual Narkoba

WM, 28 tahun, warga asal Kediri Selatan ditangkap Satres Narkoba Polres Lobar. Ia bersama kedua rekannya MA dan MU diduga menjadi penjual dan penyalahguna narkotika jenis sabu. Bahkan, WM alias Dewi ini diketahui sebagai penjual obat penenang tanpa izin pihak instansi kesehatan.

Pariwisata Lesu, Pengusaha Travel Lombok Bertahan lewat Promo

Agen travel perjalanan wisata terus berupaya bertahan dalam ketidakpastian Pandemi Korona. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak akibat turunnya kunjungan wisatawan. ”Kami upayakan tetap bangkit seiring dengan penerapan new normal yang sedang digaungkan,” kata Kukuh Laro, pemilik Duta Lombok Transport.

Berdayakan UMKM Lokal, Bappeda NTB Tunggu Pergub

Pergub Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga kini belum rampung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB masih menunggu kelanjutan masukan dan revisi dari gubernur. ”Sampai hari ini (kemarin,Red) kita belum terima. Jika sudah ada, akan langsung kita jadikan landasan dalam memberdayakan UKM/IKM,” kata Kepala Bappeda NTB Amry Rakhman, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks